Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam perjalanan spiritual seorang muslim, istilah muhasabah sering kali terdengar, terutama ketika momen pergantian tahun atau saat seseorang sedang mencari ketenangan batin. Secara mendasar, muhasabah diri artinya adalah upaya melakukan evaluasi, perhitungan, atau introspeksi terhadap diri sendiri atas segala perbuatan yang telah dilakukan, baik itu kebaikan maupun keburukan. Konsep ini bukan sekadar merenung kosong, melainkan sebuah metode spiritual untuk memperbaiki kualitas diri di hadapan Allah SWT.
Secara etimologi atau bahasa, kata muhasabah berasal dari akar kata bahasa Arab hasiba-yahsabu-hisab yang bermakna menghitung atau melakukan perhitungan. Dalam terminologi syariat, muhasabah dimaknai sebagai upaya seorang hamba untuk menghitung-hitung amal perbuatannya di masa lalu—apakah lebih banyak kemaksiatan atau ketaatan—sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat kelak.
Pentingnya melakukan introspeksi diri ini memiliki landasan yang sangat kuat di dalam Al-Qur'an. Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa memperhatikan apa yang telah mereka persiapkan untuk hari esok (akhirat). Hal ini tertuang secara eksplisit dalam Surat Al-Hashr ayat 18.
Berikut adalah bunyi ayat tersebut beserta artinya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hashr: 18)
Ayat di atas menegaskan bahwa evaluasi diri adalah bagian tak terpisahkan dari ketakwaan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk menghisab diri sendiri sebelum dihisab oleh Allah pada hari kiamat kelak.
Sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, pernah menyampaikan sebuah nasihat yang sangat populer mengenai muhasabah. Beliau berkata:
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang (oleh Allah)."
Perkataan ini menunjukkan bahwa muhasabah diri artinya juga persiapan strategis. Orang yang cerdas menurut pandangan Islam adalah mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Tanpa adanya muhasabah, seseorang akan cenderung merasa benar (ujub), lalai, dan terus menerus berada dalam kubangan dosa tanpa menyadarinya.
Agar muhasabah memberikan dampak positif bagi jiwa dan perilaku, berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan:
Melakukan muhasabah secara rutin akan membawa dampak psikologis dan spiritual yang luar biasa bagi seorang muslim. Berikut adalah beberapa keutamaannya:
Sebagai penutup, memahami bahwa muhasabah diri artinya adalah kunci perbaikan jiwa merupakan langkah awal menuju pribadi yang lebih baik. Jangan biarkan hari berlalu tanpa adanya evaluasi, karena setiap detik yang berlalu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved