Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Jejak Bartels di Gunung Pangrango: Kisah Penemu Elang Jawa dan Penyamaran Pemain Sirkus

Dede Susianti
07/1/2026 17:05
Jejak Bartels di Gunung Pangrango: Kisah Penemu Elang Jawa dan Penyamaran Pemain Sirkus
Mina Marina Aprilia Bartels, keturunan M.E.G Bartels penemu Elang Jawa.(MI/Dede Susianti)

DI balik rimbunnya hutan Cimungkad, Sukabumi, tersimpan sebuah narasi besar tentang dedikasi keluarga peneliti terhadap kekayaan fauna nusantara. Kisah ini bermula dari Max Eduard Gottlieb Bartels, atau yang lebih dikenal sebagai M.E.G. Bartels, sosok yang namanya kini abadi dalam identitas ilmiah Elang Jawa, Nisaetus bartelsi.

Mina Marina Aprilia Bartels, atau Mirna (65), cucu dari Dr. Max Bartels, mengenang kembali perjalanan buyutnya itu saat ditemui di Museum Bartels beberapa waktu lalu. Di rumah berhalaman luas yang kini menjadi museum itulah, sejarah ornitologi Indonesia banyak tertulis.

Penyamaran dari Jerman ke Sukabumi

Lahir di Bielefeld, Jerman, pada 24 Januari 1871, M.E.G. Bartels muda mengambil langkah berani yang tak terduga. Meski berasal dari keluarga arsitek yang mapan secara ekonomi, ia memilih pergi ke Indonesia di usia sekitar 20 tahun dengan cara yang unik, yaitu menyamar sebagai pekerja sirkus.

“Mungkin orang bertanya, kenapa orang Jerman datang dari Jerman ke Sukabumi pura-pura menjadi pemain sirkus. Ia kabur dari orang tuanya yang seorang arsitek,” tutur Mirna.

Tujuan utamanya bukan sekadar bekerja di perkebunan, melainkan melakukan penelitian satwa. Ketertarikannya pada alam membawanya bekerja di Perkebunan Teh Pangrango pada 1898 hingga akhirnya ia dipercaya menjadi kepala perkebunan.

"Jatuh Cinta" pada Elang Jawa

Di lereng Gunung Pangrango, Bartels menemukan tambatan hatinya yang tidak lain dan tidak bukan ialah alam liar. Pada 1924, di hutan Cimungkad, ia menemukan seekor burung pemangsa yang kelak menjadi satwa terkenal.

“Buyut saya itu jatuh cinta dengan Elang Jawa. Padahal, saat itu orang-orang sekitar mengatakan satwa itu aneh,” kenang Mirna.

Bartels membawa satwa-satwa tersebut ke kediamannya untuk dipelajari. Meski ia memiliki hobi berburu, seluruh hasil perburuannya bukan untuk kesenangan semata, melainkan dikumpulkan demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Dedikasinya membuahkan penemuan 13 jenis satwa sepanjang hidupnya.

Kehidupan keluarga Bartels di Cimungkad tergolong sangat sejahtera. Sebagai pemegang saham di perusahaan perkeretaapian, M.E.G. Bartels mampu mempekerjakan puluhan karyawan. Mirna menceritakan bagaimana ibu kandungnya dulu dilayani oleh belasan pelayan di rumah tersebut.

“Dia menggaji puluhan karyawannya. Karena kalau mengambil uang dari kantor pos, jumlahnya banyak. Begitu cerita mamiku,” ujar Mirna.

Keluarga peneliti satwa 

Semangat penelitian M.E.G. Bartels pun menurun kepada anak-anaknya. Dari pernikahannya dengan Angeline Cardina Henriette Maurenbrecher, seorang pelukis berbakat, lahir dua putra yang meneruskan jejak sebagai peneliti: Dr. Max Bartels dan Hans Bartels. Sementara putra lainnya, Ernst, memilih jalan bisnis.

Namun, sejarah keluarga ini tidak lepas dari duka. Dr. Max Bartels, sang penerus yang fokus pada penelitian mamalia, meninggal dunia pada 1943 dalam masa tawanan perang Jepang. Ia wafat akibat disentri saat menjalani kerja rodi di Thailand, sebelum sempat melihat Indonesia merdeka.

Warisan mereka kini melintasi samudera. Hampir seluruh koleksi ilmiah keluarga Bartels tersimpan di National Museum of Natural History (NMNH) Leiden, Belanda. Nama-nama mereka yaitu Bartels, Max, dan Angelina, kini melekat pada 21 spesies mamalia dan burung sebagai bentuk penghormatan.

Menghidupkan Kembali Aura Cimungkad

Kini, Museum Bartels berdiri tegak sebagai pengingat. Diresmikan kembali pada 13 Desember 2025 oleh Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, museum ini menjadi saksi bisu tiga dekade konservasi Elang Jawa.

Bagi Mirna, tempat ini lebih dari sekadar museum. “Banyak kenangan. Saya merasa ada keterkaitan. Setiap ke sana ada aura. Membayangkan mami saya waktu kecil digendong papihnya, diajak bermain ke kolam di halaman yang luas, mencari binatang-binatang,” tuturnya menerawang.

Jejak langkah keluarga Bartels di tanah Pasir Datar membuktikan bahwa cinta pada alam dapat melintasi generasi, melampaui batas negara, dan abadi dalam lembaran ilmu pengetahuan. (DD/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya