Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT cacingan, khususnya yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides), masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak-anak. Dokter Tita mengungkapkan bahwa proses infeksi cacing ini jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan, bahkan melibatkan organ paru-paru sebelum akhirnya menetap di usus.
Berbeda dengan cacing kremi, cacing gelang termasuk dalam kelompok Soil Transmitted Helminths (STH), yaitu jenis cacing yang membutuhkan media tanah untuk proses perkembangannya menjadi tahap infektif.
Infeksi biasanya bermula dari aktivitas sederhana, seperti anak yang bermain tanah atau mengonsumsi makanan dan minuman yang telah terkontaminasi telur cacing. Berikut adalah tahapan bagaimana cacing tersebut menguasai tubuh inangnya:
* Tertelan ke Saluran Cerna: Telur cacing yang ada di tanah atau makanan masuk ke mulut dan menuju usus.
* Menetas Menjadi Larva: Di dalam usus, telur menetas menjadi larva. Uniknya, larva ini tidak langsung menetap di sana, melainkan menembus dinding usus dan masuk ke pembuluh darah.
* Bermigrasi ke Paru-paru: Melalui aliran darah, larva "berjalan-jalan" hingga sampai ke paru-paru dan naik ke saluran pernapasan. Kondisi ini sering kali memicu gejala batuk pada anak.
* Tertelan Kembali: Saat larva sampai di tenggorokan, mereka akan tertelan kembali ke saluran pencernaan untuk kedua kalinya.
* Menjadi Dewasa di Usus Halus: Di sinilah larva menetap dan berkembang menjadi cacing jantan serta betina yang siap bereproduksi.
Salah satu alasan mengapa perut anak bisa dipenuhi oleh banyak cacing adalah kecepatan mereka bertelur. Dokter Tita menjelaskan bahwa satu ekor cacing betina dewasa mampu menghasilkan hingga 200.000 butir telur per hari.
"Masa hidup satu ekor cacing bisa mencapai 1 hingga 2 tahun. Bayangkan betapa banyaknya telur yang bisa menumpuk di usus manusia dalam kurun waktu tersebut," ujar Dokter Tita.
Siklus hidup ini akan terus berputar jika sanitasi lingkungan buruk. Telur cacing keluar bersama tinja manusia. Jika seseorang Buang Air Besar (BAB) sembarangan atau tidak menggunakan jamban yang layak, telur-telur tersebut akan kembali mengontaminasi tanah dan siap menginfeksi orang lain.
Para orang tua diimbau untuk lebih ketat mengawasi kebersihan tangan anak setelah bermain dan memastikan makanan yang dikonsumsi higienis guna memutus rantai penyebaran parasit ini.(Instagram dr Tita @Tita_natalia_manurung/P-3)
Sanitasi buruk, akses air bersih terbatas, serta perilaku hidup bersih yang belum membudaya membuat infeksi kecacingan sulit diberantas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved