Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Perubahan Iklim dan Ancaman Kesehatan dalam Perspektif Eco-Epidemiologi

Muhammad Ghifari A
26/2/2026 12:01
Perubahan Iklim dan Ancaman Kesehatan dalam Perspektif Eco-Epidemiologi
Ilustrasi(Channel9)

PERUBAHAN iklim kini tidak lagi dipahami semata sebagai krisis lingkungan, tetapi juga sebagai ancaman serius terhadap kesehatan manusia. Sejumlah kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Preventive Medicine dan tersedia melalui PubMed Central menyoroti bahwa pendekatan eco-epidemiologi menjadi kunci dalam memahami keterkaitan kompleks antara perubahan iklim dan kesehatan global.

Pendekatan ini memandang krisis iklim sebagai persoalan multidimensi yang melibatkan interaksi antara faktor biologis, sosial, ekonomi, dan ekologi secara bersamaan.

Apa Itu Eco-Epidemiologi?

Eco-epidemiologi adalah pendekatan dalam ilmu kesehatan masyarakat yang tidak hanya melihat penyakit dari sisi biologis individu, tetapi juga dari hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya.

Dalam konteks perubahan iklim, pendekatan ini menelaah bagaimana pemanasan global, perubahan pola cuaca, serta gangguan ekosistem memengaruhi distribusi penyakit dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.

Alih-alih mencari satu penyebab tunggal, eco-epidemiologi memandang kesehatan sebagai hasil dari jaringan faktor yang saling berkaitan, mulai dari emisi gas rumah kaca hingga kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan

Dalam perspektif eco-epidemiologi, perubahan iklim berdampak pada kesehatan melalui berbagai jalur yang saling terhubung.

Peningkatan suhu global memicu gelombang panas yang lebih sering dan intens. Kondisi ini meningkatkan risiko dehidrasi, gangguan kardiovaskular, hingga kematian, terutama pada kelompok lanjut usia dan masyarakat rentan.

Perubahan suhu dan curah hujan juga memengaruhi habitat vektor penyakit seperti nyamuk. Dampaknya, penyakit menular seperti malaria dan demam berdarah berpotensi meluas ke wilayah yang sebelumnya tidak terdampak.

Selain itu, perubahan musim tanam, kekeringan, dan banjir mengganggu produksi pangan. Gangguan tersebut meningkatkan risiko malnutrisi serta penyakit yang berkaitan dengan kekurangan gizi.

Tidak hanya berdampak fisik, bencana iklim seperti badai, kebakaran hutan, dan banjir juga memicu trauma psikologis serta gangguan kesehatan mental jangka panjang pada masyarakat terdampak.

Ketimpangan Global dalam Dampak Kesehatan

Pendekatan eco-epidemiologi menegaskan bahwa dampak perubahan iklim tidak terjadi secara merata. Negara berkembang yang kontribusi emisinya relatif kecil justru menghadapi risiko kesehatan lebih besar akibat keterbatasan infrastruktur dan sistem layanan kesehatan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis iklim juga merupakan isu keadilan kesehatan global. Komunitas miskin dan kelompok rentan memiliki kapasitas adaptasi yang lebih rendah terhadap perubahan lingkungan yang berlangsung cepat.

Tantangan dan Solusi Menghadapi Krisis Iklim

Para peneliti menekankan pentingnya integrasi kebijakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Upaya mitigasi seperti pengurangan emisi karbon tidak hanya menjaga stabilitas iklim, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan langsung, termasuk peningkatan kualitas udara.

Di sisi lain, sistem kesehatan perlu memperkuat strategi adaptasi berbasis komunitas guna menghadapi peningkatan risiko penyakit akibat perubahan iklim.

Dalam perspektif eco-epidemiologi, perubahan iklim merupakan fenomena yang menghubungkan ekologi, sosial, dan kesehatan manusia dalam satu sistem yang saling bergantung. Krisis iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu, tetapi juga menyangkut perubahan pola penyakit, ketahanan pangan, dan stabilitas kesehatan global di masa depan. Sumber: National Library of Medicine



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya