Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Fenomena Hewan Bergerak Mengelilingi Obyek: Insting Bertahan Hidup, bukan Mistis

Basuki Eka Purnama
05/2/2026 09:50
Fenomena Hewan Bergerak Mengelilingi Obyek: Insting Bertahan Hidup, bukan Mistis
Ilustrasi(danspetcare)

FENOMENA hewan yang bergerak memutar mengelilingi obyek, bangkai, atau individu lain yang lemah kerap memicu beragam tafsir di masyarakat, termasuk dikaitkan dengan hal mistis. Namun, Pakar Perilaku Hewan dari IPB University, Dr. drh. Supratikno, menegaskan bahwa perilaku tersebut merupakan respons naluriah yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Menurut Supratikno, gerakan memutar pada ikan, burung, hingga mamalia adalah efek tidak langsung dari komunikasi perilaku dan kimiawi antarsatwa. 

Pada kasus ikan yang mengelilingi individu yang sekarat, hal itu dipicu oleh pelepasan zat kimia tertentu.

"Pada kasus ikan yang terlihat lemah atau hampir mati lalu dikelilingi ikan-ikan kecil, yang sebenarnya terjadi adalah ikan tersebut mengeluarkan hormon stres atau substansi kimia lain. Zat ini terdeteksi oleh ikan di sekitarnya dan menarik mereka untuk mendekat," ujarnya.

MI/HO--Pakar Perilaku Hewan dari IPB University, Dr. drh. Supratikno

Ia menekankan bahwa kawanan tersebut tidak berniat menolong, melainkan sedang menjalankan hukum efisiensi alam. 

"Mereka ingin mengidentifikasi apakah ikan tersebut sudah mati atau belum. Ikan mati adalah sumber makanan karena di alam berlaku hukum yang sangat efisien di mana tidak ada sumber daya yang sia-sia," jelas Supratikno. 

Selain itu, gerakan ini juga bisa menjadi bentuk ancaman untuk mengambil alih dominasi jika individu yang lemah sebelumnya adalah pemimpin kelompok.

Uniknya, gerakan memutar ini terkadang memberikan efek pemulihan tak sengaja. Aliran air yang tercipta dari gerakan tersebut membantu suplai oksigen ke insang ikan yang lemas. Respons menghindari ancaman juga memaksa operkulum ikan terbuka sehingga fungsi pernapasan kembali bekerja.

Fenomena serupa juga ditemukan pada kalkun dan semut dengan tujuan berbeda. 

Pada kalkun, perilaku memutari bangkai predator merupakan insting kewaspadaan atau predator inspection. 

"Kalkun memastikan predator benar-benar sudah mati dan tidak hanya berpura-pura mati. Pada individu muda, aktivitas ini sekaligus menjadi proses belajar mengenali ciri-ciri predator," jelas Supratikno.

Sementara pada semut, gerakan memutar berkaitan dengan identifikasi kolektif dan penggunaan feromon untuk menandai zona demarkasi agar bahaya tidak meluas atau memanggil kawanan lainnya. 

Adapun pada domba, struktur sosial sangat berperan; mereka cenderung mengikuti pemimpin kelompok saat menilai potensi bahaya atau merespons bau asing.

Supratikno meluruskan bahwa setiap hewan memiliki sensitivitas indra yang berbeda, yang sering kali tidak tertangkap oleh manusia sehingga dianggap aneh atau mistis. 

Seluruh perilaku tersebut bermuara pada satu tujuan utama: efisiensi ekosistem dan naluri bertahan hidup.

"Artinya, jika ada sumber daya yang akan mati, makhluk lain secara naluriah akan memanfaatkannya," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik