Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Mempelajari ilmu tajwid merupakan hal yang sangat penting bagi umat Islam agar dapat membaca Al-Qur'an dengan tartil, benar, dan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Salah satu hukum bacaan yang sering dijumpai namun kerap membingungkan bagi pemula adalah Mad Silah. Dalam ilmu tajwid, Mad Silah terbagi menjadi dua, yakni Mad Silah Qasirah dan Mad Silah Tawilah. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai pengertian, cara membaca, hingga contoh Mad Silah Tawilah yang terdapat dalam ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Secara bahasa, Mad berarti panjang, Silah berarti hubungan, dan Tawilah berarti panjang. Dalam istilah ilmu tajwid, Mad Silah Tawilah adalah hukum bacaan yang terjadi apabila ada Ha Dhamir (kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki) yang berada di antara dua huruf berharakat (hidup), dan setelahnya bertemu dengan huruf Hamzah (ء) atau Alif yang berharakat.
Kunci utama untuk mengenali hukum ini adalah keberadaan huruf Hamzah setelah Ha Dhamir. Jika Ha Dhamir bertemu dengan huruf selain Hamzah, maka hukumnya adalah Mad Silah Qasirah (pendek). Namun, karena bertemu dengan Hamzah yang merupakan sebab terjadinya bacaan panjang (mad), maka durasi membacanya menjadi lebih lama.
Berbeda dengan Mad Silah Qasirah yang hanya dibaca sepanjang 2 harakat (1 alif), cara membaca Mad Silah Tawilah adalah dengan memanjangkan bacaan Ha Dhamir tersebut sepanjang 4 sampai 5 harakat (2,5 alif). Hukum memanjangkan bacaan ini statusnya adalah jaiz (boleh), namun dalam riwayat Imam Hafs, umumnya dibaca panjang seperti Mad Jaiz Munfasil.
Untuk memudahkan identifikasi dalam mushaf Al-Qur'an standar Indonesia atau Timur Tengah, tanda Mad Silah Tawilah biasanya ditandai dengan harakat dammah terbalik atau kasrah tegak pada Ha Dhamir, diikuti dengan tanda alis (bendera mad) di atasnya.
Agar tidak tertukar, berikut adalah poin perbedaan mendasar antara keduanya:
Untuk memperjelas pemahaman Anda, berikut adalah beberapa contoh penerapan hukum bacaan ini yang diambil langsung dari ayat-ayat Al-Qur'an. Perhatikan pertemuan antara Ha Dhamir dan Hamzah pada potongan ayat berikut:
Contoh pertama terdapat dalam Surat Al-Baqarah. Perhatikan frasa bihi anfusahum.
بِهِ۩ أَنْفُسَهُمْ
Analisis: Pada lafaz bihi, terdapat Ha Dhamir berharakat kasrah yang diapit dua huruf hidup, dan setelahnya bertemu dengan Hamzah pada kata anfusahum. Maka, hi dibaca panjang 5 harakat.
Selanjutnya, contoh dapat ditemukan dalam Surat Ali 'Imran pada lafaz wada'tuha unsa.
وَضَعْتُهَّآ أُنْثَىٰ
Analisis: Meskipun secara teknis ini sering dikategorikan sebagai Mad Jaiz Munfasil karena ada Alif layyinah, dalam konteks Ha Dhamir (kata ganti), prinsip pertemuan huruf mad dengan Hamzah dalam dua kata terpisah tetap menjadi dasar pemanjangan bacaan.
Contoh yang sangat populer dan sering dibaca terdapat dalam Surat Al-Humazah.
يَحْسَبُ أَنَّ مَـچلَهُچٓ أَخْلَثَهُچ
Analisis: Fokus pada lafaz maalahu akhladah. Huruf Ha Dhamir pada kata maalahu bertemu dengan Hamzah pada kata akhladah. Cara membacanya adalah "Yahsabu anna maalahuuu akhladah" (hu dibaca panjang).
Contoh berikutnya ada di Surat Al-Furqan.
وَيَخْلُدْ فِيهِٓچ مُهَـچنًا
Pengecualian Penting: Pada ayat ini, meskipun memenuhi syarat Ha Dhamir (pada riwayat Hafs), terdapat pengecualian atau khusus pada riwayat tertentu di mana Ha Dhamir pada lafaz fiihi muhana dibaca panjang (Mad Silah) meskipun huruf sebelumnya (Ya sukun) adalah huruf mati. Ini adalah satu-satunya tempat dalam riwayat Hafs 'an 'Ashim di mana Ha Dhamir yang didahului huruf sukun tetap dibaca panjang (Mad Mubalagah). Namun, jika kita mencari contoh murni Tawilah yang bertemu Hamzah, kita bisa melihat ayat lain, tetapi ayat ini penting diketahui sebagai wawasan tajwid.
Contoh terakhir diambil dari Surat Al-Lail.
وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَـچلُهُچٓ أِذَا مَـچلُهُچٓ تَرَدَّىٰ
Analisis: Perhatikan kalimat maalahuu idzaa. Ha Dhamir pada maalahu bertemu dengan Hamzah pada kata idzaa. Maka dibaca panjang 5 harakat.
Memahami contoh Mad Silah Tawilah membantu kita membedakan kapan harus membaca Ha Dhamir dengan pendek (2 harakat) dan kapan harus memanjangkannya (5 harakat). Kunci utamanya terletak pada huruf Hamzah yang mengikutinya. Dengan mempraktikkan contoh-contoh di atas saat tadarus, kualitas bacaan Al-Qur'an kita akan semakin baik dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved