Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Pertempuran Medan Area dikenal sebagai salah satu pertempuran fisik terbesar yang melibatkan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar pemuda melawan kekuatan militer asing yang jauh lebih lengkap persenjataannya. Konflik ini bermula dari ketegangan politik yang memuncak menjadi bentrokan fisik, menandai semangat anti-kolonialisme yang kuat di tanah Deli.
Segera setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, kabar tersebut baru sampai ke rakyat Medan secara luas pada akhir Agustus. Euforia kemerdekaan segera diuji dengan kedatangan pasukan Sekutu.
Pada tanggal 9 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah komando Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Medan. Awalnya, kedatangan mereka disambut baik oleh pemerintah Republik Indonesia di Sumatra Utara. Pemerintah setempat menghormati tugas Sekutu untuk mengurus tawanan perang (POW/Prisoners of War) yang ditahan oleh Jepang.
Namun, situasi berubah drastis ketika diketahui bahwa pasukan Sekutu (Inggris) tersebut diboncengi oleh NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih kembali pemerintahan Hindia Belanda. NICA segera memancing kemarahan rakyat dengan mempersenjatai kembali bekas tawanan perang Belanda dan membentuk batalion KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) di Medan. Sikap arogan bekas tawanan yang merasa superior ini memicu berbagai insiden kekerasan di kota Medan.
Ketegangan yang terakumulasi akhirnya meledak pada tanggal 13 Oktober 1945. Peristiwa ini dikenal sebagai insiden Hotel Bali yang berlokasi di Jalan Sutomo, Medan. Pemicu utamanya adalah tindakan provokatif seorang penghuni hotel (anggota NICA) yang merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai oleh seorang pemuda Indonesia.
Tindakan pelecehan terhadap simbol negara ini menyulut amarah para pemuda. Akibatnya, hotel tersebut diserang dan dirusak oleh para pemuda yang marah. Insiden ini mengakibatkan jatuhnya korban luka dan tewas dari kedua belah pihak, sekaligus menjadi titik awal pecahnya pertempuran terbuka di seluruh kota Medan.
Pasca insiden Hotel Bali, bentrokan senjata menjalar ke berbagai sudut kota. Pihak Sekutu yang merasa terancam kemudian mengeluarkan ultimatum pada tanggal 18 Oktober 1945. Brigjen T.E.D. Kelly menuntut agar rakyat Indonesia menyerahkan senjata mereka kepada Sekutu. Tentu saja, ultimatum ini ditolak mentah-mentah oleh para pejuang dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Pada tanggal 1 Desember 1945, pihak Sekutu memasang papan-papan kayu di berbagai sudut pinggiran kota Medan yang bertuliskan "Fixed Boundaries Medan Area" (Batas Resmi Wilayah Medan). Papan-papan inilah yang kemudian melatarbelakangi penamaan peristiwa sejarah ini sebagai Pertempuran Medan Area. Tindakan penetapan batas wilayah secara sepihak ini dianggap sebagai tantangan terbuka terhadap kedaulatan Republik Indonesia.
Ketegangan mencapai puncaknya pada tanggal 10 Desember 1945. Sekutu melancarkan serangan militer besar-besaran dengan menggunakan pesawat tempur, tank, dan artileri berat untuk menggempur basis-basis pertahanan TKR di Trepes. Serangan ini bertujuan untuk menghancurkan konsentrasi TKR dan laskar rakyat.
Meskipun kalah dalam hal persenjataan, para pejuang memberikan perlawanan yang sangat sengit. Pertempuran ini mengakibatkan banyak korban jiwa. Karena tekanan militer yang begitu kuat, pasukan TKR akhirnya mundur ke arah Pematang Siantar dan menjadikan kota tersebut sebagai basis perjuangan baru untuk melakukan perang gerilya melawan Sekutu di Medan.
Untuk mengoordinasikan perlawanan yang lebih terstruktur, pada bulan April 1946, para pemimpin laskar dan TKR mengadakan pertemuan. Hasilnya adalah pembentukan Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Struktur komando ini bertujuan untuk menyatukan berbagai elemen kekuatan rakyat agar tidak bergerak sendiri-sendiri, sehingga serangan terhadap Sekutu menjadi lebih efektif.
Markas komando ini berpindah-pindah untuk menghindari sergapan musuh, namun semangat perlawanan terus dikobarkan melalui serangan-serangan gerilya yang merepotkan pasukan Belanda dan Sekutu hingga tahun 1947.
Keberhasilan perlawanan rakyat Sumatra Utara tidak lepas dari peran serta para tokoh yang memimpin dan menggerakkan massa. Berikut adalah beberapa tokoh kunci dalam peristiwa ini:
Pertempuran Medan Area memiliki dampak yang signifikan bagi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Secara fisik, kota Medan terbagi menjadi dua wilayah dan mengalami kerusakan akibat perang. Namun, secara moral, pertempuran ini membuktikan bahwa rakyat Sumatra Utara memiliki tekad yang baja untuk mempertahankan kemerdekaan.
Peristiwa ini juga menunjukkan solidaritas yang kuat antara berbagai suku dan golongan di Sumatra Utara dalam menghadapi musuh bersama. Hingga saat ini, untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur, dibangunlah Tugu Perjuangan Medan Area di Jalan Sutomo, tempat di mana insiden lencana pertama kali terjadi. Tugu ini menjadi pengingat abadi akan semangat patriotisme rakyat Medan yang tak pernah padam. (P-4)
Tragedi ini memakan korban yang tercatat sebanyak 7 pemuda meninggal dunia, 7 orang pihak NICA meninggal dunia dan 96 orang pihak NICA mengalami luka-luka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved