Contoh Homograf Lengkap dengan Kalimat dan Penjelasannya
Wisnu Arto Subari
06/1/2026 18:00
Ilustrasi.(Freepik)
Memahami Kekayaan Semantik Bahasa Indonesia Melalui Homograf
Bahasa Indonesia dikenal memiliki kekayaan kosakata yang unik, di mana satu kata dapat memiliki ejaan yang sama persis namun mengandung arti yang jauh berbeda. Fenomena linguistik ini dikenal dengan istilah homograf.
Dalam artikel ini, Media Indonesia akan mengulas secara mendalam mengenai definisi serta berbagai contoh homograf yang sering kita temukan dalam percakapan sehari-hari maupun teks formal. Pemahaman yang baik mengenai homograf sangat krusial untuk menghindari kesalahpahaman atau ambiguitas dalam komunikasi.
Apa Itu Homograf?
Secara etimologi, istilah homograf berasal dari bahasa Yunani, yaitu homos yang berarti 'sama' dan grapho yang berarti 'tulis'. Jadi, secara harfiah homograf adalah kata-kata yang memiliki tulisan atau ejaan yang sama, tetapi memiliki makna dan lafal (bunyi) yang bisa saja berbeda atau sama. Kunci utama dari homograf terletak pada kesamaan ortografis atau penulisannya.
Seringkali masyarakat tertukar antara homograf, homofon, dan homonim. Sebagai panduan singkat: Homograf fokus pada kesamaan tulisan, Homofon fokus pada kesamaan bunyi, sedangkan Homonim adalah istilah umum untuk kata yang memiliki ejaan atau bunyi sama namun makna berbeda.
Daftar Contoh Homograf Lengkap Beserta Kalimatnya
Berikut adalah kompilasi contoh homograf yang sering digunakan dalam Bahasa Indonesia, lengkap dengan penjelasan makna dan contoh penggunaannya dalam kalimat agar konteksnya lebih mudah dipahami.
1. Apel
Kata ini adalah contoh homograf yang paling populer karena memiliki perbedaan pelafalan yang cukup jelas.
Makna 1: Buah (dilafalkan dengan bunyi 'e' taling seperti pada kata 'lele'). Contoh Kalimat: "Ibu membeli satu kilogram apel Fuji di pasar swalayan."
Makna 2: Upacara atau perkumpulan (dilafalkan dengan bunyi 'e' pepet seperti pada kata 'keras'). Contoh Kalimat: "Seluruh prajurit diwajibkan mengikuti apel pagi di lapangan utama."
2. Mental
Perbedaan makna pada kata ini sangat signifikan, satu berkaitan dengan psikologis, satu lagi berkaitan dengan fisika (gerak).
Makna 1: Bersangkutan dengan batin atau watak manusia (psikis). Contoh Kalimat: "Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik."
Makna 2: Terpelanting atau memantul kembali. Contoh Kalimat: "Bola itu mental jauh setelah menabrak tiang gawang."
3. Tahu
Kata ini memiliki ejaan yang sama persis namun pelafalan dan maknanya berbeda konteks.
Makna 1: Makanan dari kedelai. Contoh Kalimat: "Kota Sumedang sangat terkenal dengan oleh-oleh tahu gorengnya."
Makna 2: Mengerti atau paham. Contoh Kalimat: "Saya baru tahu bahwa hari ini ada pemadaman listrik."
4. Seri
Kata 'seri' memiliki setidaknya tiga makna yang berbeda tergantung konteks kalimatnya.
Makna 1: Gigi (gigi seri). Contoh Kalimat: "Adik menangis karena gigi seri depannya tanggal."
Makna 2: Seimbang atau tidak ada yang menang/kalah. Contoh Kalimat: "Pertandingan sepak bola antara Indonesia dan Vietnam berakhir seri."
Makna 3: Urutan atau jilid buku. Contoh Kalimat: "Novel Harry Potter seri terakhir sudah habis terjual di toko buku."
5. Bisa
Ini adalah contoh homograf yang juga tergolong homonim karena pelafalannya sama persis.
Makna 1: Mampu atau dapat. Contoh Kalimat: "Dia yakin bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu."
Makna 2: Zat racun dari hewan. Contoh Kalimat: "Ular kobra menyemburkan bisa yang mematikan saat merasa terancam."
6. Genting
Konteks kalimat sangat menentukan makna kata ini.
Makna 1: Atap rumah dari tanah liat. Contoh Kalimat: "Ayah sedang memperbaiki genting yang bocor karena hujan deras."
Makna 2: Gawat atau mendesak. Contoh Kalimat: "Situasi di perbatasan negara sedang dalam keadaan genting."
7. Beruang
Kata ini terbentuk dari kata dasar yang berbeda atau imbuhan yang berbeda.
Makna 1: Hewan mamalia besar. Contoh Kalimat: "Beruang kutub terancam kehilangan habitat akibat pemanasan global."
Makna 2: Memiliki uang (orang kaya). Contoh Kalimat: "Hanya orang yang beruang yang mampu membeli mobil mewah tersebut."
8. Per
Kata pendek ini memiliki perbedaan pelafalan yang membedakan maknanya.
Makna 1: Pegas (benda elastis). Contoh Kalimat: "Kasur di kamar hotel itu sangat empuk karena menggunakan per berkualitas tinggi."
Makna 2: Tiap atau demi (pembagian). Contoh Kalimat: "Harga cabai naik menjadi seratus ribu rupiah per kilogram."
9. Teras
Perbedaan pelafalan 'e' (taling vs pepet) membedakan maknanya.
Makna 1: Bagian kayu yang keras (inti) atau pejabat utama. Contoh Kalimat: "Para pejabat teras kementerian sedang mengadakan rapat tertutup."
Makna 2: Halaman depan rumah. Contoh Kalimat: "Kami biasa minum teh sore di teras sambil menikmati pemandangan."
10. Serak
Kata ini juga memiliki perbedaan pelafalan yang jelas.
Makna 1: Suara parau. Contoh Kalimat: "Penyanyi itu tetap tampil maksimal meski suaranya sedang serak."
Makna 2: Tidak teratur atau berantakan (terserak). Contoh Kalimat: "Mainan anak-anak serak di seluruh penjuru ruang tamu."
11. Kecap
Seringkali kita hanya mengingat 'kecap' sebagai bumbu, padahal ada makna lain.
Makna 1: Bumbu penyedap makanan berwarna hitam. Contoh Kalimat: "Sate ayam terasa kurang nikmat tanpa tambahan kecap manis."
Makna 2: Gerakan mulut (seperti saat makan). Contoh Kalimat: "Bunyi kecap mulutnya saat makan terdengar kurang sopan."
12. Memerah
Kata kerja ini berasal dari kata dasar yang berbeda: 'merah' dan 'perah'.
Makna 1: Menjadi berwarna merah. Contoh Kalimat: "Wajahnya memerah karena malu dipuji di depan umum."
Makna 2: Melakukan aktivitas perah (susu). Contoh Kalimat: "Peternak sapi mulai memerah susu sejak pukul empat pagi."
13. Salam
Kata ini memiliki ejaan dan pelafalan yang sama (homonim sempurna yang juga homograf).
Makna 1: Ucapan sapaan atau hormat. Contoh Kalimat: "Jangan lupa mengucapkan salam ketika masuk ke rumah orang lain."
Makna 2: Nama tumbuhan (daun salam). Contoh Kalimat: "Ibu memasukkan dua lembar daun salam ke dalam sayur lodeh agar harum."
14. Jarak
Konteks botani vs spasial.
Makna 1: Rentang wilayah atau sela. Contoh Kalimat: "Pemerintah menerapkan aturan jaga jarak fisik selama pandemi."
Makna 2: Tanaman herbal (minyak jarak). Contoh Kalimat: "Tanaman jarak pagar bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif."
15. Palang
Kata benda yang memiliki makna berbeda dalam konteks lalu lintas dan kemanusiaan.
Makna 1: Kayu atau besi yang dipasang melintang. Contoh Kalimat: "Pengendara motor menerobos palang pintu kereta api yang sudah tertutup."
Makna 2: Tanda salib (Palang Merah). Contoh Kalimat: "Organisasi Palang Merah Indonesia aktif membantu korban bencana alam."
Pentingnya Memahami Konteks Kalimat
Dari berbagai contoh homograf di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Bahasa Indonesia sangat bergantung pada konteks kalimat. Sebuah kata tidak bisa diterjemahkan atau dimaknai secara tunggal tanpa melihat kata-kata lain yang menyertainya.
Kesalahan dalam mengidentifikasi makna homograf dapat berakibat fatal dalam komunikasi formal, seperti dalam penulisan berita, surat perjanjian hukum, atau karya ilmiah. Oleh karena itu, sebagai penutur Bahasa Indonesia yang baik, kepekaan terhadap konteks dan ejaan (serta pelafalan dalam lisan) harus senantiasa diasah.
Semoga daftar contoh homograf ini dapat menambah wawasan kebahasaan Anda dan menjadi referensi yang bermanfaat dalam penulisan maupun percakapan sehari-hari.