Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Terapi Cahaya Merah: Inovasi Baru Lindungi Otak Atlet dari Benturan Berulang

Thalatie K Yani
26/1/2026 12:32
Terapi Cahaya Merah: Inovasi Baru Lindungi Otak Atlet dari Benturan Berulang
Peneliti University of Utah temukan potensi terapi cahaya merah (fotobiomodulasi) untuk mencegah kerusakan otak permanen pada atlet American Football.(Dok. Hannah Lindsey)

BENTURAN kepala berulang merupakan risiko nyata yang sering dihadapi oleh atlet olahraga kontak, personel militer, hingga petugas darurat. Meski terkadang tidak menyebabkan gegar otak seketika, guncangan frekuensi tinggi ini secara diam-diam dapat memicu peradangan saraf yang berujung pada masalah memori, perubahan suasana hati, hingga demensia di masa depan.

Kabar baik datang dari para ilmuwan di University of Utah. Mereka tengah mengeksplorasi penggunaan terapi cahaya merah, atau dikenal sebagai fotobiomodulasi, sebagai perisai pelindung otak sebelum kerusakan serius muncul.

Melawan Peradangan dengan Sinar Inframerah

Metode ini menggunakan cahaya merah inframerah dekat dengan panjang gelombang 810 nanometer yang disalurkan melalui kulit kepala dan rongga hidung. Cahaya ini berinteraksi dengan mitokondria, pusat energi sel, untuk meningkatkan produksi energi dan penggunaan oksigen.

Energi tambahan ini membantu sel otak tetap kuat dan pulih dari stres akibat benturan. Selain itu, terapi ini mampu menekan sinyal kimia berbahaya dan mengatur perilaku sel imun untuk mengurangi peradangan kronis yang merusak neuron.

Hasil Nyata pada Atlet Football

Dalam studi yang diterbitkan di Journal of Neurotrauma, para peneliti menguji metode ini pada 26 pemain American football perguruan tinggi selama musim pertandingan 16 minggu. Para pemain dibagi menjadi kelompok yang menerima terapi aktif dan kelompok kontrol (plasebo).

Hasil pemindaian otak (MRI) di akhir musim menunjukkan perbedaan yang mencolok:

  • Kelompok Plasebo: Menunjukkan peningkatan tanda-tanda peradangan dan stres aksonal yang signifikan.
  • Kelompok Terapi: Menunjukkan stabilitas yang jauh lebih besar pada struktur otak, bahkan beberapa penanda peradangan tampak menurun.

"Reaksi pertama saya adalah, 'Tidak mungkin ini nyata.' Begitu mencoloknya hasil tersebut," ujar Dr. Hannah Lindsey, penulis utama studi tersebut.

Menargetkan Area Rentan

Benturan berulang biasanya menyerang area spesifik seperti batang otak dan corpus callosum, sebuah pola yang disebut ilmuwan sebagai "kerucut kerentanan." Fotobiomodulasi terbukti efektif membatasi peradangan di wilayah-wilayah rentan tersebut.

Meski awalnya ragu, para peneliti kini mulai yakin dengan potensi besar teknologi ini.

"Saat kami pertama kali memulai proyek ini, saya sangat skeptis," kata Dr. Elisabeth Wilde, Profesor Neurologi di University of Utah. "Namun, kami telah melihat hasil yang konsisten di beberapa studi kami, sehingga ini mulai menjadi sangat meyakinkan."

Langkah Menuju Pencegahan Dini

Jika studi skala besar, termasuk penelitian yang didanai Departemen Pertahanan AS pada 300 partisipan, mengonfirmasi keamanan dan manfaatnya, fotobiomodulasi bisa menjadi cara sederhana dan non-invasif untuk melindungi otak tanpa perlu obat-obatan atau operasi.

Inovasi ini membuka jalan bagi atlet, tentara, dan pekerja darurat untuk mendapatkan perlindungan tambahan guna menurunkan risiko penyakit neurologis jangka panjang di kemudian hari. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya