Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DI bulan yang selalu diidentikkan dengan semangat perjuangan bangsa, sebuah perayaan literasi dan refleksi mendalam kembali digelar untuk menghidupkan kembali denyut kemanusiaan yang pernah ditanamkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
Bertempat di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, acara “Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia” pada Minggu (30/11), menjadi ruang berkumpulnya para pemerhati sastra, pegiat budaya, dan pembaca lintas generasi untuk menelusuri makna kemanusiaan yang menjadi inti dari karya-karya Pram.
Diselenggarakan oleh Yayasan Pramoedya Ananta Toer bekerja sama dengan Pemkot DKI Jakarta dan PDS HB Jassin, acara ini bukan hanya sebuah peringatan, tetapi sebuah ajakan untuk kembali membaca, memahami, dan merasakan kekuatan kata-kata Pram dalam membangun kesadaran manusia Indonesia.
Karya-karya seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Larasati, hingga Perburuan dihadirkan kembali sebagai cermin perjalanan bangsa—kisah yang mengabadikan keberanian, luka, ketidakadilan, sekaligus daya juang manusia.
Dalam pembukaan, perwakilan Yayasan Pramoedya Ananta Toer, Aditya Ananta Toer, menegaskan nilai kemanusiaan yang tidak lekang dari karya-karya Pram.
“Pram bukan hanya menulis kisah, ia menulis kemanusiaan. Karya-karyanya mengingatkan kita untuk berpikir, melawan ketidakadilan, dan tetap percaya bahwa manusia punya daya untuk mengubah sebuah keadaan yang salah,” ujarnya.
Ia juga mengutip kalimat ikonik dari Anak Semua Bangsa: “Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.”
Acara diskusi yang menjadi inti perayaan ini menghadirkan tiga tokoh lintas bidang yang sama-sama membawa semangat Pram dalam perjalanan kreatif mereka.
Happy Salma, aktris dan pegiat sastra yang dikenal lewat kerja-kerja teaternya, menjelaskan bagaimana karya Pram selalu menjadi sumber inspirasi tentang suara-suara yang ingin didengarkan.
Mike Marjinal, musisi sekaligus aktivis, berbagi perspektif mengenai seni sebagai ruang perlawanan dan pembelaan bagi rakyat kecil—nilai yang selaras dengan semangat perjuangan dalam buku-buku Pram.
Sementara itu, penulis dan pengamat budaya Cris Wibisana mengulas relevansi Pram sebagai cermin intelektual bangsa, terutama dalam konteks ketegangan sosial dan politik hari ini.
Diskusi dipandu oleh jurnalis dan pemerhati budaya, Dianita Kusuma Pertiwi, yang menuntun percakapan mengenai bagaimana karya-karya Pramoedya, yang ditulis puluhan tahun lalu, justru semakin menemukan konteksnya di masa kini.
Dari Minke di Bumi Manusia hingga tokoh-tokoh perempuan seperti Gadis Pantai dan Larasati, seluruhnya dihidupkan kembali melalui dialog yang menggugah.
Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar ruang bertukar pemikiran; ia menjadi panggilan untuk melihat kembali nilai-nilai dasar yang sering terlupakan: keberanian berpikir, kebebasan menentukan sikap, dan cinta terhadap kemanusiaan.
Momentum November, yang dipenuhi refleksi sejarah bangsa, menambah kuat makna acara ini sebagai upaya menegaskan kembali pemikiran Pram bahwa menjadi manusia berarti terus berusaha melawan ketidakadilan.
Yayasan Pramoedya Ananta Toer berharap kegiatan ini dapat memperluas dialog lintas generasi dan memupuk kembali kecintaan terhadap literasi yang membebaskan.
Bahwa di tengah perubahan zaman yang pesat, aksara Pram tetap menjadi obor yang menerangi jalan bagi mereka yang ingin menjadi manusia yang merdeka sepenuhnya—berpikir, merasa, dan bertindak atas dasar cinta dan keberanian.
Dalam narasi panjang sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer telah membangun rumah besar bagi kemanusiaan. Dan melalui acara ini, rumah itu kembali dibuka—mengundang siapa pun untuk masuk, membaca, dan menemukan dirinya. (Z-1)
PEMENTASAN teater ‘Bunga Penutup Abad’ akan menyapa pecinta sastra dan teater tanah air pada 29 - 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Jelang Pertunjukan Teater "Bunga Penutup Abad"
PEMENTASAN teater Bunga Penutup Abad produksi Titimangsa kembali hadir menyapa para pecinta sastra dan teater tanah air memperingati Seadab penulis legendaris Pramoedya Ananta Toer.
Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana mengajak generasi muda untuk menghargai dan mengapresiasi para penulis.
FILM Bumi Manusia adaptasi novel Pramoedya Ananta Toer (Pram) versi panjang, sekitar 5–6 jam, akan tayang di KlikFilm.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved