Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Riset UGM dan Universitas Nottingham: Mayoritas Kampus di Indonesia belum Ramah Dosen Disabilitas

Agus Utatoro
10/2/2026 17:47
Riset UGM dan Universitas Nottingham: Mayoritas Kampus di Indonesia belum Ramah Dosen Disabilitas
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menyambut baik terbentuknya Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia (ADDI).(MI/Agus Utantoro)

HASIL riset kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Nottingham, Inggris, mengungkap fakta memprihatinkan. Mayoritas perguruan tinggi di Indonesia dinilai belum ramah terhadap dosen penyandang disabilitas, baik dari sisi infrastruktur maupun sistem birokrasi akademik.

Survei yang melibatkan 59 dosen disabilitas dari 26 perguruan tinggi negeri dan swasta ini menemukan bahwa lingkungan kerja yang tidak aksesibel memicu hambatan psikologis serius, mulai dari kecemasan berlebih hingga kelelahan mental (burnout).

Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM sekaligus Ketua Tim Peneliti, Wuri Handayani, Ph.D., menjelaskan bahwa fasilitas kampus sering kali mustahil diakses. Tangga yang curam tanpa lift, toilet sempit, hingga gedung bertingkat menjadi penghalang bagi pengguna kursi roda.

Tak hanya fisik, hambatan digital juga nyata. "Seorang dosen netra sering kesulitan mengisi borang administrasi atau laporan kinerja karena aplikasinya tidak terbaca oleh screen reader. Ada juga dosen tuli yang merasa terasing dalam rapat jurusan karena ketiadaan akses komunikasi, hingga akhirnya menarik diri," ujar Wuri di Kampus UGM, Selasa (10/2). 

Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas dan jenjang karier. Wuri menyebut energi para dosen ini sering habis hanya untuk menaklukkan hambatan lingkungan sebelum sempat mengajar. Akibatnya, banyak yang merasa rendah diri dan ragu untuk melanjutkan studi S3 atau mengejar kenaikan jabatan.

"Birokrasi yang kaku, seperti formulir dana hibah riset yang rumit dan tidak aksesibel, sering kali mengubur ide-ide brilian mereka," tambah Wuri.

Lahirnya Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia (ADDI)

Temuan riset ini dibahas dalam forum strategis Shining a Light on Unheard Voices of Disabled Researchers (SHINE) yang didanai British Council di Yogyakarta, 4-5 Februari lalu. Sebagai langkah konkret, sebanyak 16 dosen disabilitas menyepakati pembentukan Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia (ADDI).

Wadah ini diharapkan menjadi motor perjuangan untuk mendorong kebijakan inklusif dan memastikan adanya akomodasi yang layak di setiap institusi pendidikan tinggi.

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Wening Udasmoro, menyambut baik terbentuknya ADDI. Ia menegaskan bahwa inklusivitas tidak boleh berhenti sebagai jargon semata.

"Kampus harus melakukan audit aksesibilitas di setiap fakultas untuk memastikan lingkungan belajar dan bekerja yang bebas hambatan. Rekomendasi riset ini tidak boleh hanya menjadi dokumen di meja, melainkan harus menjadi refleksi perubahan komprehensif di seluruh Indonesia," tegas Prof. Wening. (AU/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya