Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
POPULARITAS anjing ras silang atau sering disebut "designer dogs" seperti Cockapoo dan Cavapoo sedang meroket. Banyak pemilik memilih ras ini karena dianggap lebih ramah anak, sehat, dan tidak memicu alergi. Namun, sebuah penelitian terbaru memberikan peringatan penting bagi para calon pemilik: anjing-anjing menggemaskan ini ternyata menunjukkan lebih banyak masalah perilaku dibandingkan ras murni asalnya.
Studi yang dipimpin oleh tim peneliti dari Royal Veterinary College dan diterbitkan dalam jurnal Plos One ini menganalisis data dari 3.424 anjing ras silang dan 5.978 anjing ras murni melalui kuesioner daring. Para peneliti mengevaluasi perilaku anjing-anjing tersebut berdasarkan 12 skala penilaian yang berbeda.
Hasil riset menunjukkan Cockapoo (persilangan Cocker Spaniel dan Poodle) memiliki skor yang jauh berbeda dibandingkan Poodle murni pada enam skala perilaku. Cockapoo menunjukkan perilaku yang lebih tidak diinginkan, seperti agresi terhadap pemilik maupun orang asing, persaingan antar-anjing, hingga ketakutan terhadap lingkungan (seperti suara lalu lintas).
Kondisi serupa ditemukan pada Cavapoo (persilangan Cavalier King Charles Spaniel dan Poodle). Saat dibandingkan dengan Cavalier King Charles Spaniel, Cavapoo menunjukkan skor perilaku yang lebih buruk pada delapan dari sembilan skala penilaian. Sementara itu, Labradoodle menunjukkan perilaku yang lebih baik daripada Poodle, namun tetap memiliki skor perilaku yang lebih buruk jika dibandingkan dengan ras Labrador.
"Hasil studi ini menekankan pentingnya bagi pemilik untuk mengeksplorasi secara mendalam karakteristik ras atau ras silang apa pun sebelum membeli untuk menghindari kesalahan pemilihan yang tidak terinformasi," tulis para penulis dalam laporan tersebut.
Meski data menunjukkan adanya kecenderungan perilaku negatif, para ahli memperingatkan agar tidak langsung menyalahkan faktor genetik semata. Daniel Mills, profesor kedokteran perilaku veteriner di University of Lincoln, menjelaskan perilaku adalah hasil interaksi kompleks antara gen dan lingkungan.
"Perilaku selalu merupakan produk dari interaksi gen dengan lingkungan, dan mencari penyebab sederhana pada salah satunya saja pasti akan gagal," ujar Mills yang tidak terlibat dalam studi tersebut.
Mills menambahkan faktor budaya dan cara asuh pemilik kemungkinan besar memegang peran penting. Perbedaan dalam cara melatih, ekspektasi pemilik, dan pengalaman sebelumnya sangat memengaruhi bagaimana anjing berperilaku. Menurutnya, studi lebih lanjut yang melacak hubungan antara hewan dan pemiliknya dari waktu ke waktu sangat diperlukan untuk memahami faktor utama yang memengaruhi perilaku ini.
Melalui temuan ini, para peneliti berharap calon pemilik anjing tidak hanya terpikat oleh penampilan atau tren semata, tetapi juga siap dengan konsekuensi pola asuh dan karakteristik unik dari anjing ras silang tersebut. (The Guardian/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved