Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PAPARAN timbal masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di Indonesia. Hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) tahap pertama menunjukkan satu dari tujuh anak Indonesia memiliki kadar timbal darah di atas ambang batas aman. Temuan ini menegaskan masih lemahnya perlindungan kesehatan lingkungan, terutama di tingkat rumah tangga.
Surveilans yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Kesehatan itu dilaksanakan sepanjang Mei–November 2025 di enam provinsi dengan melibatkan 1.617 anak usia 12–59 bulan. Pemeriksaan mencakup pengukuran kadar timbal darah, pengujian sampel lingkungan dan produk rumah tangga, serta konseling kepada orang tua atau wali.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Then Suyanti menegaskan tidak ada ambang batas aman untuk paparan timbal, khususnya pada anak-anak. Paparan timbal dapat berdampak permanen, mulai dari gangguan tumbuh kembang, penurunan kecerdasan, hingga masalah kesehatan jangka panjang.
“Tanpa data yang kuat, kebijakan pencegahan akan sulit diukur dan dievaluasi. SKTD memberikan dasar penting untuk intervensi klinis, lingkungan, dan kebijakan publik yang lebih tepat sasaran,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (27/1).
Hasil SKTD menunjukkan anak yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas memiliki risiko 61 persen lebih tinggi mengalami kadar timbal darah sebesar atau di atas 5 mikrogram per desiliter (µg/dL), ambang batas intervensi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Faktor risiko lain mencakup pekerjaan orang tua yang berkaitan dengan timbal, penggunaan alat masak berbahan logam, serta pemakaian bedak dan kosmetik tertentu, yang berkorelasi dengan peningkatan kadar timbal darah sebesar 7–10 persen.
Sebaliknya, akses terhadap pendidikan dan tingkat pendapatan keluarga yang lebih baik berkaitan dengan kadar timbal darah anak yang lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa paparan timbal juga berkaitan erat dengan ketimpangan sosial dan ekonomi.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh Putu Indi Darmayanti menyampaikan bahwa SKTD dilaksanakan dengan metodologi penelitian yang ketat, mulai dari perencanaan desain studi, pemilihan sampel, hingga analisis data. Menurutnya, peran BRIN dalam riset ini memperkuat integrasi antara sains dan kebijakan publik.
“Koordinasi lintas pihak memastikan data yang dihasilkan dapat menjadi rujukan kebijakan berbasis bukti ilmiah,” katanya.
Surveilans juga mengidentifikasi sumber utama paparan timbal di lingkungan rumah. Lebih dari 20 persen sampel alat masak logam, alat makan keramik dan plastik, kosmetik, pakaian anak dan orang tua, serta mainan anak mengandung timbal melebihi nilai ambang batas. Selain itu, setiap kenaikan dua kali lipat kadar timbal di tanah berkaitan dengan peningkatan rata-rata kadar timbal darah anak sebesar 8 persen.
Epidemiolog Vital Strategies Edwin Siswono menilai temuan SKTD memberikan dasar kuat bagi Indonesia untuk memperkuat strategi pengurangan paparan timbal pada anak. Ia menyebut hasil ini melengkapi langkah Indonesia sebagai salah satu negara pertama yang mengembangkan pedoman klinis penanganan keracunan timbal yang selaras dengan rekomendasi WHO.
Sementara itu, Direktur Yayasan Pure Earth Indonesia Budi Susilorini menyoroti pentingnya surveilans kadar timbal darah yang berkelanjutan secara nasional. Menurutnya, pencatatan kasus, pemantauan faktor risiko lingkungan, serta pemetaan wilayah berisiko perlu diperluas agar intervensi dapat dilakukan lebih dini dan menyeluruh.(H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved