Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Sulit Belajar Matematika? Mungkin Anda Alami Dyscalculia

Thalatie K Yani
08/12/2025 10:00
Sulit Belajar Matematika? Mungkin Anda Alami Dyscalculia
Ilustrasi(freepik)

GANGGUAN belajar matematika atau dyscalculia kembali menjadi perbincangan. Hal itu setelah mantan personel Spice Girls yang kini desainer fesyen, Victoria Beckham, membagikan pengalamannya.

“Saya mendiagnosis diri sendiri sebagai disleksia. Saya menderita dyscalculia. Semua hal yang tidak dikenali ketika saya kecil, mereka hanya menyebut saya ‘bodoh’,” ujarnya dalam episode podcast Call Her Daddy pada Oktober 2025. Beckham menjelaskan ia mengalami kesulitan akademis sejak kecil.

Jika disleksia kerap dibahas karena memengaruhi hingga 20% populasi, dyscalculia jauh lebih jarang dikenal. Namun setelah pengakuan Beckham, berbagai media menyorotnya dan memuji langkah tersebut karena membantu meningkatkan kesadaran publik.

Apa Itu Dyscalculia?

Dyscalculia merupakan gangguan belajar yang membuat seseorang kesulitan memahami, memproses, dan menggunakan kemampuan matematika. Gangguan ini memengaruhi jaringan otak yang memproses angka. Sandra Elliott, PhD, penasihat senior program TouchMath, menjelaskan riset menunjukkan gangguan ini memengaruhi hingga 7% populasi.

Gejala Dyscalculia

Gejala biasanya muncul sejak masa kanak-kanak. Elliott menyebut tanda yang bisa diamati adalah kesulitan memahami angka dan nilainya, kesulitan mengingat konsep dasar matematika, serta kesulitan menghitung secara mental. Anak juga mungkin kesulitan memperkirakan ukuran, waktu, atau arah. Saat lebih besar, mereka dapat mengalami kesulitan menghitung uang kembalian atau menilai harga diskon.

Ia menambahkan gejala “dimulai pada usia yang sangat dini. Hal itu sebabnya relatif mudah mengenalinya ketika kondisinya cukup berat.”

Mengapa Banyak Anak Tidak Terdiagnosis?

Tidak ada tes baku untuk mendiagnosis dyscalculia. Evaluasi dilakukan melalui serangkaian tes kemampuan matematika sambil menyingkirkan penyebab lain. Meskipun tidak memiliki obat, intervensi dapat dilakukan melalui metode pembelajaran multisensori dan penyesuaian di kelas, seperti penggunaan kalkulator atau tambahan waktu ujian.

Andrew Kahn, PsyD, dari Understood.org, menekankan pentingnya intervensi dini karena otak anak masih berkembang. “Jika anak tidak menerima dukungan sejak awal, mereka jauh lebih mungkin mengalami tantangan emosional, kesehatan mental, dan perilaku,” ujarnya.

Kurangnya riset juga menjadi hambatan. “Sangat sedikit penelitian mengenai dyscalculia, tidak mendekati jumlah riset tentang disleksia,” kata Karen Anderson, PhD, Direktur Office of Mathematics Improvement Alabama. Hal ini membuat banyak anak tidak teridentifikasi.

Kahn menambahkan penelitian sulit dilakukan. Pasalnya konsensus mengenai definisinya relatif lemah, berbeda dengan disleksia yang lebih mudah didefinisikan.

Perubahan Kebijakan dan Kekhawatiran Pakar

Pada 2025, Iowa, Indiana, Montana, dan North Dakota mengesahkan legislasi matematika yang mencakup program skrining atau intervensi, termasuk penyebutan spesifik dyscalculia. Ini melanjutkan tujuh negara bagian yang membuat aturan serupa pada 2022-2023.

"Saat ini banyak keluarga mendengar kata dyscalculia jauh setelah anak mereka mengalaminya. Hal itu perlu diubah," ujar Senator Janice Marchman di Colorado. Ia menilai pemeriksaan dini matematika sama pentingnya dengan pemeriksaan membaca.

Namun sejumlah pakar khawatir perubahan struktur Departemen Pendidikan AS dan pemindahan program pendidikan khusus ke Departemen Kesehatan dapat menurunkan pengawasan layanan pendidikan khusus di negara bagian.

Senator Marchman mengatakan Colorado memiliki keterbatasan pendanaan dan tengah memetakan dukungan mana yang mungkin hilang apabila pemerintah federal mengubah pendanaannya.

Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua?

Karen Anderson mengatakan orangtua dapat membantu melalui aktivitas matematika informal seperti permainan dadu atau berdiskusi tentang harga barang saat berbelanja.

Marchman menambahkan orangtua yang melihat anaknya kesulitan dapat berkonsultasi ke sekolah. “Orangtua telah mengubah cara pandang terhadap disleksia. Mereka akan melakukan hal yang sama untuk diskalkulia.,” ujarnya. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya