Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Yasin Fadilah merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar umat Muslim di Indonesia, khususnya di kalangan santri dan masyarakat tradisional. Istilah ini merujuk pada pembacaan Surat Yasin yang disisipi dengan doa-doa tertentu pada ayat-ayat khusus. Praktik ini biasanya dilakukan dengan tujuan tawassul atau memohon kepada Allah SWT agar hajat-hajat yang mendesak segera dikabulkan. Meskipun populer, masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya mengenai tata cara yang benar serta bagaimana hukum mengamalkannya dalam pandangan syariat Islam.
Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai apa itu Yasin Fadilah, perbedaannya dengan Yasin biasa, hukum membacanya menurut para ulama, serta panduan tata cara pelaksanaannya.
Secara harfiah, Yasin Fadilah bukanlah nama sebuah surat baru di dalam Al-Qur'an. Ia tetaplah Surat Yasin yang terdiri dari 83 ayat, namun dalam pembacaannya terdapat pengulangan pada ayat-ayat tertentu dan penyisipan doa-doa (wirid). Penambahan doa ini dilakukan pada ayat-ayat yang dianggap memiliki keutamaan atau fadilah khusus.
Perbedaan mendasar antara Yasin Fadilah dan Yasin biasa terletak pada metode pembacaannya. Jika Yasin biasa dibaca secara muttasil (bersambung) dari ayat pertama hingga terakhir tanpa jeda doa di tengah-tengahnya, maka Yasin Fadilah menyisipkan munajat di sela-sela ayat. Biasanya, doa disisipkan setelah ayat yang mengandung makna rahmat, keajaiban, atau kekuasaan Allah SWT.
Mengenai hukum membaca Yasin Fadilah, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama, namun mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah memperbolehkannya dengan catatan tertentu. Berikut adalah rincian pandangannya:
Secara umum, membaca Yasin Fadilah diperbolehkan sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan wasilah doa, asalkan tetap menjaga adab dan tidak mencampuradukkan redaksi Al-Qur'an dengan perkataan manusia (doa).
Dalam praktiknya, terdapat beberapa versi Yasin Fadilah yang beredar di masyarakat. Namun, pola yang paling umum adalah pengulangan pada tujuh ayat mubin (ayat yang diakhiri kata mubin) atau pengulangan pada ayat ke-58. Berikut adalah panduan umum titik-titik penyisipan doa:
Salah satu ciri khas utama Yasin Fadilah adalah pada ayat ke-58. Ayat ini sering diulang sebanyak 7 kali, 21 kali, atau bahkan 41 kali tergantung ijazah yang diterima dari kyai atau guru. Berikut adalah bacaan ayatnya:
سَلَٰمٌ قَوْلًا مِّن رَّبٍّ رَّحِيمٍ
"Salaamun qawlam mir rabbir rahiim"
Artinya: "(Kepada mereka dikatakan): 'Salam', sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang."
Setelah mengulang ayat di atas, biasanya dilanjutkan dengan membaca doa khusus untuk memohon keselamatan dan terkabulnya hajat.
Dalam Surat Yasin, terdapat tujuh ayat yang diakhiri dengan kata Mubin. Pada setiap akhir ayat ini, pembaca Yasin Fadilah biasanya berhenti sejenak untuk membaca doa. Berikut adalah doa singkat yang sering dibaca:
اَللّٰهُمَّ يَا مُفَرِّجَ الْهُمُوْمِ، وَيَا مُنَفِّسَ الْكُرُوْبِ، وَيَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّيْنَ، يَا رَحْمٰنَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَرَحِيْمَهُمَا، اِرْحَمْنِيْ رَحْمَةً تُغْنِيْنِيْ بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ
"Allaahumma yaa mufarrijal humuum, wa yaa munaffisal kuruub, wa yaa mujiiba da’watil mudhtharriina, yaa rahmaanad dun-yaa wal aakhirati wa rahiimahumaa, irhamnii rahmatan tughniinii bihaa ‘an rahmati man siwaaka."
Artinya: "Ya Allah, Dzat yang menghilangkan kesedihan, Dzat yang melapangkan kesusahan, Dzat yang mengabulkan doa orang-orang yang dalam kesulitan, Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di dunia dan akhirat serta Maha Penyayang di keduanya, rahmatilah aku dengan rahmat yang menjadikanku tidak membutuhkan rahmat selain dari-Mu."
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian surat hingga ayat ke-83, dianjurkan membaca doa penutup Yasin Fadilah yang cukup panjang. Salah satu kutipan doa yang masyhur adalah:
سُبْحَانَ الْمُنَفِّسِ عَنْ كُلِّ مَدْيُوْنٍ، سُبْحَانَ الْمُفَرِّجِ عَنْ كُلِّ مَحْزُوْنٍ، سُبْحَانَ مَنْ جَعَلَ خَزَائِنَهُ بَيْنَ الْكَافِ وَالنُّوْنِ، سُبْحَانَ مَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ
"Subhaanal munaffisi ‘an kulli madyuun, subhaanal mufarriji ‘an kulli mahzuun, subhaana man ja’ala khazaainahu bainal kaafi wan nuun, subhaana man idzaa araada syai-an an yaquula lahu kun fayakuun."
Artinya: "Maha Suci Dzat yang melepaskan beban hutang dari setiap orang yang berhutang, Maha Suci Dzat yang menghilangkan kesedihan dari setiap orang yang bersedih, Maha Suci Dzat yang menjadikan perbendaharaan-Nya di antara Kaf dan Nun (Kun), Maha Suci Dzat yang apabila menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya: 'Jadilah!', maka jadilah ia."
Membaca Yasin Fadilah diyakini memiliki banyak fadhilah atau keutamaan, terutama jika diamalkan dengan hati yang ikhlas dan penuh keyakinan kepada Allah SWT. Beberapa keutamaan yang sering dirasakan oleh pengamalnya antara lain:
Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa Yasin Fadilah hanyalah sebuah metode atau kaifiyah dalam berdoa melalui wasilah Al-Qur'an. Kekuatan utamanya tetap terletak pada ayat-ayat Allah dalam Al-Qur'an itu sendiri dan keikhlasan hamba yang memohon. Bagi Anda yang ingin mengamalkannya, disarankan untuk memiliki guru atau pembimbing agar bacaan dan tata caranya sesuai dengan tuntunan yang benar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved