Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Berburu Sinyal di Pelosok Atadei Demi Tes Kemampuan Akademik

Alexander P Taum
02/3/2026 12:26
Berburu Sinyal di Pelosok Atadei Demi Tes Kemampuan Akademik
Suasana saat siswa SD Inpres Atalojo mengikuti ujian TKA di Desa Atalojo, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata,NTT(Dok Istimewa)

DI tengah tantangan geografis yang tak mudah, delapan siswa kelas VI SD Inpres Atalojo, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur harus memulai Senin (2/3/2026) mereka dengan perjalanan kaki sejauh 2,5 kilometer.

Berseragam merah putih, mereka melangkah dari Desa Atalojo menuju Watulolo, satu-satunya titik yang mampu menangkap sinyal internet stabil untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) secara daring.

Mereka tidak berjalan sendiri. Tiga guru mendampingi: Raimundus Ray Lein selaku operator komputer, bersama Roswita Sori Wutun dan Beatrix Nogo Kolin. Sejak pagi, rombongan kecil itu menapaki jalur berbatu menuju lokasi yang secara ironi lebih dekat dengan tebing dan kebun daripada fasilitas publik.

“Tes hari ini harus berjalan. Jaringan internet di desa tidak memungkinkan, jadi kami hanya bisa dapat sinyal di Watulolo,” ujar Raimundus.

Hujan, Angin, dan Ujian yang Tertunda

Saat para siswa sedang fokus mengerjakan soal TKA, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Angin kencang memaksa mereka menghentikan ujian dan berlari mencari tempat berteduh. Sebuah pondok sederhana milik warga menjadi penyelamat, meskipun fasilitasnya jauh dari kata layak untuk kegiatan belajar.

Ketiga guru itu harus tetap berada di kawasan Watu Lolo selama beberapa hari ke depan—selama rangkaian ujian TKA berlangsung. Mereka memastikan para siswa memperoleh akses internet dan suasana aman, meskipun cuaca dan medan kerap menjadi tantangan.

Potret Digitalisasi di Lembata: Jaringan 100%, Akses Baru 70%

Keterbatasan sinyal bukan cerita baru di Kabupaten Lembata, salah satu wilayah di Nusa Tenggara Timur yang masih berjuang mengejar pemerataan infrastruktur digital. 

Menurut Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Lembata, Petrus Demong, kepada Media Indonesia, Senin (2/3/2026), saat ini jangkauan internet di Lembata baru mencapai 70 persen—meski ketersediaan jaringan sebenarnya sudah 100 persen.

“Masih ada 30 desa yang hanya terlayani 3G. Sisanya 4G. Kendalanya ada pada kecepatan frekuensi, meskipun menara sudah dibangun di seluruh kecamatan. Bahkan BTS telah disiapkan, tetapi belum optimal,” jelas Petrus.

Di Kecamatan Atadei, akses internet bertumpu pada menara bersama yang berdiri di Desa Kalikasa. Menara itu dikelola oleh beberapa penyedia layanan, seperti XL dan Telkomsel. Namun, problem frekuensi tetap menjadi hambatan utama.

Petrus menambahkan bahwa kondisi ini sebenarnya bisa diatasi melalui layanan internet satelit seperti Starlink, tetapi biaya langganannya masih relatif berat bagi anggaran daerah maupun masyarakat.

Belajar di Tengah Keterbatasan

Di tengah segala kekurangan infrastruktur, semangat para siswa di Atalojo tidak surut. Perjalanan panjang, cuaca tak menentu, dan sinyal yang sulit bukan alasan untuk menyerah. Di bawah bimbingan guru-guru yang tak lelah, anak-anak ini terus berjuang menggapai masa depan mereka—meski harus menantang bukit, hujan, dan jarak 2,5 kilometer setiap hari.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa digitalisasi pendidikan bukan hanya soal menghadirkan ujian daring, tetapi juga memastikan setiap anak di Indonesia memiliki akses yang setara.

Di pelosok Atadei, perjuangan itu masih panjang, tetapi tekad para siswa dan guru menunjukkan bahwa harapan tetap menyala. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya