Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Kisah Nabi Ibrahim AS Lengkap: Sejarah, Dalil Al-Qur'an & Hikmah

Media Indonesia
20/2/2026 22:36
Kisah Nabi Ibrahim AS Lengkap: Sejarah, Dalil Al-Qur'an & Hikmah
Ilustrasi Kisah Nabi Ibrahim(Gemini: Nano Banana Pro)

Navigasi Konten: Kajian Mendalam Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS lahir di masa kejayaan peradaban Babilonia (sekarang Irak). Dalam catatan sejarah dan pendapat para ulama, beliau hidup sekitar tahun 1997-1822 SM. Beliau bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan poros utama dari Millah Ibrahim, ajaran tauhid murni yang menjadi akar dari syariat Islam.

Silsilah dan Asal-Usul dalam Pandangan Ulama

Para ulama ahli nasab, merujuk pada keterangan Ibnu Katsir, menyebutkan bahwa Ibrahim adalah putra dari Tarikh (Azar) bin Nahur bin Sarugh. Mengenai sosok Azar, terdapat diskusi di kalangan ulama tafsir: sebagian menyebutnya sebagai ayah kandung, sementara yang lain (seperti as-Suyuti) berpendapat bahwa Azar adalah paman Ibrahim, mengingat para Nabi lahir dari garis keturunan yang suci dari kesyirikan.

Metode Dakwah: Logika Ketuhanan yang Tak Terbantahkan

Ibrahim dikenal sebagai Hanif. Beliau menggunakan metode dialektika (tanya-jawab) untuk mematahkan argumen kaum penyembah bintang dan berhala. Strategi dakwah beliau sangat sistematis:

  1. Observasi Alam: Menunjukkan bahwa benda langit yang terbenam (afilin) bukanlah Tuhan.
  2. Sindiran Logika: Menghancurkan berhala dan menyisakan yang paling besar untuk membuktikan bahwa patung tidak bisa bicara (QS. Al-Anbiya: 63).
  3. Konfrontasi Politik: Berdebat dengan Raja Namrud tentang siapa yang mematikan dan menghidupkan.

Ibrahim tumbuh di tengah kaum yang sangat ahli dalam ilmu perbintangan (astronomi), namun mereka justru terjebak pada penyembahan terhadap benda-benda langit tersebut. Dalam Surah Al-An'am ayat 76-79, Al-Qur'an mengabadikan perjalanan intelektual dan spiritual Ibrahim saat ia melakukan "eksperimen" logika di hadapan kaumnya:

Tahap 1: Logika Tentang Bintang

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۚ قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ

"Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku', tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'." (QS. Al-An'am: 76)

Tahap 2: Logika Tentang Bulan

فَلَمَّا رَاَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّم|ْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّۤالِّيْنَ

"Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: 'Inilah Tuhanku'. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat'." (QS. Al-An'am: 77)

Tahap 3: Logika Tentang Matahari

فَلَمَّا رَاَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُ ۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

"Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." (QS. Al-An'am: 78)

Makna "Afilin"

Kata "Al-Afilin" (yang terbenam) menjadi kunci serangan logika Ibrahim. Para ulama menjelaskan bahwa Tuhan adalah pengatur (Al-Mudabbir), bukan yang diatur oleh waktu dan orbit. Sesuatu yang berubah, berpindah, dan hilang tidak layak menyandang status ketuhanan.

Analisis Mukjizat: Api yang Menjadi 'Bardan wa Salama'

Hukuman bakar yang dijatuhkan Raja Namrud kepada Ibrahim bukanlah sekadar api biasa, melainkan api raksasa yang dikumpulkan selama berhari-hari hingga burung pun tak berani terbang di atasnya. Di sinilah terjadi salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah manusia.

1. Kehadiran Malaikat Jibril dan Keteguhan Hati

Diriwayatkan dalam kitab-kitab Tafsir, saat Ibrahim berada di atas manjanik (alat pelontar) dan siap dilemparkan ke dalam api, Malaikat Jibril datang menghampirinya. Jibril bertanya, "Wahai Ibrahim, apakah engkau memerlukan bantuan dariku?"

Jawaban Ibrahim mencerminkan derajat tauhid tertinggi: "Adapun kepadamu, aku tidak butuh. Cukuplah Allah bagiku, dan Dia adalah sebaik-baik penolong." Saat itulah, perintah langit turun seketika sebelum tubuh Ibrahim menyentuh api.

قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ

"Kami (Allah) berfirman, 'Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!'" (QS. Al-Anbiya: 69)

2. Kisah Binatang: Semut vs Cicak (Perspektif Hadits)

Dalam narasi yang populer di kalangan ulama dan bersumber dari hadits shahih, alam semesta terbelah menjadi dua kubu saat melihat kekasih Allah dibakar:

  • Semut yang Membantu: Dikisahkan ada seekor semut yang bersusah payah membawa setetes air di mulutnya untuk menyiram api Ibrahim. Meski secara logika air itu tidak akan memadamkan api raksasa, semut itu ingin menunjukkan di pihak mana ia berdiri.
  • Cicak yang Meniup Api: Sebaliknya, cicak justru meniup api agar kobaran api semakin besar. Inilah alasan mengapa dalam hadits Nabi Muhammad SAW, cicak disebut sebagai fuwaysiq (binatang kecil yang jahat).

Catatan Hadits: Rasulullah SAW bersabda, "Dahulu cicaklah yang meniup api (yang membakar) Ibrahim." (HR. Bukhari no. 3359). Ulama menjelaskan bahwa ini adalah simbol permusuhan makhluk fasik terhadap kebenaran.

Geografi Hijrah: Perjalanan Menyemai Tauhid di Dunia

Setelah peristiwa pembakaran di Babilonia, Ibrahim memulai misi perjalanan lintas benua. Ulama seperti Ibnu Katsir mendetailkan rute ini sebagai strategi dakwah global:

  • 1. Dari Ur ke Harran: Ibrahim bersama istrinya Sarah dan keponakannya Luth meninggalkan Ur (Irak) menuju Harran (sekarang wilayah Turki).
  • 2. Memasuki Tanah Syam (Palestina): Syam menjadi pusat aktivitas Ibrahim. Beliau membangun tempat tinggal di sana, yang kelak menjadi wilayah yang diberkahi.
  • 3. Perjalanan ke Mesir: Akibat paceklik, beliau sempat ke Mesir. Di sinilah terjadi peristiwa monumental yang kemudian memberikan Hajar sebagai pembantu bagi Sarah.
  • 4. Menuju Lembah Makkah: Atas perintah Allah, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail kecil menuju lembah tandus Bakkah.

Pembangunan Ka'bah: Kolaborasi Ayah dan Anak

Berdasarkan Surah Al-Baqarah ayat 127, Ibrahim dan Ismail meninggikan pondasi Baitullah. Ulama menjelaskan bahwa pondasi aslinya sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS, dan Ibrahim-lah yang membangun kembali struktur tersebut.

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui'." (QS. Al-Baqarah: 127)

Kumpulan Dalil Utama Al-Qur'an

1. Karakteristik Ibrahim (Hanifan Musliman):

مَا كَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ

"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus (hanif) lagi berserah diri (Muslim)." (QS. Ali 'Imran: 67)

2. Ujian Penyembelihan (Ketaatan Mutlak):

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلَاۤءُ الْمُبِيْنُ

"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata." (QS. Ash-Shaffat: 106)

Kesimpulan: Ibrahim sebagai "Ummah"

Al-Qur'an menyebut Ibrahim sebagai "Ummah" (seorang diri namun setara dengan satu umat) karena kualitas imannya. Bagi kita saat ini, keteladanan beliau mengajarkan bahwa satu orang yang memiliki integritas dan kedekatan dengan Allah mampu mengubah arah sejarah dunia.

Referensi : Tafsir Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Ringkasan Sirah Nabawiyah, dan Data Wikipedia Bahasa Indonesia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny tebe
Berita Lainnya