Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Peneliti Konfirmasi Kasus Kematian Akibat Alergi Daging Merah yang Dipicu Gigitan Kutu

Thalatie K Yani
18/12/2025 12:30
Peneliti Konfirmasi Kasus Kematian Akibat Alergi Daging Merah yang Dipicu Gigitan Kutu
Seorang pria di New Jersey meninggal dunia setelah menyantap hamburger. Peneliti mengonfirmasi ini sebagai kasus kematian pertama akibat alergi alpha-gal yang dipicu gigitan kutu.(Unsplash)

SEBUAH penemuan medis mengejutkan datang dari University of Virginia School of Medicine. Peneliti secara resmi mengonfirmasi kasus kematian pertama akibat sindrom alpha-gal, sebuah kondisi langka yang dikenal sebagai "alergi daging" yang ditularkan melalui gigitan kutu.

Kasus ini menimpa seorang pria berusia 47 tahun asal New Jersey yang sebelumnya dikenal sehat. Ia meninggal mendadak sekitar empat jam setelah menyantap hamburger. Selama berbulan-bulan, penyebab kematiannya menjadi misteri hingga Dr. Thomas Platts-Mills, spesialis alergi internasional dari UVA Health, melakukan penyelidikan mendalam.

Pemicu dari Gigitan Kutu Lone Star 

Alergi ini berkembang setelah seseorang digigit kutu Lone Star. Gigitan tersebut memicu sistem kekebalan tubuh menjadi sensitif terhadap alpha-gal, sejenis gula yang ditemukan secara alami pada daging mamalia seperti sapi, babi, atau domba.

Gejala yang umum meliputi ruam kulit, mual, hingga muntah. Namun, yang membuat kondisi ini berbahaya adalah jeda waktu reaksi yang muncul 3 - 5 jam setelah makan, sehingga sering kali pasien tidak menyadari keterkaitannya dengan makanan yang mereka konsumsi.

"Informasi penting bagi publik adalah. Pertama, nyeri perut parah yang terjadi 3-5 jam setelah makan daging sapi, babi, atau domba harus diselidiki sebagai kemungkinan episode anafilaksis," tegas Dr. Platts-Mills. Ia juga menambahkan gigitan kutu yang gatal lebih dari seminggu dapat meningkatkan sensitivitas terhadap daging mamalia.

Kronologi Kejadian dan Temuan Autopsi

Pria tersebut dilaporkan sempat berkemah bersama keluarganya pada musim panas 2024. Dua minggu setelah mengalami beberapa gigitan gatal di pergelangan kaki yang awalnya dikira gigitan tungau, ia menyantap hamburger di sebuah acara barbeku.

Tak lama setelah makan, ia jatuh pingsan di kamar mandi. Meski otopsi awal mencatat penyebab kematian sebagai "kematian mendadak yang tidak dapat dijelaskan," tes darah lanjutan yang dilakukan tim Platts-Mills menunjukkan adanya respons imun ekstrem yang konsisten dengan anafilaksis fatal akibat alpha-gal.

Faktor Risiko yang Meningkat

Beberapa faktor diduga memperparah reaksi alergi pada pria tersebut, termasuk konsumsi bir bersama hamburger, paparan serbuk sari, serta aktivitas fisik berat pada hari yang sama.

Dr. Platts-Mills kini mendesak para dokter untuk lebih waspada, terutama karena populasi rusa yang meningkat di banyak wilayah menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran kutu Lone Star.

"Sangat penting bagi dokter dan pasien yang tinggal di area di mana kutu Lone Star umum ditemukan untuk menyadari risiko sensitivitas ini," ujarnya.

Temuan penting ini telah dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice dan tersedia secara terbuka untuk dipelajari oleh tenaga medis di seluruh dunia guna mencegah tragedi serupa terulang kembali. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya