Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Pria Ini Bertahan Hidup 48 Jam Tanpa Paru-Paru

Thalatie K Yani
19/3/2026 12:24
Pria Ini Bertahan Hidup 48 Jam Tanpa Paru-Paru
Paru-paru baru pasien (kiri) dan paru-paru lama (kanan).(Northwestern Medicine)

SEBUAH peristiwa medis yang hampir mustahil baru saja tercatat dalam sejarah kedokteran. Seorang pria berusia 33 tahun berhasil bertahan hidup selama 48 jam tanpa paru-paru di dalam tubuhnya. Pencapaian ini dimungkinkan berkat prosedur bedah inovatif yang dilakukan tim dokter untuk menyelamatkan pasien dari infeksi mematikan.

Kasus luar biasa ini bermula ketika pasien tersebut menderita flu parah yang memicu infeksi bakteri pneumonia. Kondisinya memburuk dengan cepat hingga mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sebuah kondisi di mana peradangan hebat menghancurkan jaringan paru-paru dan memicu kegagalan organ jamak.

Prosedur Nekat Demi Nyawa

Saat tiba di rumah sakit, kondisi pasien sudah di ambang kematian. "Dia sakit kritis. Jantungnya berhenti segera setelah dia tiba. Kami harus melakukan CPR," ujar penulis utama laporan ini, Ankit Bharat, seorang ahli bedah toraks di Northwestern University.

Menurut Bharat, ketika infeksi sudah sangat parah hingga paru-paru seolah "mencair", organ tersebut tidak lagi bisa diselamatkan. Dalam kondisi ini, paru-paru yang terinfeksi justru menjadi sumber racun yang menyebar ke seluruh tubuh. Tim medis akhirnya mengambil keputusan drastis: mengangkat kedua paru-paru pasien sepenuhnya untuk menghentikan penyebaran infeksi.

"Jantung dan paru-paru terhubung secara intrinsik," jelas Bharat. "Ketika tidak ada paru-paru, bagaimana cara menjaga pasien tetap hidup?"

Jembatan Menuju Transplantasi

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim dokter menggunakan sistem "paru-paru buatan" yang direkayasa khusus. Alat ini mengambil alih tugas paru-paru untuk mengoksigenasi darah, membuang karbon dioksida, dan mendukung sirkulasi agar jantung serta organ lainnya tetap berfungsi selama pasien distabilkan.

Dua hari setelah paru-paru yang rusak diangkat, tekanan darah pasien mulai stabil dan infeksinya terkendali. Di saat yang tepat, donor paru-paru tersedia, dan tim bedah berhasil melakukan transplantasi paru-paru ganda. Dua tahun setelah operasi tersebut, pasien dilaporkan hidup normal dengan fungsi paru-paru yang sehat.

Bukti Biologis Baru

Analisis molekuler terhadap paru-paru yang diangkat menunjukkan adanya jaringan parut yang luas dan kerusakan sistem kekebalan yang permanen. Hal ini membuktikan dalam kasus ARDS tertentu, jaringan paru-paru memang tidak akan pernah bisa pulih.

"Untuk pertama kalinya, secara biologis, kami memberikan bukti molekuler bahwa beberapa pasien akan membutuhkan transplantasi paru ganda, jika tidak, mereka tidak akan selamat," tegas Bharat.

Meskipun saat ini prosedur tersebut hanya bisa dilakukan di pusat medis dengan spesialisasi tinggi, Bharat berharap metode ini bisa menjadi standar baru untuk menyelamatkan pasien muda yang sering kali kehilangan nyawa karena opsi transplantasi tidak segera dipertimbangkan. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik