Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Secara global prevalensi kanker pada anak dan remaja diperkirakan sekitar 400 ribu anak remaja yang didiagnosa menderita kanker setiap tahunnya.
Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dr Iqbal Mochtar mengatakan dalam memperingati Hari Kanker Anak Sedunia (International Childhood Cancer Day) setiap tanggal 15 Februari bisa jadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kanker anak dan remaja.
"Yang menjadi isu di berbagai negara maju angka survival rate atau kemampuan penderita kanker pada anak untuk bertahan hidup itu di atas 80%. Tetapi di negara-negara yang berkembang termasuk di Indonesia itu survival ratenya hanya sekitar 20-30%. Dan ini tentu saja merupakan tantangan besar bagi penatalaksanaan kanker di negara-negara berkembang," kata Iqbal saat dihubungi, Senin (5/1).
Menurutnya ada beberapa hal yang menyebabkan survival rate kanker anak di negara berkembang sangat rendah. Pertama adalah deteksi yang sering terlambat karena biasanya anak-anak datang ke fasilitas pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan stadium lanjut. Sehingga sangat mengurangi peluang untuk kesembuhan.
Kedua, kurangnya kesadaran. Gejala kanker pada anak sering tidak khas dan seringkali dianggap orangtua sebagai penyakit biasa.
Ketiga, karena terbatas dalam hal akses pelayanan kesehatan yang tidak merata. Di kota besar memang ada fasilitas pelayanan kanker, tetapi di daerah-daerah terpencil sangat kurang. Kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah biaya pengobatan yang tinggi.
"Jadi kanker merupakan penyakit yang kalau diderita oleh orang itu betul-betul akan menguras kemampuan finansial dan juga aspek-aspek kehidupan yang lain. Jadi memang sangat-sangat riskan ya banyak kendala yang kita hadapi di Indonesia," ungkapnya.
Oleh karena itu setiap anak dan remaja harus melakukan cek kesehatan secara rutin. Jika ditemukan kanker dan dapat didiagnosa secara tepat sejak awal serta mendapat perawatan lengkap, maka 90% kasus pada kanker anak bisa disembuhkan. (H-1)
Setiap kulkas diubah menjadi kanvas seni, membawa pesan tentang harapan, kekuatan, dan keceriaan bagi para anak pejuang kanker melalui tema Food for Hope.
Dengan adanya acara ini diharapkan dapat menjadi tempat dan acara yang positif bagi masyarakat Yogyakarta.
Hari peringatan ini pertama kali dilakukan pada 2002 dengan tujuan meningkatkan kesadaran terkait penyakit kanker yang menimpa anak-anak dan juga mengenang mereka yang sudah meninggal.
15 Februari merupakan peringatan Hari Kanker Anak Sedunia. Peringatan itu dimunculkan untuk merayakan keberanian anak-anak dalam menantang kanker dengan semangat luar biasa.
Penderita kanker anak di Indonesia banyak didominasi oleh jenis kanker leukimia
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved