Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Minuman Ganja Bisa Jadi Solusi Kurangi Kecanduan Alkohol

Thalatie K Yani
19/2/2026 12:00
Minuman Ganja Bisa Jadi Solusi Kurangi Kecanduan Alkohol
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH studi terbaru dari University at Buffalo (UB) mengungkapkan temuan menarik bagi mereka yang ingin mengurangi kebiasaan minum alkohol. Penelitian ini menunjukkan minuman infus ganja (cannabis-infused beverages) dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk menurunkan asupan alkohol mingguan secara signifikan.

Dalam survei terhadap pengguna ganja, responden yang mengonsumsi minuman infus ganja melaporkan penurunan konsumsi alkohol mingguan hingga hampir separuhnya. Selain itu, mereka juga mengaku lebih jarang melakukan binge drinking (minum berlebihan dalam satu waktu).

Pendekatan Pengurangan Dampak Buruk

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Psychoactive Drugs ini merupakan studi pertama, yang secara khusus meneliti minuman ganja sebagai alat pengurangan dampak buruk (harm reduction) terhadap alkohol.

Sebagai informasi, alkohol telah lama dikaitkan dengan setidaknya tujuh jenis kanker dan hampir 200 kondisi medis lainnya. Secara umum, ganja dianggap memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan konsumsi alkohol berat.

"Dalam studi pertama dari jenisnya ini, kami memperkenalkan konsep penggunaan ganja sebagai pengurangan dampak buruk untuk alkohol," ujar penulis utama studi, Jessica Kruger, PhD, profesor klinis kesehatan komunitas dan perilaku kesehatan di UB.

Ia menambahkan, meski ganja sering dibahas sebagai alternatif pengurangan risiko untuk obat-obatan seperti opioid, pembicaraan mengenai ganja sebagai pengganti zat legal seperti alkohol masih jarang dilakukan.

"Saya pikir perjalanan kita masih panjang sebelum hal ini dianggap sebagai arus utama, mengingat minuman ganja adalah modalitas penggunaan yang tergolong baru," tambah Jessica.

Mengapa Minuman Ganja Lebih Efektif?

Data menunjukkan bahwa orang yang memilih minuman ganja cenderung lebih konsisten menggantikan alkohol dibandingkan mereka yang menggunakan produk ganja bentuk lain (seperti rokok atau makanan). Sebanyak 58,6% konsumen minuman ganja memilihnya sebagai substitusi alkohol.

Secara statistik, responden yang beralih ke minuman ganja rata-rata hanya mengonsumsi 3,35 unit minuman beralkohol per minggu, turun drastis dari sebelumnya 7,02 unit. Bahkan, 62,6% responden menyatakan mereka telah mengurangi atau benar-benar berhenti minum alkohol setelah mulai mengonsumsi minuman ganja.

Daniel Kruger, PhD, rekan penulis studi tersebut, menjelaskan mengapa bentuk minuman ini sangat berpengaruh. "Sangat luar biasa bahwa orang yang menggunakan minuman ganja melaporkan penurunan penggunaan alkohol yang lebih besar daripada mereka yang menggunakan jenis produk ganja lainnya. Kami percaya ini karena kesamaan dalam metode pemberian dan konteks penggunaan, orang-orang di pesta atau bar kemungkinan besar akan memegang minuman di tangan mereka, dalam hal ini minuman ganja, bukan minuman beralkohol."

Pertumbuhan Pasar dan Aksesibilitas

Minuman ganja kini sering dijual dalam kemasan kaleng yang menyerupai bir atau hard seltzer, memberikan rasa "familiar" dalam interaksi sosial. Firma riset pasar Euromonitor memperkirakan penjualan global kategori ini bisa melampaui US$4 miliar tahun 2028.

Meski menjanjikan, para peneliti mencatat mayoritas konsumen (89,5%) mengonsumsi produk dengan kandungan CBD 10 mg atau kurang. Ke depannya, tim peneliti UB berencana untuk terus memantau bagaimana tren minuman ganja ini memengaruhi perilaku minum masyarakat dalam jangka panjang. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya