Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Peningkatan Kelainan Refraksi Tinggi, Perluas Edukasi Kesehatan Mata

Indrastuti
22/1/2026 17:23
Peningkatan Kelainan Refraksi Tinggi, Perluas Edukasi Kesehatan Mata
Ilustrasi(Dok Istimewa)

ANGKA kejadian kelainan refraksi (kelainan kacamata) saat ini semakin tinggi. Bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Peningkatan itu tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga pada remaja dan anak-anak.

Lamanya dan seringnya penggunaan gawai (perangkat elektronik) seperti telepon genggam dan komputer diduga kuat sebagai penyebab meningkatnya masalah kelainan refraksi terutama pada anak-anak.

Pada sisi lain, pekerja migran Indonesia (PMI) sebagai warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri, banyak tidak memiliki dokumen resmi sehingga akses memperoleh layanan kesehatan menjadi terbatas.

Berkaca dari itu, melalui kerja sama dengan dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang, Departemen Mata Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) internasional di Penang, Malaysia, dengan tema Edukasi kesehatan mata dan skrining tajam penglihatan anak sekolah.

"Kegiatan ini kami gelar untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mata sekaligus melakukan deteksi dini gangguan penglihatan pada anak usia sekolah sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan," ujar Ketua Tim PKM Noviani Prasetyaningsih, Kamis (22/1/2026).

Program itu ia jalankan bersama tim dokter dan akademisi lainnya yakni Anggraeni Adiwardhani, Aditya Krishna Murti, dan Jihan Samira, serta satu alumni Agustino, dan juga mahasiswa yaitu Ezequiel Damien Raditya dan Jesrin, sebagai wujud kolaborasi lintas generasi dalam pengabdian masyarakat di tingkat internasional.

Noviani menjelaskan kegiatan tersebut dilakukan berupa penyuluhan dan pemeriksaan mata pada siswa SD kelas 4, 5, dan 6 di Penang, Malaysia, dengan materi penyuluhan bahaya penggunaan gawai atau perangkat elektronik seperti handphone, laptop, tab dan lainnya yang digunakan terus menerus tanpa jeda. "Adapun pemeriksaan mata yang kami lakukan berupa pemeriksaan tajam penglihatan dan segmen anterior untuk melihat kelainan di bagian dalam bola mata," terang Noviani.

Pada kegiatan yang diikuti 40 siswa itu diawali dengan tes pengetahuan siswa tentang bahaya penggunaan gawai secara terus menerus. Kemudian, diikuti penyuluhan dan pemeriksaan mata dan diakhiri dengan tes kedua. Dari penyuluhan dan pemeriksaan mata itu menunjukkan edukasi kesehatan mata bisa meningkatkan kesadaran siswa secara signifikan. Perbandingan tes awal dan tes akhir mencatat peningkatan pengetahuan siswa sebesar 35% mengenai bahaya penggunaan gawai secara berlebihan.

Dari pemeriksaan mata juga menunjukkan, sekitar 35% siswa mengalami penurunan penglihatan, tetapi masih dapat dikoreksi dengan kacamata. Adapun empat siswa disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit.

"Kegiatan ini sekaligus jadi upaya untuk menjaga kesehatan mata anak sejak dini, sekaligus mengingatkan pentingnya pembatasan penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari," jelas Noviani.

Dwi, peserta kegiatan PKM, mengaku sebelumnya dirinya tidak mengetahui penggunaan telepon seluler terlalu lama berdampak buruk pada kesehatan mata. "Setelah mengikuti kegiatan ini, saya menjadi lebih paham batas aman penggunaan telepon seluler, yaitu sekitar 1-3 jam per hari. Kegiatan ini bermanfaat dan saya merasa puas atas penyuluhan serta pemeriksaan mata yang dilaksanakan,” ujar Dwi.

Ia menambahkan kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi anak-anak dari pekerja migran Indonesia di Penang, Malaysia. "Kami harap kegiatan serupa dapat dilakukan berkelanjutan, mengingat banyak masalah kesehatan yang dialami anak-anak Indonesia di Penang," pungkasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya