Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Penuaan Dapat Dicegah melalui Keseimbangan Hormon

Basuki Eka Purnama
16/1/2026 10:38
Penuaan Dapat Dicegah melalui Keseimbangan Hormon
Ilustrasi(Freepik)

PAKAR Andrologi, Seksologi, dan Antiaging dari Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And.,Subsp.SAAM, mengungkapkan paradigma baru dalam dunia kesehatan mengenai proses penuaan

Menurutnya, penuaan pada manusia bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami tanpa sebab, melainkan dampak langsung dari penurunan kadar hormon dalam tubuh.

Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (15/1), Prof. Wimpie menegaskan bahwa anggapan masyarakat selama ini perlu diluruskan. Ia menekankan bahwa hormon memegang peranan vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi dasar manusia, mulai dari reproduksi hingga kesehatan jantung.

“Konsepnya manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan hormon berkurang karena manusia menjadi tua. Jadi penuaan kita anggap dan diperlakukan sebagai penyakit yang dapat dicegah dan diobati,” ujar Prof. Wimpie.

Gaya Hidup Percepat Penurunan Hormon

Secara biologis, hormon berkembang normal hingga seseorang memasuki usia 40-an. Namun, Prof. Wimpie mencatat tren saat ini menunjukkan banyak orang mengalami penurunan hormon lebih awal akibat gaya hidup yang buruk. Pola makan tidak sehat dan kebiasaan begadang menjadi pemicu utama.

“Beberapa pasien saya itu usia perempuan 40 sudah menopause. Dulu enggak ada, sekarang mulai banyak. Karena pola hidupnya tidak sehat, sering begadang, makanannya tidak sehat,” ungkapnya.

Proses penuaan ini dipicu oleh faktor internal seperti paparan radikal bebas, kerusakan DNA, dan ketidakseimbangan biologis lainnya. Sementara faktor eksternal mencakup kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres, hingga kondisi ekonomi yang memengaruhi asupan gizi.

Tiga Fase Penuaan

Prof. Wimpie merinci proses penuaan ke dalam tiga fase berdasarkan kelompok usia:

  1. Fase Sub-klinis (25-35 tahun): Hormon pertumbuhan, testosteron, dan estrogen mulai berkurang. Meski secara fisik belum terlihat, dampaknya sudah bisa dirasakan. Prof. Wimpie mencontohkan banyak pengguna kontrasepsi hormonal yang kehilangan gairah seksual karena penurunan kadar testosteron.
  2. Fase Transisi (35-45 tahun): Kadar hormon menurun hingga 25%. Gejala fisik mulai muncul seperti peningkatan lemak tubuh, resistensi insulin, berkurangnya elastisitas kulit, hingga risiko penyakit jantung dan awal menopause/andropause.
  3. Fase Klinis (45 tahun ke atas): Hormon terus merosot drastis. Tubuh kehilangan kemampuan menyerap vitamin, kepadatan tulang berkurang (keropos), hingga hilangnya massa otot. Penyakit kronis seperti diabetes dan disfungsi seksual pun mulai bermunculan.

Sebagai penutup, Prof. Wimpie mengingatkan bahwa hormon seperti testosteron, progesteron, dan estrogen adalah kunci utama fungsi seksual dan kesehatan organ dalam. 

Ketidakseimbangan hormon-hormon tersebut, termasuk hormon tiroid, berkaitan erat dengan risiko penyakit mematikan seperti penyakit jantung. Dengan menjaga keseimbangan hormon, kualitas hidup di masa tua dapat tetap terjaga secara optimal. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya