Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Misi Indonesia Emas: MBG Hadirkan Layanan Gizi Berkualitas di Wilayah Delineasi IKN Hingga ke Pelosok

Media Indonesia
03/12/2025 07:15
Misi Indonesia Emas: MBG Hadirkan Layanan Gizi Berkualitas di Wilayah Delineasi IKN Hingga ke Pelosok
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di wilayah IKN berjalan lancar, memperkuat pemenuhan gizi anak sekolah serta meningkatkan kualitas kesehatan dan SDM menuju Indonesia Emas 2045.(Otorita IKN)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Program yang merupakan implementasi dari salah satu misi Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto ini dirancang untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pemenuhan gizi bagi kelompok rentan, termasuk balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Di wilayah deliniasi Ibu Kota Nusantara (IKN), pelaksanaan program ini juga difokuskan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui penyediaan makanan sehat di sekolah. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diberi mandat untuk memastikan setiap anak mendapatkan asupan bergizi sesuai standar Angka Kecukupan Gizi (AKG).

program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah saat ini merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia. Program ini juga akan diterapkan di Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai bagian dari percepatan pembangunan wilayah dan peningkatan layanan dasar bagi masyarakat.

Tujuh Kecamatan dari dua Kabupaten, yaitu Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara (PPU), gencar mengembangkan penyaluran makanan bergisi hingga ke pelosok.

Kepala SPPG Muara Jawa Ulu, Hj. Mahdalena, menegaskan bahwa distribusi MBG di wilayahnya berjalan stabil dan tepat waktu berkat koordinasi terpadu seluruh tim. Penyaluran melibatkan 16 sekolah dan madrasah dengan total 3.296 siswa penerima manfaat.

“Alhamdulillah, penyaluran MBG sejauh ini berjalan dengan baik. Setiap pagi kami selalu menjaga komitmen agar anak-anak mendapatkan makanan tepat waktu. Kadang ada kendala seperti cuaca, tapi kami tetap berusaha semampunya, karena kami tahu di ujung sana ada anak-anak yang menunggu. Itu yang membuat kami tetap semangat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa alur distribusi mulai dari persiapan dapur hingga makanan diterima siswa telah tersusun sistematis. “Kami sudah punya alur distribusi yang jelas. Kendala ada sesekali, seperti cuaca, tapi semuanya masih bisa kami atasi. Intinya, kami berusaha menjaga kualitas dan ketepatan waktu setiap hari,” tambahnya.

Menu harian yang disiapkan juga merujuk pada standar gizi nasional. Mahdalena merinci bahwa makanan yang diberikan selalu mengandung komposisi lengkap dan seimbang.

“Menu kami terdiri dari protein hewani seperti ayam, telur, ikan, atau daging sapi. Ada juga protein nabati seperti tahu dan tempe, serta kacang-kacangan. Untuk karbohidrat, biasanya nasi, mie, atau roti. Kami lengkapi dengan sayuran dan buah segar. Kami berusaha memberikan variasi setiap hari supaya anak-anak tidak bosan tapi tetap terpenuhi gizinya,” paparnya.

Bagi Mahdalena, keberhasilan MBG bukan hanya soal distribusi yang tepat waktu, tetapi juga dampak jangka panjang bagi kesehatan anak-anak di wilayah pesisir.

“Harapan saya sederhana, saya ingin anak-anak di Muara Jawa tumbuh sehat, kuat, dan ceria. Dengan makanan bergizi yang rutin mereka terima, semoga bisa membantu perkembangan tubuh dan otak mereka, sehingga mereka bisa belajar lebih baik dan menjadi generasi yang berkualitas,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa melihat anak-anak makan dengan lahap menjadi salah satu kebahagiaan yang menguatkan komitmennya setiap hari. “Saya percaya, asupan bergizi yang mereka terima hari ini akan jadi fondasi penting untuk hidup mereka ke depan,” tambahnya.

Sebagai warga di wilayah IKN, Mahdalena merasa bangga dapat berkontribusi dalam pembangunan masa depan Indonesia dari sektor pemenuhan gizi.

“Walaupun saya bekerja dari dapur, rasanya seperti ikut meletakkan satu batu kecil dalam pondasi masa depan anak-anak bangsa. Apalagi kita berada di wilayah IKN, pusat masa depan Indonesia. Bisa berkontribusi di sini adalah kebanggaan besar buat saya,” tuturnya.

Dengan komitmen yang kuat, SPPG Muara Jawa Ulu bertekad menjaga kualitas layanan pemenuhan gizi bagi anak-anak, sekaligus memperkokoh peran IKN sebagai pusat pengembangan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Di Sepaku, Masa Depan IKN Dimulai dari Kotak Makan Anak Sekolah

Di halaman SDN 020 Sepaku, deru mesin pembangunan Ibu Kota Nusantara terdengar sayup menembus pepohonan yang belum sepenuhnya rapat. Di tengah riuh proyek yang tak pernah benar-benar tidur, sekelompok siswa duduk rapi sambil membuka kotak makan berisi lauk sederhana namun berimbang. Ada aroma ikan, sayuran, dan nasi hangat. Pemandangan yang hingga beberapa tahun lalu belum menjadi kebiasaan di sekolah-sekolah sekitar Kecamatan Sepaku.

Kotak makan itu adalah bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu skema prioritas nasional yang pelaksanaannya kini merambah wilayah Delineasi IKN. Bersama Cek Kesehatan Gratis (CKG), program ini menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat fondasi sosial bagi calon ibu kota negara.

“Suka sekali sama menu makannya. Setiap hari makannya enak-enak,” kata Riski, salah satu murid SDN 020 Sepaku.

Belum lama ini, Staf Khusus Wakil Presiden, N.T. Budi Harjanto, menyempatkan diri turun ke Sepaku. Kunjungannya dimulai dari sekolah-sekolah penerima manfaat hingga dapur produksi di Desa Bumi Harapan. Budi, yang tampak mencatat setiap temuan lapangan, menyampaikan penilaiannya tanpa banyak basa-basi.

“Alhamdulillah, program MBG dan CKG di Kecamatan Sepaku ini berjalan lancar tanpa kendala berarti,” katanya. Meski demikian, ia menekankan pentingnya tindak lanjut atas hasil pemeriksaan kesehatan siswa. “Hasil Cek Kesehatan Gratis harus diberikan kembali kepada penerima manfaat agar bisa dilakukan langkah perbaikan secara berkelanjutan.”

Kata "berkelanjutan" itu tampak sesuai dengan filosofi pembangunan IKN, kota yang diklaim akan mengusung inklusivitas dan keberlanjutan. Tapi di lapangan, keberlanjutan bukan soal jargon, melainkan sistem yang benar-benar bekerja.

Di sekitar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), dua area layanan menjadi tulang punggung program tersebut. yaitu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumi Harapan dan Tengin Baru. SPPG Bumi Harapan menangani 16 sekolah dengan lebih dari 2.700 penerima manfaat, dan SPPG Tengin Baru melayani dua sekolah dengan sekitar 1.000 siswa.

Di SPPG Bumi Harapan, dapur bekerja sejak dini hari. Kotak-kotak makanan ditata di meja panjang, sementara para petugas mengecek temperatur makanan sebelum dikirimkan. Dari lokasi inilah ratusan kotak makan berpacu dengan waktu menuju sekolah-sekolah yang jalannya tak selalu mulus.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang mendampingi kunjungan Budi, menyebut program ini sebagai bukti perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat yang hidup berdampingan dengan mega-proyek pembangunan.

“Wilayah delineasi IKN menjadi bagian dari program prioritas nasional MBG dan CKG. Kunjungan ini bukan hanya meninjau pelaksanaan program, tetapi juga perkembangan pembangunan IKN, termasuk Istana Wakil Presiden,” ujarnya.

Nada suaranya menunjukkan bahwa pembangunan manusia tak kalah penting dari pembangunan fisik, setidaknya dalam narasi resmi pemerintah.

Menuju Kota yang Cerdas, Dimulai dari Anak-Anak Sehat

Program MBG dan CKG bukan hanya soal memberi makanan dan memeriksa kesehatan. Pemerintah  mencoba mengintervensi lingkaran sosial baru yang sedang tumbuh di area penyangga ibu kota masa depan. Para guru kini memantau berat badan siswanya, sekaligus melaporkan jika ada anak yang perlu penanganan lebih intensif. Di beberapa sekolah, guru mengaku baru pertama kali melihat data kesehatan siswa mereka tersusun rapi.

Di ruang-ruang kelas itulah, masa depan IKN disiapkan secara senyap. Pembangunan kota memang berlangsung di tingkat atas, seperti gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang rapi, dan istana yang kokoh. Tapi, Otorita IKN juga membangun sumber daya manusia dari masa-masa sekolah berlangsung.

Dari meja makan siswa yang sederhana, pemerintah berharap anak-anak ini kelak menjadi penduduk produktif yang mengisi ruang sosial dan ekonomi IKN. Di Sepaku, masa depan itu dimulai bukan dari gedung pencakar langit, melainkan dari sebuah kotak makan bergizi yang setiap pagi hadir di tangan anak-anak. (RO/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya