Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Agama (Kemenag) terus memperkuat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan madrasah dan pesantren. Upaya ini dilakukan lewat koordinasi lintas unit agar program berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno menegaskan bahwa penguatan regulasi menjadi fondasi utama. Menurutnya, payung hukum yang lebih komprehensif sangat dibutuhkan agar program MBG tidak berjalan setengah-setengah.
"Regulasi harus diperkuat. Draft KMA yang tengah disusun harus mampu mengakomodasi seluruh ekosistem MBG di Kemenag," kata Amien, Kamis (2/4).
Tak hanya soal aturan, Kemenag juga ingin mengambil posisi strategis dalam memastikan kualitas layanan. Standar higienitas, keamanan pangan, hingga percepatan distribusi menjadi fokus utama, terutama karena masih banyak madrasah dan pesantren yang belum tersentuh program ini.
Di sisi lain, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menekankan pentingnya tata kelola yang rapi dan adaptif. Ia menyoroti perlunya sistem distribusi yang terjadwal, lengkap dengan SOP darurat dan mitigasi risiko. "Digitalisasi jadi kunci. Mulai dari monitoring, layanan, sampai pengelolaan aduan harus terintegrasi," jelasnya.
Arskal juga menambahkan bahwa edukasi kepada siswa tak kalah penting, termasuk pemanfaatan bahan pangan lokal yang aman. Selain menjaga kualitas gizi, langkah ini juga mendorong perputaran ekonomi di daerah.
Sementara itu, Direktur Pesantren, Basnang Said, melihat program ini sebagai peluang besar bagi kemandirian pesantren. Ia menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar penerima manfaat, tetapi juga aktor utama dalam ekosistem MBG.
"Supplier diutamakan dari pesantren atau afiliasinya. Bahkan pembangunan dapur MBG harus berada di lingkungan pesantren," tegasnya.
Lebih lanjut, program ini dinilai mampu menggerakkan sektor ekonomi pesantren, mulai dari perikanan, peternakan, hingga perkebunan. Kolaborasi dengan koperasi dan perguruan tinggi pun didorong untuk memperkuat fondasi ekosistem tersebut.
Untuk memastikan program berjalan optimal, Kemenag juga memperkuat sistem monitoring dan evaluasi dari pusat hingga daerah. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kualitas pelaksanaan sekaligus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para santri dan siswa madrasah.
Dengan kombinasi regulasi yang kuat, tata kelola modern, dan kolaborasi lintas sektor, Kemenag optimistis program Makan Bergizi Gratis bisa menjadi game changer dalam meningkatkan kualitas gizi, kesehatan, dan proses belajar generasi muda di lingkungan pendidikan keagamaan. (Fik/P-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved