Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Waspada! Radang Usus Kronis (IBD) Bisa Picu Komplikasi Serius

Basuki Eka Purnama
11/12/2025 19:33
Waspada! Radang Usus Kronis (IBD) Bisa Picu Komplikasi Serius
Ilustrasi(Freepik)

PENYAKIT Radang Usus Kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan kondisi peradangan berulang pada usus yang membutuhkan perhatian serius. IBD, yang mencakup Kolitis Ulseratif dan Penyakit Crohn, dapat menimbulkan komplikasi fatal jika tidak dideteksi dan ditangani sejak dini.

Peringatan ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, seorang dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi–hepatologi, dalam sebuah kegiatan di Jakarta, baru-baru ini. Ia menekankan bahwa penanganan dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup pasien.

“IBD merupakan penyakit peradangan usus kronis yang dapat kambuh dan membutuhkan pemantauan jangka panjang. Sangat penting untuk mendeteksi dan mendapatkan penanganan dini agar komplikasi dapat dicegah dan kualitas hidup pasien tetap terjaga,” ujar dokter yang berpraktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Gejala yang Kerap Disalahdiagnosis

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan IBD adalah gejalanya yang seringkali mirip dengan gangguan pencernaan ringan lainnya, sehingga kerap menyebabkan salah diagnosis.

Oleh karena itu, masyarakat diminta mewaspadai sejumlah gejala yang berlangsung persisten, antara lain:

  • Diare berkepanjangan lebih dari empat minggu.
  • Nyeri atau kram perut.
  • Buang air besar berdarah atau berlendir.
  • Kelelahan menetap.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab.
  • Demam, nyeri sendi, mata merah atau nyeri, serta kelainan kulit.
  • Pada anak, perhatikan jika terjadi pertumbuhan terhambat.

Ari menegaskan pentingnya pemeriksaan menyeluruh dan konsultasi dengan konsultan gastroenterologi untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat.

Faktor Pemicu dan Pengobatan

Meskipun penyebab pasti IBD belum sepenuhnya diketahui, kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, mikrobiota usus, dan respons imun tubuh.

Faktor gaya hidup dan pola makan memainkan peran besar. Ketidakseimbangan bakteri usus dapat dipicu oleh konsumsi tinggi makanan olahan dan gula, rendah serat, kebiasaan merokok, lingkungan terlalu steril, dan stres berat.

Setelah diagnosis pasti ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan, termasuk wawancara medis, laboratorium, kolonoskopi, biopsi, serta penunjang radiologi, pengobatan dapat dimulai.

Pengobatan IBD mencakup perubahan pola makan dan gaya hidup, disertai terapi medis. Terapi definitif dapat berupa 5-aminosalicylates, kortikosteroid, imunomodulator, hingga terapi biologis.

Salah seorang pasien IBD, Steven Tafianoto Wong, menceritakan pengalamannya. Ia sempat mengalami gejala selama lima bulan sebelum akhirnya didiagnosis pasti. Setelah mencoba berbagai jenis pengobatan, ia merasa terapi biologis yang ia jalani sejauh ini merupakan yang paling efektif.

“Awalnya saya diberi banyak obat, lalu dalam setahun pertama dilakukan terapi oral, injeksi, dan biologis. Terapi biologis paling ampuh karena sampai sekarang masih saya jalani,” kata Steven.

Peran Dukungan dan Pengelolaan Stres

Ari memperkirakan IBD dialami oleh sekitar satu persen populasi Indonesia, dengan sebagian besar (sekitar 80 persen) tergolong kasus ringan yang bisa diatasi dengan obat oral. Ia mencatat bahwa kasus berat jarang ditemukan di Indonesia.

Namun, ia mengingatkan bahwa **stres berat dapat memperburuk kondisi pasien. Adanya hubungan antara otak dan usus membuat stres berpotensi memicu peradangan. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga dan lingkungan, serta pengelolaan stres, sangat penting dalam proses penyembuhan.

Dengan pemahaman yang lebih baik dan deteksi dini yang ditingkatkan, diharapkan pasien IBD dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik melalui pengobatan teratur dan penerapan gaya hidup sehat. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya