Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
Nabi Ibrahim AS lahir di masa kejayaan peradaban Babilonia (sekarang Irak). Dalam catatan sejarah dan pendapat para ulama, beliau hidup sekitar tahun 1997-1822 SM. Beliau bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan poros utama dari Millah Ibrahim, ajaran tauhid murni yang menjadi akar dari syariat Islam.
Para ulama ahli nasab, merujuk pada keterangan Ibnu Katsir, menyebutkan bahwa Ibrahim adalah putra dari Tarikh (Azar) bin Nahur bin Sarugh. Mengenai sosok Azar, terdapat diskusi di kalangan ulama tafsir: sebagian menyebutnya sebagai ayah kandung, sementara yang lain (seperti as-Suyuti) berpendapat bahwa Azar adalah paman Ibrahim, mengingat para Nabi lahir dari garis keturunan yang suci dari kesyirikan.
Ibrahim dikenal sebagai Hanif. Beliau menggunakan metode dialektika (tanya-jawab) untuk mematahkan argumen kaum penyembah bintang dan berhala. Strategi dakwah beliau sangat sistematis:
Ibrahim tumbuh di tengah kaum yang sangat ahli dalam ilmu perbintangan (astronomi), namun mereka justru terjebak pada penyembahan terhadap benda-benda langit tersebut. Dalam Surah Al-An'am ayat 76-79, Al-Qur'an mengabadikan perjalanan intelektual dan spiritual Ibrahim saat ia melakukan "eksperimen" logika di hadapan kaumnya:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۚ قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
"Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku', tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'." (QS. Al-An'am: 76)
فَلَمَّا رَاَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّم|ْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّۤالِّيْنَ
"Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: 'Inilah Tuhanku'. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat'." (QS. Al-An'am: 77)
فَلَمَّا رَاَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
"Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." (QS. Al-An'am: 78)
Kata "Al-Afilin" (yang terbenam) menjadi kunci serangan logika Ibrahim. Para ulama menjelaskan bahwa Tuhan adalah pengatur (Al-Mudabbir), bukan yang diatur oleh waktu dan orbit. Sesuatu yang berubah, berpindah, dan hilang tidak layak menyandang status ketuhanan.
Hukuman bakar yang dijatuhkan Raja Namrud kepada Ibrahim bukanlah sekadar api biasa, melainkan api raksasa yang dikumpulkan selama berhari-hari hingga burung pun tak berani terbang di atasnya. Di sinilah terjadi salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah manusia.
Diriwayatkan dalam kitab-kitab Tafsir, saat Ibrahim berada di atas manjanik (alat pelontar) dan siap dilemparkan ke dalam api, Malaikat Jibril datang menghampirinya. Jibril bertanya, "Wahai Ibrahim, apakah engkau memerlukan bantuan dariku?"
Jawaban Ibrahim mencerminkan derajat tauhid tertinggi: "Adapun kepadamu, aku tidak butuh. Cukuplah Allah bagiku, dan Dia adalah sebaik-baik penolong." Saat itulah, perintah langit turun seketika sebelum tubuh Ibrahim menyentuh api.
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ
"Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!'" (QS. Al-Anbiya: 69)
Setelah peristiwa pembakaran di Babilonia, Ibrahim memulai misi perjalanan lintas benua. Ulama seperti Ibnu Katsir mendetailkan rute ini sebagai strategi dakwah global:
Berdasarkan Surah Al-Baqarah ayat 127, Ibrahim dan Ismail meninggikan pondasi Baitullah. Ulama menjelaskan bahwa pondasi aslinya sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS, dan Ibrahim-lah yang membangun kembali struktur tersebut.
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui'." (QS. Al-Baqarah: 127)
1. Karakteristik Ibrahim (Hanifan Musliman):
مَا كَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ
"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus (hanif) lagi berserah diri (Muslim)." (QS. Ali 'Imran: 67)
2. Ujian Penyembelihan (Ketaatan Mutlak):
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلَاۤءُ الْمُبِيْنُ
"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata." (QS. Ash-Shaffat: 106)
Al-Qur'an menyebut Ibrahim sebagai "Ummah" (seorang diri namun setara dengan satu umat) karena kualitas imannya. Bagi kita saat ini, keteladanan beliau mengajarkan bahwa satu orang yang memiliki integritas dan kedekatan dengan Allah mampu mengubah arah sejarah dunia.
Referensi : Tafsir Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Ringkasan Sirah Nabawiyah, dan Data Wikipedia Bahasa Indonesia.
Kisah Nabi Ibrahim AS, sejarah hidup, dan mukjizatnya. Pelajari perjuangan dan keimanan beliau dalam Al-Qur'an.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved