Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Peluncuran Buku “The Man Who Said Yes”: Satu Kata yang Mengubah Cara Memandang Ketidakpastian dan Kesuksesan

Despian Nurhidayat
27/1/2026 16:43
Peluncuran Buku “The Man Who Said Yes”: Satu Kata yang Mengubah Cara Memandang Ketidakpastian dan Kesuksesan
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi ketidakpastian, banyak orang dihadapkan pada pilihan sulit: melangkah maju dengan risiko atau berhenti karena rasa takut. Ketidakstabilan ekonomi global, perubahan sosial yang cepat, hingga berbagai peristiwa tak terduga yang silih berganti, membuat masa depan kerap terasa samar. Tidak sedikit individu yang akhirnya ragu untuk bermimpi, apalagi mengambil keputusan besar dalam hidup.

Namun, bagaimana jika justru satu kata sederhana, “YES”, menjadi kunci untuk berdamai dengan ketidakpastian sekaligus membuka pintu menuju peluang baru?

Gagasan inilah yang diangkat dalam buku terbaru berjudul “The Man Who Said Yes”, karya Jiu Kian, seorang entrepreneur dan pemimpin jaringan bisnis nasional yang berhasil membangun ekosistem usaha dengan total omzet mencapai Rp120 miliar. Buku ini secara resmi diluncurkan sebagai refleksi perjalanan hidup sekaligus panduan inspiratif bagi masyarakat yang tengah mencari arah di tengah perubahan zaman.

Melalui buku ini, Jiu Kian mengajak pembaca memahami bahwa kata YES bukan sekadar simbol optimisme, melainkan sebuah sikap hidup. Menurutnya, keberanian untuk membuka diri terhadap peluang, meski disertai risiko, seringkali menjadi titik awal dari perubahan besar dalam hidup seseorang.

“Ketidakpastian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, yang membedakan hasil hidup setiap orang adalah bagaimana ia merespons kondisi tersebut,” ujar Jiu Kian. Ia menambahkan bahwa kata YES telah menjadi prinsip yang membimbing setiap langkah perjalanannya. “Bagi saya, kata YES dapat menjadi tiket masuk menuju level kehidupan berikutnya.”

Perjalanan hidup Jiu Kian sendiri jauh dari kata mudah. Dalam buku ini, ia secara gamblang mengisahkan masa kecilnya yang sederhana, ketika ia sudah terbiasa bekerja sejak duduk di bangku sekolah dasar dengan berjualan es mambo. Setelah itu, ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik batu bata, sebelum akhirnya merantau ke Pulau Jawa dengan keterbatasan dan ketidakpastian yang besar.

Berbagai pekerjaan pernah ia jalani demi kelangsungan hidup, mulai dari bekerja di toko kelontong, menjadi kuli panggul di pasar, hingga menjaga toko di pusat perbelanjaan. Ia mengakui bahwa tidak sedikit momen di mana rasa malu, takut gagal, dan kelelahan mental datang silih berganti.

Namun di setiap fase tersebut, terdapat satu benang merah yang selalu ia pegang, yaitu keberanian untuk mengatakan YES terhadap kesempatan yang datang, sekecil apa pun peluang itu. Salah satu pengalaman yang paling ia kenang adalah ketika pertama kali menawarkan produk asuransi secara langsung dari rumah ke rumah, berjalan kaki sambil menghadapi penolakan demi penolakan.

“Kalau saat itu saya memilih berkata tidak karena malu atau takut ditolak, mungkin cerita hidup saya akan berhenti di situ,” ungkapnya.

Tidak hanya berisi kisah perjalanan personal, buku The Man Who Said Yes juga ditulis sebagai panduan reflektif yang dapat diterapkan oleh para pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Jiu Kian merangkum pembelajarannya ke dalam sebuah kerangka berpikir yang ia sebut sebagai filosofi 368, yang merepresentasikan tiga fase kehidupan, enam prinsip abadi, dan delapan kunci kesuksesan.

Fase kehidupan menggambarkan proses manusia dari masa ditempa oleh keadaan, kemudian bertumbuh melalui pembelajaran, hingga akhirnya mencapai tahap berbagi kepada sesama. Prinsip abadi menjadi nilai yang menjaga arah dalam setiap fase kehidupan, sementara kunci kesuksesan membahas sikap dan kebiasaan yang perlu dijaga agar tujuan hidup dapat tercapai secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, buku ini tidak hanya bersifat inspiratif, tetapi juga aplikatif. Pembaca diajak untuk melakukan refleksi personal, memahami posisi hidupnya saat ini, serta membangun keberanian untuk melangkah ke fase berikutnya.

“Buku ini bukan hanya tentang kisah saya, melainkan undangan bagi para pembaca untuk mulai berkata YES dan menuliskan versi The Man Who Said Yes mereka sendiri,” jelasnya.

Saat ini, Jiu Kian memimpin jaringan bisnis yang tersebar di 16 kota di seluruh Indonesia dengan 11 kantor agensi aktif. Jaringan tersebut menjadi tempat bertumbuh dan bekerja bagi lebih dari 2.500 mitra dan karyawan yang ia sebut sebagai para pejuang kehidupan. Baginya, kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian bisnis, tetapi juga dari dampak sosial yang dapat dihadirkan bagi banyak orang.

Buku The Man Who Said Yes kini tersedia di berbagai toko buku serta platform marketplace di Indonesia. Buku ini ditujukan bagi kalangan profesional muda, pelaku usaha, mahasiswa, serta siapa pun yang tengah mencari keberanian untuk melangkah di tengah ketidakpastian saat ini.

Dengan gaya penulisan yang lugas dan reflektif, buku ini diharapkan dapat menjadi teman perjalanan bagi pembaca dalam menghadapi dinamika kehidupan, sekaligus pengingat bahwa terkadang satu kata sederhana dapat menjadi awal dari perubahan terbesar dalam hidup. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya