Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan dari Chinese Academy of Sciences (CAS) berhasil mengembangkan metode inovatif untuk menjinakkan pasir gurun yang liar. Dengan menggunakan mikrob hasil biakan laboratorium, tim peneliti mampu mengikat butiran pasir yang lepas menjadi lapisan permukaan yang tipis namun stabil, sehingga tidak mudah terbawa angin.
Teknologi ini memberikan napas baru bagi tim restorasi lahan. Lapisan permukaan yang kuat tersebut memberikan waktu bagi semak dan rumput untuk tumbuh sebelum angin kencang dan panas ekstrem menyapu tanaman muda.
Kunci dari teknologi ini adalah cyanobacteria, bakteri bertenaga surya yang telah menghuni bumi sejak 3,5 miliar tahun lalu. Mikrob purba ini dikenal mampu bertahan di lingkungan paling ekstrem sekalipun.
Dalam prosesnya, bakteri ini menyerap karbon dioksida dan melepaskan materi organik. Pada tanah gurun yang miskin hara, spesies tertentu melakukan fiksasi nitrogen, mengubah gas nitrogen menjadi nutrisi yang siap diserap tanaman. Begitu mikrob ini menetap, mereka membentuk lapisan hidup yang mengikat butiran pasir, menciptakan tempat yang lebih baik bagi tanaman pertama untuk berakar.
Di bawah mikroskop, terlihat bagaimana benang-benang bakteri melilit butiran pasir. Sel-sel tersebut mengeluarkan gula lengket di sela-sela butiran yang kemudian mengeras menjadi lapisan kohesif.
Lapisan yang disebut kerak tanah biologis ini bertindak seperti lem. Berdasarkan uji coba di dekat Gurun Taklamakan, Xinjiang, tim CAS mencatat bahwa kerak ini mampu menstabilkan pasir hanya dalam waktu 10 hingga 16 bulan. Kecepatan ini sangat signifikan dibandingkan proses alami yang memakan waktu lama.
Selain mencegah erosi, lapisan ini memiliki manfaat ekologis lainnya:
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Soil Biology and Biochemistry ini didukung oleh catatan pemulihan gurun di China selama 59 tahun. Data menunjukkan penambahan cyanobacteria dapat memangkas proses pemulihan yang biasanya memakan waktu puluhan tahun menjadi hanya beberapa tahun saja.
Dalam pengujian laboratorium, penggunaan kerak buatan ini terbukti mampu mengurangi kehilangan tanah akibat angin hingga lebih dari 90%.
Meski menjanjikan, para peneliti menekankan metode ini memiliki batasan. Kerak pelindung ini tetap rentan terhadap kerusakan fisik akibat injakan kaki, ban kendaraan, atau penggembalaan ternak yang berlebihan. Oleh karena itu, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada perlindungan area restorasi dan manajemen penggunaan lahan yang bijak. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved