Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Elon Musk Ingin Membungkus Matahari? Begini Faktanya

Nadhira Izzati A
02/4/2026 11:03
Elon Musk Ingin Membungkus Matahari? Begini Faktanya
ilustrasi(Instagram/Futuretech)

Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh narasi viral mengenai ide "membungkus Matahari". Berbagai unggahan video pendek dan gambar menunjukkan struktur raksasa yang mengelilingi bintang pusat tata surya kita, dengan nama Elon Musk yang sering dicatut sebagai sosok di balik konsep tersebut.

Dyson Sphere dan Peradaban Tipe II

Apa yang digambarkan dalam unggahan-unggahan tersebut sebenarnya selaras dengan konsep lama dalam dunia sains dan fiksi ilmiah yang dikenal sebagai Dyson Sphere, yakni sebuah jaringan luas struktur atau satelit yang mengorbit bintang untuk menangkap seluruh energi yang dipancarkannya.

Secara teoretis, pencapaian ini dikaitkan dengan peradaban Tipe II dalam Skala Kardashev, yakni sebuah tingkatan di mana suatu peradaban mampu memanfaatkan total energi dari bintang induknya secara efisien.

Meskipun menarik untuk dibayangkan, skala pembangunan semacam ini melampaui kemampuan teknis manusia saat ini. Kebutuhan material yang masif serta koordinasi orbital yang sangat kompleks menjadikan Dyson Sphere tetap berada dalam ranah teori jangka panjang dan imajinasi futuristik.

Membantah Klaim Viral, Faktanya Berbeda

Meskipun pembahasan ini sering dikaitkan dengan nama Elon Musk, perlu ditegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rencana resmi, dokumen teknis, maupun pengumuman dari SpaceX atau Tesla mengenai proyek rekayasa bintang berskala besar tersebut. Unggahan viral yang beredar lebih banyak didasarkan pada spekulasi netizen dan penggabungan konsep fiksi ilmiah dengan figur Musk yang dikenal eksentrik.

Namun, Elon Musk memang baru-baru ini menyuarakan pendapatnya mengenai manipulasi energi surya melalui platform X. Fokus Musk bukanlah membangun ‘cangkang’ di sekeliling Matahari, melainkan metode yang disebut Solar Radiation Management (SRM) untuk mendinginkan Bumi.

"Konstelasi satelit AI bertenaga surya yang besar akan mampu mencegah pemanasan global dengan membuat penyesuaian kecil pada seberapa banyak energi surya yang mencapai Bumi," tulis Musk pada 3 November 2025.

Pernyataan ini muncul di tengah kegagalan komunitas internasional dalam mencapai target pengurangan emisi, sehingga strategi teknologi berani mulai mendapatkan perhatian. Saat ditanya mengenai bagaimana teknologi SRM ini dapat memastikan penyesuaian yang presisi dan adil, termasuk aspek musiman, Musk menjawab, "Hanya butuh penyesuaian kecil untuk mencegah pemanasan global atau pendinginan global dalam hal ini. Bumi telah menjadi bola salju berkali-kali di masa lalu."

Penuh Tantangan dan Risiko Global

Meskipun Musk memiliki infrastruktur satelit terbesar melalui Starlink, para ahli memperingatkan bahwa strategi SRM berbasis ruang angkasa sangat tidak realistis dan berbahaya. Untuk membuat perbedaan suhu yang signifikan, jumlah satelit yang dibutuhkan akan sangat besar, dengan estimasi biaya mencapai triliunan dolar.

Lebih jauh lagi, para ahli mengkhawatirkan konsekuensi yang tidak terduga terhadap siklus siang-malam, keanekaragaman hayati, dan potensi ketegangan geopolitik jika kendali atas sinar matahari dunia berada di tangan satu entitas. 

Meskipun Musk belum membagikan rencana resmi bagi SpaceX untuk mengembangkan satelit SRM, keterlibatannya dalam diskusi ini dipastikan akan memicu perdebatan panjang mengenai sejauh mana manusia boleh melakukan intervensi terhadap iklim planet melalui rekayasa geoengineering. (Sify/Govtech/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya