Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ini Penjelasan Pengamat tentang Aksi Joget Biduan pada Acara Isra Mikraj di Jawa Timur dari Perspektif Konstruksi Sosial

Despian Nurhidayat
19/1/2026 13:15
Ini Penjelasan Pengamat tentang Aksi Joget Biduan pada Acara Isra Mikraj di Jawa Timur dari Perspektif Konstruksi Sosial
Penampilan biduan di acara Isra Mikraj di Jawa Timur.(Dok. Antara)

PENGAMAT Sosial dari Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis, memberikan penjelasan soal polemik penampilan goyang biduan di panggung peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi, Jawa Timur. Menurutnya, jika dilihat dari perspektif konstruksi sosial, masyarakat ingin merayakan peringatan tersebut dengan suka cita.

“Jadi menurut analisisnya Peter Berger, dia bicara tentang konstruksi sosial ya, dia bahas begini. Hal yang dimaksud dengan realitas sosial itu kan sebetulnya ada objektif dan subjektif. Nah ini bagi umat muslim secara umum, pemahaman tentang Isra Mikraj itu adalah proses di mana Nabi Muhammad melakukan perjalanan lintas dimensi ya, dari satu tempat ke tempat lain, bahkan ke langit ketujuh. Nah itu kan konstruksi objektifnya tentang realitanya,” ungkapnya kepada Media Indonesia, Senin (19/1). 

“Tapi secara subjektif, orang punya cara masing-masing juga. Jadi ini saya tidak membenarkan juga, tapi bahwa ini adalah satu konstruksi sosial yang perlu dipahami sebagai cara orang-orang di tempat itu untuk ‘merayakan’ satu peristiwa yang menurut mereka itu memang sangat penting ya dalam peribadatan,” sambung Rissalwan. 

Maka dari itu, dia melihat bahwa kejadian ini berangkat dari pemahaman masyarakat setempat bahwa ketika ingin merayakan dan bersuka cita, salah satu cara yang dilakukan dengan kegiatan seperti itu. 

Namun demikian, hal yang menjadi masalah karena saat ini sudah memasuki era digital, di mana kebanyakan orang punya pemahaman yang berbeda dengan orang lain. 

Maka dari itu, hal yang harus dilakukan untuk menanggapi fenomena ini ialah memberikan arahan dan informasi kepada masyarakat, bahwa hal yang dilakukan itu salah atau keliru. 

“Nah tapi kembali ke teorinya Berger tentang konstruksi sosial ya, ada satu hal yang menarik, Berger menyampaikan bahwa agama itu bermakna karena ada yang memaknai. Jadi kuncinya adalah pemaknaannya itu akan berbeda-beda setiap orang, setiap masa, setiap generasi. Bisa jadi juga setiap tempat ya, buktinya agama tertentu ya, yang jelas-jelas misalnya sama-sama Muslim atau sama-sama Kristen di tempat yang berbeda akan punya pemahaman, punya tafsir yang berbeda-beda begitu,” tegasnya. 

Rissalwan merasa bahwa kejadian ini seharusnya tidak dipertentangkan, tapi saling memahami atau jika ingin mengingatkan, berikan edukasi kepada masyarakat mengenai hal tersebut. 

“Jadi saya tetap melihat ada sesuatu yang perlu dipahami dalam konteks mereka ingin bersuka cita, cuma ya memang kebablasan begitu ya, jadi kebablasan tuh pakai joget-joget, pakaiannya seksi dan sebagainya gitu ya. Jadi tidak perlu menjadi bahan untuk kita melakukan persekusi terhadap kelompok itu atau terhadap Muslim yang ada di Banyuwangi. Tapi perlu untuk mencerahkan, memberikan informasi sehingga mereka bisa menyadari bahwa yang mereka lakukan salah,” pungkas Rissalwan. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik