Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SUARA yang sangat keras tidak hanya mengganggu telinga; paparan kebisingan di atas batas aman dapat merusak pendengaran secara permanen. Telinga manusia sendiri memiliki batas tolerir, yaitu 85 desibel menurut standar kesehatan pendengaran.
Namun, di Bumi terdapat peristiwa alam dan buatan manusia yang menghasilkan suara jauh melampaui batas toleransi manusia. Lantas, hal tersebut menimbulkan pertanyaan “suara manakah yang paling keras pernah tercatat di Bumi?”
Mengutip dari laman Live Science, berikut suara terkeras dari peristiwa alam dan buatan manusia yang pernah tercatat di Bumi.
Sejarah mencatat letusan Gunung Krakatau di Indonesia pada tahun 1883 sebagai salah satu suara paling dahsyat. Dentumannya terdengar lebih dari 3.000 kilometer jauhnya, dan gelombang tekanannya terdeteksi oleh barometer di seluruh dunia. Diperkirakan pada jarak sekitar 160 kilometer, tingkat kebisingannya mencapai 170 desibel, suara sekeras ini cukup untuk menyebabkan kerusakan pendengaran permanen. Bahkan, pada jarak 64 kilometer, dentuman tersebut mampu merobek gendang telinga para pelaut yang berada di sekitarnya.
Namun, profesor sekaligus Kepala Institute for Hearing Technology and Acoustics di RWTH Aachen University, Jerman, Michael Vorländer menjelaskan bahwa suara krakatau di titik dentuman belum pernah diketahui secara pasti.
“Tingkat kebisingan letusan Krakatau di titik sumbernya sebenarnya tidak pernah diketahui secara pasti. Perkiraan bisa dibuat berdasarkan cara rambat gelombang suara, tetapi pendekatan ini sangat tidak pasti,” ujar Michael dikutip dari laman Live Science.
Pada era modern, letusan Gunung Hunga di Tonga pada Januari 2022 dianggap sebagai yang terkeras. Gelombang suara dari letusan ini mengelilingi Bumi berkali-kali dan terdengar ribuan kilometer jauhnya, termasuk di Alaska dan Eropa Tengah.
“Letusan vulkanik berskala besar ini menghasilkan gelombang suara yang mengelilingi Bumi berkali-kali dan masih dapat didengar manusia dari jarak ribuan kilometer,” ujar profesor riset di Geophysical Institute, University of Alaska Fairbanks, David Fee.
Salah satu stasiun ilmiah terdekat dengan letusan, di Nukua’lofa sekitar 68 kilometer dari sumber, mencatat lonjakan tekanan sekitar 1.800 pascal. Jika dikonversi ke desibel normal pada jarak 1 meter, hasilnya sekitar 256 desibel, meski Garces menekankan ini bukan gelombang suara biasa, melainkan udara yang terdorong sangat cepat akibat ledakan.
Manusia juga telah mencoba menciptakan gelombang tekanan ekstrem di laboratorium. Dalam satu percobaan, laser sinar-X ditembakkan ke jet air mikroskopis, menghasilkan gelombang tekanan diperkirakan 270 desibel, ini lebih keras daripada peluncuran roket Saturn V (203 desibel). Namun, percobaan ini dilakukan di ruang hampa udara, sehingga gelombang tekanan sepenuhnya senyap. (Live Science/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved