Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Peneliti Temukan Protein "Pembantu" Pengatur Nafsu Makan

Thalatie K Yani
18/12/2025 12:05
Peneliti Temukan Protein
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH tim peneliti internasional berhasil mengidentifikasi protein yang selama ini terabaikan namun memiliki peran vital dalam mengatur nafsu makan dan penggunaan energi tubuh. Penemuan ini memberikan titik terang bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana faktor genetik dapat memicu obesitas pada seseorang.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Science Signaling pada 16 Desember 2025, tim yang dipimpin para peneliti dari University of Birmingham mengungkapkan sistem pengatur nafsu makan tidak bekerja sendirian. Sebuah protein bernama MC3R, yang bertugas memutuskan apakah tubuh harus membakar energi atau menyimpannya, ternyata sangat bergantung pada protein "pembantu" yang disebut MRAP2.

Bagaimana Protein Bekerja Menyeimbangkan Energi? 

Penelitian sebelumnya telah mencatat peran MRAP2 dalam mendukung protein MC4R untuk mengendalikan rasa lapar. Namun, studi terbaru ini membuktikan MRAP2 juga memberikan dukungan serupa pada MC3R.

Melalui pengamatan pada model sel, para peneliti menemukan ketika jumlah MRAP2 seimbang dengan MC3R, sinyal seluler pengatur energi menjadi jauh lebih kuat. Artinya, MRAP2 adalah komponen kunci yang membantu tubuh menjaga keseimbangan antara asupan makanan dan penggunaan energi.

Mutasi Genetik dan Pelemahan Sinyal Kenyang 

Para peneliti juga menguji apa yang terjadi jika protein MRAP2 mengalami mutasi genetik, seperti yang ditemukan pada beberapa penderita obesitas. Hasilnya cukup mengejutkan, versi mutasi dari MRAP2 gagal meningkatkan sinyal MC3R. Akibatnya, sistem pengatur nafsu makan tidak merespons secara efektif, sehingga metabolisme tubuh terganggu.

Dr. Caroline Gorvin, Profesor Madya di University of Birmingham sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan signifikansi temuan tersebut bagi dunia medis. "Temuan ini memberi kita wawasan penting tentang apa yang terjadi dalam sistem hormonal terkait fungsi utama seperti keseimbangan energi, nafsu makan, dan waktu pubertas," ujar Dr. Gorvin. 

"Identifikasi MRAP2 sebagai pendukung utama protein pengatur nafsu makan ini juga memberi kita petunjuk baru bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan genetik terhadap obesitas."

Peluang Pengobatan di Masa Depan 

Pemahaman mendalam mengenai interaksi protein ini membuka peluang pengembangan obat baru di masa depan. Para peneliti berharap dapat menciptakan terapi yang menargetkan protein MRAP2 untuk memperkuat rasa kenyang dan mengurangi keinginan makan berlebih.

Langkah ini diharapkan menjadi solusi medis yang efektif bagi individu dengan risiko obesitas genetik, terutama ketika metode diet konvensional saja tidak cukup memberikan hasil. Studi kolaboratif ini melibatkan para ahli metabolisme dan pensinyalan sel dari University of Birmingham dan University of Nottingham, yang berfokus pada pengembangan terapi untuk penyakit meluas seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya