Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

70 Persen Pasien Kanker di Indonesia Datang saat Stadium Lanjut

 Gana Buana
02/4/2026 13:28
70 Persen Pasien Kanker di Indonesia Datang saat Stadium Lanjut
Salah satu pasien penderita kanker.(Antara)

MAYORITAS pasien kanker di Indonesia masih datang berobat dalam kondisi terlambat. Data menunjukkan lebih dari 70% pasien baru terdiagnosis saat stadium lanjut, sehingga penanganan menjadi lebih kompleks dan peluang kesembuhan menurun.

Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, Edy Gunawan, menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya transformasi layanan kanker secara menyeluruh.

“Kami menyadari bahwa layanan kanker di Indonesia masih memiliki banyak aspek yang dapat ditingkatkan, dan kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi tersebut,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, MRCCC Siloam Semanggi menggandeng The University of Texas MD Anderson Cancer Center (UT MD Anderson) untuk memperkuat kualitas layanan kanker di Indonesia. Kerja sama yang berlangsung dari Januari 2026 hingga Januari 2027 itu difokuskan pada peningkatan standar layanan klinis dan sistem kesehatan kanker, termasuk penguatan layanan multidisiplin, navigasi pasien, hingga pengembangan sumber daya manusia. Langkah ini diambil di tengah tingginya beban kanker nasional yang mencapai lebih dari 408.000 kasus baru dan lebih dari 242.000 kematian pada 2022.

Selain tingginya angka kasus, Indonesia juga menghadapi keterbatasan infrastruktur dan tenaga medis. Kurang dari 80 fasilitas radioterapi saat ini harus melayani lebih dari 275 juta penduduk, jauh di bawah standar internasional. Sementara itu, jumlah dokter spesialis onkologi radiasi masih sekitar 135 orang dan terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan UT MD Anderson diharapkan dapat memperkuat kualitas layanan sekaligus memperluas akses bagi pasien.

“Kami menantikan pengalaman serta keahlian klinis mendalam dari UT MD Anderson dalam mendukung misi kami untuk memperluas akses, meningkatkan kualitas layanan, dan memberikan harapan nyata bagi pasien yang membutuhkan,” kata Edy.

Melalui kerja sama ini, MRCCC akan mengembangkan layanan kanker yang lebih komprehensif, khususnya untuk kanker payudara dan kanker paru, mulai dari deteksi dini, diagnosis, hingga koordinasi terapi dan layanan pendukung pasien. Selain itu, pendekatan Multidisciplinary Team (MDT) akan diperkuat untuk memastikan penanganan pasien dilakukan secara terintegrasi oleh berbagai disiplin medis.

MRCCC juga akan memperkuat sistem Hospital-Based Cancer Registry (HBCR) guna mendukung pemantauan hasil pengobatan, peningkatan mutu layanan, serta pengembangan kebijakan berbasis data. Evaluasi layanan, program pendidikan tenaga kesehatan, dan pertukaran pengetahuan juga menjadi bagian dari kolaborasi tersebut.

Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat kapasitas layanan kanker nasional, sekaligus menekan keterlambatan diagnosis yang selama ini menjadi tantangan utama dalam penanganan kanker di Indonesia. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya