Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Uke Adalah: Arti, Asal Usul, dan Perbedaannya dengan Seme

Thalatie K Yani
02/1/2026 13:30
Uke Adalah: Arti, Asal Usul, dan Perbedaannya dengan Seme
Ilustrasi(gemini AI)

Dalam dunia budaya populer Jepang, khususnya yang berkaitan dengan anime, manga, dan fiksi penggemar (fanfiction), terdapat berbagai istilah spesifik yang menggambarkan dinamika karakter. Salah satu istilah yang paling sering muncul dan menjadi pertanyaan banyak orang awam adalah uke. Secara sederhana, uke adalah istilah bahasa Jepang yang merujuk pada posisi 'penerima' dalam sebuah hubungan atau interaksi, baik itu dalam konteks seni bela diri maupun dalam konteks hubungan romantis fiksi.

Meskipun istilah ini sangat populer di kalangan komunitas penggemar (fandom) internasional, penggunaannya sering kali disalahartikan atau hanya dipahami secara dangkal. Memahami arti kata ini secara etimologis dan sosiologis sangat penting untuk mengerti nuansa cerita dalam media pop Jepang. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu uke, dari mana asal katanya, serta bagaimana perannya jika disandingkan dengan pasangannya, yaitu seme.

Asal Usul Kata Uke: Dari Bela Diri hingga Fiksi

Sebelum melekat erat pada subkultur Boys' Love (BL) atau Yaoi, kata uke memiliki akar yang kuat dalam tradisi Jepang yang formal. Secara etimologi, kata ini berasal dari kata kerja bahasa Jepang ukeru, yang berarti 'menerima'.

Dalam konteks seni bela diri tradisional Jepang seperti Judo, Aikido, dan Kendo, istilah uke digunakan untuk menyebut orang yang menerima serangan atau teknik dari lawannya. Dalam latihan, uke adalah mitra yang bertugas menerima bantingan, kuncian, atau lemparan agar pihak penyerang (yang disebut tori atau nage) dapat melatih teknik mereka dengan benar. Dalam filosofi bela diri ini, peran uke sangat krusial dan dihormati karena mereka harus memiliki kemampuan jatuh (ukemi) yang baik untuk menghindari cedera saat menerima teknik.

Pergeseran makna terjadi ketika istilah ini diadopsi ke dalam literatur fiksi, khususnya pada genre yang menggambarkan hubungan sesama jenis dalam manga dan anime. Makna 'menerima' tersebut ditafsirkan ulang ke dalam dinamika hubungan antar karakter, di mana uke menjadi karakter yang lebih pasif atau yang dikejar secara emosional dan fisik.

Perbedaan Utama Antara Uke dan Seme

Dalam narasi fiksi yang menggunakan istilah ini, uke tidak bisa dipisahkan dari pasangannya, yaitu seme. Jika uke adalah pihak penerima, maka seme adalah kebalikannya. Berikut adalah rincian perbedaan dan dinamika keduanya:

1. Arti Kata Seme

Seme berasal dari kata kerja semeru yang berarti 'menyerang' atau 'mendesak'. Dalam fiksi, seme digambarkan sebagai karakter yang lebih dominan, inisiator, atau pihak yang memegang kendali dalam sebuah hubungan. Karakter seme sering kali dicitrakan memiliki sifat yang lebih agresif, protektif, dan memimpin alur romansa.

2. Karakteristik Uke dalam Fiksi

Secara stereotipikal dalam manga dan anime klasik, karakter uke sering digambarkan dengan ciri-ciri tertentu, meskipun tren ini mulai berubah di era modern. Beberapa karakteristik umum yang sering dilekatkan meliputi:

  • Fisik: Sering kali digambarkan lebih ramping, lebih pendek, atau memiliki fitur wajah yang lebih lembut (bishonen) dibandingkan pasangannya.
  • Kepribadian: Cenderung lebih emosional, ekspresif, atau terkadang naif. Namun, tidak jarang pula ditemukan tipe uke yang cerdas, tsundere (tampak dingin tapi perhatian), atau bahkan maskulin (manly uke).
  • Peran dalam Konflik: Sering menjadi pusat konflik emosional atau karakter yang perlu diselamatkan dan dilindungi oleh seme.

Istilah Lain yang Berkaitan: Seke dan Riba

Selain dikotomi uke dan seme, terdapat istilah lain yang melengkapi spektrum dinamika karakter ini. Istilah-istilah ini muncul untuk mengakomodasi kompleksitas hubungan manusia yang tidak selalu hitam-putih.

Salah satu istilah yang cukup populer adalah Seke. Istilah ini merupakan gabungan dari seme dan uke. Karakter seke adalah karakter yang fleksibel; mereka bisa berperan sebagai penyerang (seme) atau penerima (uke) tergantung pada pasangannya atau situasi cerita. Konsep seke dianggap lebih realistis karena mencerminkan hubungan yang setara dan dinamis (versatile).

Selain itu, ada istilah Riba (singkatan dari reversible) yang memiliki makna serupa dengan seke, di mana posisi dalam hubungan bisa bertukar. Penggunaan istilah-istilah ini menunjukkan bahwa dalam budaya pop Jepang, dinamika hubungan karakter sangat diperhatikan detailnya.

Evolusi Makna dalam Budaya Populer Modern

Seiring berjalannya waktu, penggunaan kata uke telah meluas ke luar batas fiksi Jepang. Di era internet, istilah ini sering digunakan sebagai bahasa gaul (slang) di komunitas internasional untuk menggambarkan seseorang yang memiliki sifat penurut, lembut, atau pasif dalam pergaulan sehari-hari, terlepas dari orientasi seksual atau gendernya.

Namun, penting untuk dicatat bahwa dalam karya-karya modern, batasan antara uke dan seme semakin kabur. Banyak penulis manga dan novel kontemporer yang mulai meninggalkan stereotip fisik. Kini, tidak jarang ditemukan karakter uke yang berotot dan kuat, atau karakter seme yang cantik dan lebih pendek. Pergeseran ini menunjukkan bahwa uke adalah peran fungsional dalam narasi, bukan sekadar cetak biru fisik atau kepribadian yang kaku.

Kesimpulan

Memahami istilah uke memberikan wawasan menarik tentang bagaimana bahasa dan budaya Jepang mengategorikan peran dalam interaksi sosial dan fiksi. Dari akarnya yang disiplin di dunia bela diri sebagai penerima teknik, hingga transformasinya menjadi arketipe karakter dalam budaya pop global, istilah ini memiliki sejarah yang panjang.

Secara ringkas, uke adalah representasi dari sisi penerima yang melengkapi sisi dominan (seme). Keduanya menciptakan dinamika yin dan yang yang menjadi pondasi banyak cerita populer. Bagi penikmat budaya pop Jepang, memahami nuansa istilah ini membantu dalam mengapresiasi kedalaman karakter dan alur cerita yang disajikan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya