Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang majemuk, penggunaan salam 5 agama atau salam lintas agama telah menjadi standar etika komunikasi, terutama dalam acara-acara resmi kenegaraan dan forum publik. Salam ini merupakan manifestasi dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang mencerminkan sikap toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman keyakinan yang diakui di tanah air.
Meskipun sering disebut sebagai salam lima agama, sejatinya salam ini mencakup enam agama resmi yang diakui pemerintah Indonesia, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.
Pengucapan salam pembuka yang merangkum seluruh pemeluk agama bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan simbol persatuan. Bagi para pejabat negara, tokoh masyarakat, maupun pemimpin organisasi, menguasai urutan dan pelafalan salam ini adalah hal yang krusial untuk menunjukkan inklusivitas. Berikut adalah panduan lengkap mengenai teks, urutan, dan makna filosofis dari masing-masing salam tersebut.
Berikut adalah rincian salam pembuka yang biasa digabungkan dalam pidato resmi, diurutkan berdasarkan kelaziman penggunaannya di Indonesia:
Sebagai agama dengan pemeluk mayoritas di Indonesia, salam Islam biasanya diucapkan pertama kali. Salam ini merupakan doa keselamatan bagi yang mendengarkannya.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Artinya: "Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian."
Dalam konteks kenegaraan, salam ini sering disingkat menjadi Assalamu’alaikum, namun sangat disarankan untuk mengucapkannya secara lengkap sebagai bentuk penghormatan penuh.
Untuk umat Kristiani, baik Protestan maupun Katolik, terdapat dua variasi salam yang umum digunakan dalam forum resmi:
Salam dari umat Hindu ini sangat populer dan memiliki makna filosofis yang dalam. Salam ini diucapkan dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada (sikap anjali).
Teks: Om Swastiastu
Artinya: "Semoga dalam keadaan selamat atas karunia Hyang Widhi (Tuhan)."
Secara harfiah, Om adalah seruan suci kepada Tuhan, Swasti berarti selamat atau bahagia, dan Astu berarti semoga terjadi. Jadi, salam ini adalah doa agar lawan bicara senantiasa berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Seringkali masyarakat salah mengartikan salam ini sebagai "Salam Buddha", padahal maknanya jauh lebih spesifik. Salam ini adalah bentuk penghormatan kepada Guru Agung Buddha Gautama.
Teks: Namo Buddhaya
Artinya: "Terpujilah Buddha."
Meskipun secara harfiah berarti penghormatan kepada Buddha, dalam konteks salam lintas agama di Indonesia, ungkapan ini dimaknai sebagai salam persaudaraan dan doa kebaikan bagi sesama umat manusia yang terinspirasi dari ajaran welas asih.
Agama Khonghucu melengkapi deretan salam resmi di Indonesia. Salam ini menekankan pada aspek moralitas dan perilaku manusia.
Teks: Salam Kebajikan atau Wei De Dong Tian
Artinya: "Hanya kebajikanlah yang bisa menggerakkan Tian (Tuhan)."
Frasa "Salam Kebajikan" dipilih sebagai padanan bahasa Indonesia yang mudah dipahami untuk menyampaikan pesan bahwa kebaikan dan moralitas adalah landasan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam pidato kenegaraan atau acara formal, urutan pengucapan salam 5 agama (yang mencakup 6 agama) biasanya dilakukan secara beruntun dalam satu tarikan napas pembuka. Berikut adalah format standar yang sering digunakan oleh Presiden dan pejabat tinggi negara:
"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi/siang/sore/malam, Salam Sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan."
Urutan ini tidak bersifat kaku secara hukum, namun telah menjadi konsensus tidak tertulis untuk menjaga harmoni. Penggunaan salam pembuka yang lengkap ini menunjukkan bahwa pembicara berdiri di atas semua golongan dan menghormati setiap entitas keyakinan yang ada di hadapannya.
Dengan memahami makna dan cara pengucapan salam 5 agama ini, kita turut serta merawat tenun kebangsaan Indonesia. Salam bukan sekadar kata, melainkan doa tulus untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved