Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan ujian dan cobaan, umat Islam senantiasa diingatkan untuk berpegang teguh pada kesabaran. Salah satu janji Allah SWT yang paling menenangkan hati adalah kalimat sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar. Kalimat ini bukan sekadar penghibur, melainkan sebuah jaminan ilahi bahwa Sang Pencipta tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang tabah dalam menghadapi segala ketetapan-Nya. Frasa ini tertuang jelas dalam Al-Qur'an dan menjadi landasan spiritual bagi kaum mukminin.
Kalimat "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" merupakan terjemahan dari penggalan akhir Surat Al-Baqarah ayat 153. Ayat ini memerintahkan orang-orang beriman untuk menjadikan sabar dan salat sebagai penolong. Berikut adalah teks Arab, latin, dan terjemahan lengkapnya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)
Para ulama tafsir memberikan perhatian khusus pada kalimat Innallaha ma'ashobirin. Kebersamaan (ma'iyah) Allah yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah kebersamaan secara zat atau fisik, melainkan kebersamaan yang bersifat khusus (ma'iyah khashah). Ini bermakna bahwa Allah memberikan pertolongan, dukungan, perlindungan, dan taufik kepada mereka yang bersabar.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat dengan dua pilar utama: sabar dan salat. Sabar adalah fondasi internal untuk menahan diri dari keluh kesah, sementara salat adalah manifestasi eksternal dari ketundukan dan permohonan pertolongan. Ketika seorang hamba mampu bersabar, maka Allah menjanjikan kedekatan rahmat-Nya yang tidak diberikan kepada orang-orang yang putus asa.
Untuk memahami mengapa sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar menjadi janji yang agung, kita perlu memahami cakupan sabar itu sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin membagi sabar menjadi tiga kategori utama:
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 153 tersebut, sabar disebutkan terlebih dahulu sebelum salat. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah prasyarat mental yang harus dimiliki sebelum seseorang bisa mendirikan salat dengan khusyuk. Sabar adalah benteng pertahanan jiwa, sedangkan salat adalah senjata spiritual untuk memohon pertolongan.
Ketika seseorang menghadapi masalah berat, kecenderungan manusiawi adalah panik dan mencari pertolongan makhluk. Namun, Allah mengajarkan protokol langit: tenangkan diri dengan sabar, lalu minta solusi melalui salat. Inilah kunci kekuatan mental seorang mukmin.
Selain mendapatkan kebersamaan Allah, orang yang sabar dijanjikan berbagai keutamaan luar biasa lainnya dalam Al-Qur'an:
Dengan memahami bahwa sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar, kita seharusnya tidak lagi merasa sendiri dalam menghadapi badai kehidupan. Kesabaran bukanlah tanda kelemahan atau kepasrahan tanpa usaha, melainkan strategi spiritual tertinggi untuk mengundang campur tangan Allah dalam menyelesaikan masalah kita.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved