Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PERILAKU kanibalisme mungkin terdengar mengerikan bagi manusia. Namun di alam, termasuk pada ular, memakan sesamanya bisa menjadi bagian dari strategi bertahan hidup.
Hal ini dibahas dalam rangkuman studi oleh Live Science yang merujuk pada penelitian di jurnal Biological Reviews (dipublikasikan 2 November 2025). Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan meninjau 503 laporan kasus kanibalisme pada 207 spesies ular dari berbagai wilayah dunia. Menariknya, perilaku ini diduga telah berevolusi secara independen setidaknya 11 kali sepanjang sejarah evolusi ular.
“Tak satu pun dari kami menyangka bahwa ular bisa begitu kanibal… Semakin kami menelusuri, semakin banyak kasus (kanibal) yang kami temukan,” ujar penulis utama studi, Bruna Falcao, mahasiswa pascasarjana biologi di University of São Paulo, Brasil, dikutip dari Live Science.
Selama ini, kanibalisme kerap dianggap sebagai perilaku yang merugikan. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa perilaku ini dapat muncul karena alasan evolusioner tertentu, misalnya ketika sumber makanan terbatas, untuk mengontrol populasi, atau sebagai bentuk predasi oportunistik.
“Kanibalisme tersebar luas di seluruh kerajaan hewan,” kata ahli biologi sekaligus National Geographic Explorer, Xavier Glaudas.
Falcao juga menekankan bahwa sudut pandang manusia sering kali berbeda dengan realitas ekologis di alam.
“Bagi kita manusia, kanibalisme bukan sesuatu yang dianggap biasa. Tapi bagi ular, itu baik untuk mereka, baik untuk kebugaran ekologisnya. Itu strategi,” ujar Falcao.
Penelitian ini mencatat kanibalisme paling sering dilaporkan pada tiga famili ular berikut:
Pada Colubridae, kanibalisme diduga sering dipicu tekanan lingkungan seperti kelangkaan makanan, karena kelompok ini umumnya tidak dikenal sebagai pemangsa ular lain.
Sementara pada Viperidae, banyak kasus justru terjadi di penangkaran. Peneliti menduga stres, ruang sempit, dan keterbatasan pakan dapat menjadi pemicu.
Adapun pada Elapidae (termasuk kobra), perilaku memangsa ular lain memang sudah dikenal terjadi di alam liar.
Studi tersebut juga menemukan bahwa hampir setengah spesies ular kanibal memiliki pola makan generalis (lebih fleksibel). Meski begitu, Glaudas menilai hubungan ini belum sepenuhnya kuat.
“Terkait gagasan bahwa kanibalisme mungkin lebih umum pada spesies generalis, saya agak skeptis terhadap data yang disajikan,” ujarnya.
Selain faktor pola makan, struktur rahang juga berperan penting. Ular yang mampu membuka rahang cukup lebar untuk menelan ular lain lebih mungkin menunjukkan perilaku kanibal. Sebaliknya, tidak ditemukan laporan kanibalisme pada spesies yang secara fisik tidak memungkinkan melakukan hal tersebut.
Ular dikenal sebagai salah satu kelompok hewan paling sukses secara evolusi. Mereka hidup di semua benua kecuali Antarktika dan mampu beradaptasi pada berbagai relung ekologi. Karena itu, kemunculan kanibalisme secara berulang di berbagai garis keturunan dipandang sebagai bagian dari adaptasi oportunistik.
Meski demikian, peneliti mengakui masih ada banyak laporan kanibalisme yang tersebar di buku maupun arsip lama yang sulit diakses. Artinya, pemahaman ilmiah mengenai perilaku ini masih berpotensi berkembang.
Sumber: Live Science
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved