Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Mengapa Generasi Sekarang Tidak Bisa Mengeja?

Thalatie K Yani
21/1/2026 11:33
Mengapa Generasi Sekarang Tidak Bisa Mengeja?
Ilustrasi(freepik)

DI balik layar media sosial, para guru kini mulai menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai satu kemampuan dasar yang kian terkikis, mengeja (spelling). Seorang guru di TikTok, dengan akun @oopsdaaliya, baru-baru ini mengunggah video yang menjadi viral setelah ditonton 1,3 juta kali. Ia menunjukkan hasil tes ejaan siswanya yang mengkhawatirkan.

"Ini adalah realitas saya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan," ujarnya dalam video tersebut. Banyak siswanya kesulitan menulis kata-kata umum yang sering ditemui (seperti the, with, has), bahkan beberapa hanya menulis satu huruf atau membiarkan lembar jawaban kosong.

Warisan Metode yang Keliru

Para pendidik menuding teori "Whole Language" sebagai akar masalah. Metode ini sempat populer selama tiga dekade terakhir karena mengabaikan pengajaran literasi berbasis sains dan lebih memilih strategi pemahaman membaca yang kini banyak diragukan efektivitasnya.

Meskipun saat ini banyak sekolah mulai kembali ke metode berbasis sains seperti phonics, pengajaran mengeja sering kali hanya dianggap sebagai pelengkap.

Dr. Brennan Chandler, profesor dari Georgia State University yang meneliti literasi dan disleksia, menjelaskan bahwa mengeja adalah fondasi penting, bukan sekadar tambahan opsional.

"Kemampuan mengeja benar-benar telah terkikis secara diam-diam, padahal bukti menunjukkan mengeja adalah penggerak perkembangan membaca dan bukan sekadar tambahan opsional," ungkap Chandler.

Ancaman di Balik Teknologi Digital

Para ahli juga memperingatkan orangtua dan pendidik agar tidak meremehkan pentingnya mengeja hanya karena adanya teknologi seperti spellcheck, autocorrect, Google Docs, Grammarly, hingga ChatGPT. Ketergantungan pada alat-alat ini tanpa dasar ejaan yang kuat dapat merugikan siswa seumur hidup.

Menurut Chandler, alat-alat tersebut justru "menutupi kesulitan siswa dan semakin menormalisasi penurunan pengajaran ejaan secara eksplisit." Mengeja memberikan pengetahuan linguistik dasar yang dibutuhkan anak untuk membaca, menulis, dan berkomunikasi secara efektif.

Solusi di Ruang Kelas dan Rumah

Dr. J. Richard Gentry, peneliti pendidikan dan penulis buku Brain Words, merekomendasikan pengajaran ejaan selama 20 menit setiap hari di sekolah. Instruksi ini harus mencakup aturan ejaan spesifik, pola fonetik, dan kosakata dasar yang sesuai dengan tingkat kelas.

"Instruksi jenis ini yang menggunakan kurikulum akan membawa pada penguasaan jangka panjang, berbeda dengan sekadar menghafal kata untuk ujian atau bergantung pada perangkat digital tanpa bimbingan guru," jelas Gentry.

Kapan Orangtua Harus Khawatir?

Orangtua disarankan mulai memantau kemampuan mengeja anak sejak taman kanak-kanak. Pada akhir kelas satu SD, siswa diharapkan sudah memiliki pengetahuan ejaan yang lebih kompleks. Meskipun mungkin belum bisa mengeja kata sulit dengan sempurna, mereka seharusnya sudah bisa menggunakan pola suku kata yang logis.

Jika anak kesulitan mengenali huruf dan bunyi fonetik sejak dini, sangat penting untuk segera memperkuat landasan tersebut sebelum masalah menjadi lebih besar di masa depan. (Mashable/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya