Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGURUS Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), dr Iqbal Mochtar, berharap pemerintah bisa mengebut deteksi dini kanker pada anak. Sehingga kasus kanker pada anak bisa dicegah atau mendapat pengobatan secepat mungkin.
"Di Indonesia, jumlah penderita kanker pada tahun 2020 sekitar 11 ribu kasus. Sebenarnya kita perkirakan bahwa data ini itu underestimate (meremehkan). Jadi data yang tidak sebenarnya karena kita tidak mampu mendiagnosis secara general. Mungkin prevalensi kanker atau jumlah penderita kanker itu lebih banyak dari itu. Mungkin dua atau tiga kali lipat," kata Iqbal saat dihubungi, Senin (5/1).
Menurutnya, ketidakmampuan untuk melakukan diagnosis secara dini atau melakukan deteksi dini yang membuat jumlah kasus cukup tinggi. Iqbal menjelaskan pemerintah telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker pada Anak (RANGKA) dengan tujuan memperluas akses layanan kesehatan, meningkatkan deteksi dini, dan meningkatkan kelangsungan hidup penderita kanker. Jadi diharap hidup penderita kanker anak bisa meningkat dari kurang sekitar 20% menjadi 50%. "Namun ada banyak tantangan, dan terus menggurita di dalam pembangunan kesehatan kita. Apalagi yang paling penting itu adalah terkait pembiayaan. Karena pembiayaan ini tidak murah,'' kata Iqbal.
Ia mencontohkan terkadang penderita kanker membutuhkan pengobatan imunoterapi atau semacam obat yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan imun tubuh untuk melawan kanker yang digunakan di dalam banyak penatalaksana kanker. Tetapi hingga saat ini pengobatan ini tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Padahal harganya mencapai puluhan juta. Di Indonesia kanker yang paling dominan yaitu leukemia, lymphoma atau kanker kelenjar getah bening dan kanker otak dan jaringan saraf.
"Jadi bisa dibayangkan kalau misalnya masyarakat Indonesia yang memiliki anak yang menderita kanker, kemudian diberi resep untuk menggunakan obat-obat tertentu, namun harganya mahal, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Dan jalan yang terakhir mereka lakukan adalah pasrah, membawa kembali anaknya ke rumah, kemudian memberikan pengobatan alternatif," ungkapnya.
Oleh karena itu, kasus tersebut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penurunan survival rate dari penderita kanker. "Jadi pemerintah harus betul-betul serius mengatur penatalaksanaan kanker pada anak, karena kanker pada anak 90% itu sebenarnya bisa ditangani dengan baik jika diketahui dari awal," pungkasnya. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved