Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Peneliti Larang Penggunaan Mainan AI untuk Anak di Bawah 5 Tahun

Thalatie K Yani
25/1/2026 08:30
Peneliti Larang Penggunaan Mainan AI untuk Anak di Bawah 5 Tahun
Ilustrasi(freepik)

SEIRING dengan semakin masifnya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam kehidupan sehari-hari, teknologi ini kini mulai menyasar ruang bermain anak-anak. Namun, sebuah studi terbaru dari organisasi nirlaba Common Sense Media memberikan peringatan keras bagi para orangtua mengenai bahaya tersembunyi di balik mainan berbasis AI.

Laporan tersebut menyatakan produk-produk ini membawa risiko serius terhadap perkembangan, privasi, dan keamanan anak. Para peneliti bahkan merekomendasikan orangtua untuk sepenuhnya menghindari mainan AI bagi anak di bawah usia 5 tahun, serta berhati-hati bagi anak usia 6-12 tahun.

Selalu Mendengar dan Mengumpulkan Data

Mainan AI, yang mencakup boneka, robot, dan perangkat aktivasi suara lainnya, bekerja dengan menyambungkan diri ke internet untuk berkomunikasi dengan anak. Namun, di balik kecanggihannya, mainan ini "selalu mendengar" dan mengumpulkan informasi pribadi.

"Sebagian besar mainan wajib menjalani pengujian keamanan yang ketat sebelum dilempar ke pasar, namun kita masih kekurangan perlindungan anak yang berarti untuk AI," ungkap James P. Steyer, Pendiri dan CEO Common Sense Media.

Meskipun ada risiko ini, jajak pendapat menunjukkan hampir setengah dari orangtua telah membeli atau mempertimbangkan untuk membeli mainan AI. Steyer memperingatkan, "Orangtua harus melangkah dengan hati-hati dan memastikan mereka mengetahui semua fakta sebelum membuat pilihan yang tepat untuk anak-anak mereka."

Temuan Mengejutkan: Konten Tidak Pantas dan Ancaman Privasi

Penelitian tersebut menyoroti empat poin krusial yang menjadi ancaman utama:

  • Konten Berbahaya: Sebanyak 27% respons dari mainan AI ditemukan sepenuhnya tidak pantas bagi anak-anak. Robbie Torney, Kepala Penilaian AI & Digital di Common Sense Media, menjelaskan, “Lebih dari seperempat output mencakup konten yang tidak pantas seperti penyebutan perilaku melukai diri sendiri, narkoba, dan perilaku berisiko.”
  • Pelanggaran Privasi: Mainan ini merekam suara, transkrip percakapan, hingga data perilaku di ruang pribadi anak. Mengingat anak-anak belum bisa memberikan persetujuan sadar atas pengumpulan data, kerentanan terhadap kebocoran keamanan menjadi sangat tinggi.
  • Dampak Perkembangan: Mainan AI dirancang untuk memicu keterikatan emosional yang kuat. Para ahli khawatir ikatan buatan ini dapat mengganggu perkembangan otak anak yang seharusnya lebih banyak berinteraksi dengan manusia asli.
  • Teknologi Tidak Stabil: Banyak ditemukan kesalahan teknis (glitch), respons yang salah, hingga fitur pengenalan suara yang sering gagal berfungsi.

Panduan bagi Orangtua

Common Sense Media menyarankan orangtua untuk lebih memilih mainan tradisional yang mendukung hubungan antarmanusia yang tidak tergantikan. Jika tetap memilih memberikan mainan AI, orangtua wajib:

  • Meninjau pengaturan privasi secara ketat.
  • Mematikan fitur mikrofon yang "selalu mendengarkan".
  • Mengawasi interaksi anak dan membatasi waktu bermain.
  • Waspada terhadap tanda keterikatan emosional yang berlebihan pada mainan.

Pada akhirnya, naluri orangtua tetap menjadi kunci. Jika muncul keraguan, kembali ke mainan konvensional dan interaksi nyata adalah langkah terbaik demi tumbuh kembang anak yang sehat. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya