Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
STOIKISME atau Stoisisme kembali naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Filsafat kuno ini bukan lagi sekadar ajaran akademis, melainkan telah menjadi panduan praktis dalam menghadapi tekanan hidup sehari-hari.
Bahkan sejumlah tokoh publik, seperti aktris Marissa Anita, turut menyoroti manfaatnya sebagai benteng pertahanan mental untuk mencegah stres hingga depresi.
Stoikisme merupakan aliran filsafat Helenistik yang lahir di Athena, Yunani, pada awal abad ke-3 SM. Filsafat ini didirikan oleh Zeno dari Citium, yang mengajar di Stoa Poikile, teras bercat yang menjadi asal nama “Stoa”.
Filsafat ini berkembang pesat di era Romawi dan dipraktikkan oleh tokoh-tokoh besar seperti:
Inti ajaran Stoikisme menekankan bahwa kebajikan (virtue)—yang terdiri dari kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan kesederhanaan—adalah satu-satunya kebaikan sejati. Ketenangan batin atau ataraxia dicapai dengan hidup selaras dengan alam dan menggunakan penalaran yang sehat.
Prinsip paling terkenal dari Stoikisme adalah membedakan hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang tidak dapat kita kendalikan.
Yang dapat kita kendalikan:
Yang tidak dapat kita kendalikan:
Dengan menerima bahwa dunia penuh ketidakpastian dan tidak semuanya dapat kita kuasai, Stoikisme mengajarkan fokus pada diri sendiri dan mengembangkan ketenangan emosional melalui pengendalian pikiran.
Popularitas Stoikisme di era modern sangat terkait dengan manfaatnya bagi kesehatan mental. Ajaran ini memberi kerangka untuk mengelola emosi negatif seperti kecemasan, kemarahan, dan rasa takut.
Secara psikologis, Stoikisme memiliki kedekatan dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Stoikisme mengajarkan bahwa emosi muncul dari penilaian kita terhadap suatu peristiwa, bukan peristiwa itu sendiri, inti dari teknik CBT.
Beberapa praktik Stoik yang efektif untuk mengelola stres dan depresi:
Mengubah cara pandang terhadap masalah dan menguji rasionalitas pikiran negatif.
Melatih diri membayangkan kemungkinan terburuk untuk mempersiapkan mental. Ketika masalah benar-benar terjadi, dampaknya tidak terlalu menghancurkan.
Mengalihkan energi dari hal-hal di luar kendali ke tindakan yang bisa diambil secara nyata.
Dengan demikian, Stoikisme menjadi alat yang relevan dan mudah diterapkan untuk menjaga stabilitas emosi di tengah tekanan hidup modern. (theconversation.com/halodoc.com/psikologi.esaunggul.ac.id/crcs.ugm.ac.id/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved