Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Perbedaan Tarawih 11 dan 23 Rakaat: Dalil, Sejarah, dan Hukumnya

Andhika Prasetyo
18/2/2026 08:44
Perbedaan Tarawih 11 dan 23 Rakaat: Dalil, Sejarah, dan Hukumnya
ilustrasi(Antara)

 

Memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam di Indonesia sering menjumpai perbedaan dalam pelaksanaan jumlah rakaat salat Tarawih. Ada masjid yang menyelenggarakan 11 rakaat, ada pula yang 23 rakaat. Perbedaan ini merupakan bagian dari khazanah fikih Islam yang bersumber dari dalil-dalil kuat dan praktik para sahabat Nabi.

1. Landasan Tarawih 11 Rakaat

Model 11 rakaat (8 rakaat tarawih ditambah 3 rakaat witir) didasarkan pada hadis dari Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Beliau menyatakan:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menambah (salat malam) di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat."

Dalam praktiknya, mereka yang memilih 11 rakaat biasanya mengutamakan kualitas bacaan ayat yang panjang dan durasi salat yang lebih lama di setiap rakaatnya, sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

2. Landasan Tarawih 23 Rakaat

Model 23 rakaat (20 rakaat tarawih ditambah 3 rakaat witir) memiliki akar sejarah pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, Umar berinisiatif mengumpulkan umat Islam untuk salat tarawih berjamaah dengan jumlah 20 rakaat. Langkah ini diambil untuk memberikan kemudahan bagi jamaah; meski rakaatnya banyak, namun bacaan ayat di setiap rakaatnya dibuat lebih pendek agar tidak terlalu memberatkan fisik.

Praktik 20 rakaat ini kemudian diikuti oleh mayoritas sahabat dan menjadi standar dalam empat mazhab besar, terutama mazhab Syafi'i yang mayoritas dianut masyarakat Indonesia.

3. Perbedaan adalah Rahmat

Penting untuk dipahami bahwa salat malam (Qiyamul Lail) pada dasarnya tidak memiliki batasan jumlah rakaat yang kaku. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Salat malam itu dua rakaat, dua rakaat..." (HR. Bukhari & Muslim), yang memberikan fleksibilitas bagi umatnya.

Analisis Ulama: Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa jumlah rakaat bisa disesuaikan dengan kondisi jamaah. Jika imam memanjangkan bacaan, maka rakaatnya sedikit (11 rakaat). Jika imam meringankan bacaan, maka jumlah rakaatnya ditambah (23 rakaat).

 

Perbedaan antara 11 dan 23 rakaat bukanlah persoalan prinsipil yang harus diperdebatkan. Keduanya memiliki landasan syariat yang kuat. Hal terpenting dalam salat Tarawih adalah menjaga keikhlasan dan kekhusyukan agar ibadah di bulan Ramadan mendapatkan pahala yang sempurna di sisi Allah SWT. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya