Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGIAN besar ras anjing modern ternyata masih membawa sedikit DNA serigala. Hal itu karena hasil kawin silang yang terjadi ribuan tahun setelah anjing didomestikasi, menurut penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal PNAS.
DNA serigala ini bukan sisa dari saat anjing dan serigala pertama kali berbeda secara genetis, melainkan berasal dari perkawinan silang yang terjadi beberapa ribu tahun terakhir. Para peneliti menduga pengaruh serigala ini terkait dengan beberapa sifat, termasuk ukuran dan perilaku anjing.
“Anjing adalah teman kita, tetapi ternyata serigala punya peran besar membentuk mereka menjadi sahabat yang kita kenal dan cintai saat ini,” kata Logan Kistler, kurator archaeobotany dan archaeogenomics di Smithsonian National Museum of Natural History, Washington, D.C.
Secara genetis, anjing dan serigala sudah berbeda lebih dari 20.000 tahun lalu. Sejak itu, terjadi aliran genetik antara keduanya berkat kompatibilitas genetis mereka. Untuk memahami sejauh mana campuran ini dan dampaknya, peneliti menganalisis genom dari hampir 2.700 anjing dan serigala, mulai dari era Pleistosen Akhir hingga modern. Data ini mencakup 146 anjing dan serigala kuno, 1.872 anjing modern, serta sekitar 300 “anjing desa” yang hidup dekat manusia namun bukan hewan peliharaan.
Hasil penelitian menunjukkan sedikitnya 264 ras anjing modern memiliki DNA serigala yang diwariskan dari kawin silang sekitar 900 generasi anjing lalu, atau sekitar 2.600 tahun yang lalu. Beberapa anjing bahkan memiliki hingga 40% DNA serigala, meski mayoritas hanya antara 0–5%.
“Sebelum penelitian ini, ilmuwan berpikir agar seekor anjing tetap menjadi anjing, DNA serigala seharusnya sedikit atau tidak ada sama sekali,” kata Audrey Lin, ahli biologi evolusi di American Museum of Natural History, New York.
“Tetapi kami menemukan jika diperiksa dengan cermat, DNA serigala memang ada. Ini menunjukkan genom anjing dapat ‘mentolerir’ DNA serigala hingga tingkat tertentu dan tetap menjadi anjing yang kita kenal.”
Ras anjing seperti Czechoslovakian dan Saarloos wolfdogs menunjukkan tingkat DNA serigala tertinggi, karena memang sengaja dibudidayakan dari persilangan dengan serigala pada abad ke-20. Sementara itu, anjing besar atau ras pekerja, seperti anjing sled Arktik, anjing pemburu, dan beberapa ras penjaga dari Asia Barat dan Tengah, cenderung membawa lebih banyak DNA serigala.
Namun, pola ini tidak selalu berlaku. Beberapa anjing penjaga besar, seperti bullmastiff dan Saint Bernard, tidak menunjukkan DNA serigala, sementara anjing kecil seperti Chihuahua memiliki 0,2% DNA serigala. “Ini masuk akal bagi siapa pun yang memelihara Chihuahua,” kata Lin. “Dan yang kami temukan, ini normal, sebagian besar anjing memang sedikit serigala.”
Semua anjing desa yang diuji juga membawa DNA serigala, yang kemungkinan membantu mereka bertahan hidup. Bagian DNA serigala ini terkait dengan gen reseptor penciuman, yang mungkin meningkatkan kemampuan orientasi dan pencarian makanan.
Beberapa sifat perilaku ras anjing juga berkorelasi dengan jumlah DNA serigala. Ras dengan DNA serigala rendah sering digambarkan “ramah,” “mudah dilatih,” atau “ceria,” sedangkan ras dengan lebih banyak DNA serigala cenderung “waspada terhadap orang asing,” “mandiri,” dan “berwibawa.” Meski begitu, belum diketahui apakah gen serigala langsung memengaruhi sifat-sifat tersebut. (Live Science/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved