Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Tak Perlu Belajar Teori, Otak Kita Ternyata Punya "Insting" Prediksi Musik Hingga 16 Detik

Thalatie K Yani
26/2/2026 13:00
Tak Perlu Belajar Teori, Otak Kita Ternyata Punya
Ilustrasi(freepik)

ANDA tidak perlu bisa membaca not balok untuk mengetahui kapan sebuah lagu akan mencapai puncaknya. Sebagian besar dari kita bisa merasakan saat melodi membangun ketegangan, menuju nada penyelesaian, atau berpindah ke bagian baru. Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan, melainkan hasil kerja keras otak yang luar biasa.

Penelitian terbaru dari University of Rochester mengungkapkan pendengar, bahkan mereka yang tidak memiliki pelatihan musik formal, mengandalkan rentang melodi yang cukup panjang, hingga 16 detik, untuk memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemampuan bawaan ini menjelaskan mengapa musik mampu membentuk memori, perhatian, dan emosi kita dengan sangat kuat.

Eksperimen "Mengacak" Melodi

Riesa Cassano-Coleman, peneliti utama dalam studi ini, menguji sejauh mana pendengar bergantung pada konteks musik yang panjang. Ia menggunakan potongan lagu piano klasik yang diatur ulang secara sistematis tanpa mengubah satu pun nada aslinya, namun merusak strukturnya.

Hasilnya mengejutkan. Akurasi pendengar dalam memprediksi nada merosot tajam ketika konteks musik dipotong menjadi hanya satu birama. Sebaliknya, prediksi berada pada titik terkuat ketika peserta mendengar aliran musik utuh sepanjang 16 detik.

"Ketika kita mengganggu struktur tersebut, hal itu mengganggu proses pengolahan di otak," ujar Cassano-Coleman. Hal ini membuktikan bahwa otak tidak memproses nada secara terisolasi, melainkan menyimpannya sebagai satu kesatuan unit informasi yang besar.

"Peta Internal" yang Terbentuk Otomatis

Ilmuwan menyebut kemampuan ini sebagai konteks tonal. Sejak tahun 1982, penelitian telah menunjukkan  manusia mempelajari pola musik hanya melalui paparan sehari-hari. Otak kita secara diam-diam membangun peta internal tentang nada mana yang terasa seperti "rumah" (stabil) dan mana yang terasa tegang.

Menariknya, dalam banyak tugas pengujian, performa musisi profesional dan orang awam ternyata hampir serupa. Meskipun latihan formal mempertajam kesadaran akan struktur, kemampuan dasar untuk mengikuti alur musik tidak memerlukan latihan bertahun-tahun.

"Bahkan ketika kita tidak dilatih secara khusus untuk bermain musik, kita tetap menyerapnya hanya dengan berjalan-jalan dan mendengarkan," kata Cassano-Coleman.

Kekuatan Emosional dari Ekspektasi

Prediksi ini tidak hanya membentuk apa yang kita dengar, tetapi juga apa yang kita rasakan. Otak menghubungkan pola musik tertentu dengan respons emosional, memicu jaringan yang terkait dengan penghargaan (reward), ketegangan, hingga rasa takut.

Saat Anda mengantisipasi akord yang lebih gelap atau resolusi yang lebih cerah, pergeseran emosional itu menghantam lebih cepat dan bertahan lebih lama. Inilah yang membuat pengalaman mendengarkan musik terasa sangat personal dan kuat.

Meskipun studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science ini masih terbatas pada musik piano gaya Barat, hasilnya menyoroti sesuatu yang universal, tumbuh besar dengan dikelilingi musik sudah cukup untuk mengajarkan otak kita cara mengantisipasi masa depan. (Earth/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya