Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Hari Pers Nasional: Mengenang Sosok Roehana Koeddoes, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

Asha Bening Rembulan
06/2/2026 22:40
Hari Pers Nasional: Mengenang Sosok Roehana Koeddoes, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia
Mengenal dan Mengenang Roehana Koeddoes, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia(MI/Asha)

DALAM menyambut Hari Pers Nasional yang diperingati setiap 9 Februari, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) mengadakan acara yang bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional & Pelopor Jurnalis Perempuan di Indonesia.” Dalam mengawali acara ini, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menyampaikan bahwa perjuangan untuk mengisi ruang-ruang informasi bagi perempuan masih belum berada pada fase yang “menenangkan.” 

“Kita masih harus terus menggerakkan upaya-upaya kita untuk memberi ruang informasi, khususnya bagi karya jurnalistik para perempuan,” ungkapnya, Jumat (6/2).

Meutya juga menjelaskan bahwa era digitalisasi menjadi peluang bagi para perempuan untuk menciptakan dan menulis medianya masing-masing. Baginya, ruang digitalisasi memberikan keuntungan sekaligus tantangan bagi para jurnalis perempuan untuk menyediakan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. 

“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa dan penuh data daripada emosi semata,” akhirnya dalam pidato sambutan tersebut.

Selain itu, acara juga menghadirkan penayangan film biografi Roehana Koeddoes yang menceritakan perjuangannya dalam mewujudkan emansipasi perempuan melalui upaya mengajar membaca dan menulis anak-anak perempuan di Koto Gadang hingga menghadirkan Amai Setia sebagai tempat bagi para perempuan untuk berkarya dan berpenghasilan sendiri.

Melalui penayangan film tersebut, para peserta dan tamu undangan diajak untuk mengenal sepak terjang Roehana yang namanya jarang terdengar oleh masyarakat luas.

Dalam sesi diskusi setelah penayangan film tersebut, para panelis dan peserta juga mengungkapkan bahwa sosok Roehana adalah perempuan yang hadir untuk “membebaskan” perempuan dari sebelum kata emansipasi itu dikenal. 

“Roehana memahami sesuatu yang modern di zaman itu,” komentar Najwa Shihab sebagai salah satu panelis.

Trini Tambu selaku Ketua Yayasan Amai Setia juga mengutip pernyataan Roehana Koeddoes bahwa kelompok perempuan perlu untuk diedukasi untuk kemajuan bangsa. Perjuangan Roehana turut berkontribusi dalam membentuk perempuan di masa kini yang berhasil menjadi pemimpin, termasuk dalam dunia jurnalistik.

“Saya rasa warisan terbesar dari Ibu Roehana adalah keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan dari manapun bisa menggerakkan perubahan. Sekarang, pena dan pikiran itu ada di tangan kita semua. Pertanyaannya adalah bagaimana kita akan menggunakannya,” tutur Trini.

Perempuan dalam Dunia Jurnalisme

Selain membahas kehadiran Roehana Koeddoes dalam dunia jurnalisme, diskusi dalam acara tersebut juga membahas tentang peran dan tantangan para jurnalis perempuan. Wahyu Dyatmika selaku Ketua Umum AMSI menyebutkan bahwa ruang pers di Indonesia masih belum menjadi ruang aman bagi para jurnalis perempuan.

Hal ini disebabkan oleh adanya tantangan nyata yang masih dihadapi oleh para jurnalis tersebut, yaitu kekerasan dan diskriminasi berbasis gender.

Dalam diskusi, disebutkan bahwa kepemimpinan perempuan dalam ruang pers masih sangat dibutuhkan, tetapi ketiadaan ruang aman tersebut menjadi permasalahan yang nyata. Khairiah Lubis sebagai Ketua Umum FJPI turut menyinggung adanya SOP terkait penanggulangan dan penanganan kasus kekerasan seksual yang harus dimiliki oleh semua media sebagai langkah perlindungan para jurnalis perempuan.

Pesan yang tertera jelas dalam menyambut Hari Pers Nasional besok 9 Februari adalah untuk tetap menjaga ruang publik yang ada dan harus terus bersama-sama dalam bersuara.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya