Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA musim hujan, kemunculan hewan pengerat seperti tikus biasanya meningkat. Masyarakat diimbau berhati-hati, karena gigitan hewan tersebut dapat memicu penyakit serius. Salah satu penyakit yang ditimbulkan adalah demam gigitan tikus atau rat bite fever (RBF), infeksi bakteri yang berpotensi menimbulkan komplikasi berat bahkan mengancam nyawa apabila tidak segera ditangani.
Apa Itu Demam Gigitan Tikus?
Demam gigitan tikus merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptobacillus moniliformis, banyak ditemukan di Amerika Utara atau Spirillum minus yang lebih umum di Asia. Penularan terjadi melalui gigitan atau cakaran tikus, serta dari makanan atau air yang terkontaminasi urin maupun kotorannya. Penyakit ini tidak menyebar dari manusia ke manusia.
Sebuah ulasan dari Centers for Disease Control and Prevention, menunjukkan RBF lebih sering menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun yang hidup dalam kondisi ekonomi lemah. Kelompok yang memiliki kontak erat dengan tikus, seperti penjaga toko hewan atau petugas laboratorium, juga tercatat memiliki risiko lebih tinggi. Probabilitas terjadinya infeksi setelah gigitan tikus diperkirakan sekitar 10%.
RBF tergolong berbahaya karena dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, termasuk kerusakan tulang serta peradangan pada jantung, otak, dan sumsum tulang belakang. Diperkirakan 7–13% pasien yang tidak mendapat pengobatan berisiko meninggal dunia.
Gejala Demam Gigitan Tikus yang Perlu Diwaspadai
Gejala RBF bergantung pada jenis bakteri yang menginfeksi. Infeksi Streptobacillus moniliformis memiliki masa inkubasi 3-10 hari, dengan gejala berupa demam yang muncul hilang-timbul, ruam di area gigitan, nyeri sendi dan otot terutama di punggung bawah, panas dingin, mual, muntah serta sakit tenggorokan.
Sementara itu, infeksi akibat Spirillum minus dapat sembuh pada area gigitan sebelum gejala muncul. Keluhan biasanya timbul 1-3 minggu setelah paparan, seperti demam menggigil, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, sakit tenggorokan, muntah, peradangan dan bisul di lokasi gigitan, ruam coklat atau ungu, serta pembengkakan kelenjar getah bening.
Penanganan demam gigitan tikus dilakukan dengan pemberian antibiotik. Masa konsumsi obat umumnya berlangsung 7-14 hari, namun dapat diperpanjang hingga empat minggu bila muncul komplikasi.
Cara Mencegah Demam Gigitan Tikus
Pencegahan utama adalah menghindari kontak langsung dengan tikus dan lingkungan yang rawan hewan pengerat. Bagi pemilik tikus peliharaan atau pekerja toko hewan, beberapa langkah yang disarankan antara lain:
1. Tidak menyentuh wajah dan mulut setelah memegang tikus, serta mencuci tangan setelah memberi makan, membersihkan kandang, atau melakukan kontak langsung lainnya.
2. Menggunakan sarung tangan saat memegang tikus.
3. Menghindari bermain terlalu dekat, seperti mencium atau mendekatkan hewan ke wajah.
4. Tidak makan, minum, atau merokok saat memegang tikus.
Pekerja laboratorium disarankan mengenakan perlengkapan pelindung, mengikuti prosedur keselamatan, serta mencuci tangan dengan sabun dan air hangat selama 20 detik setelah menangani hewan.
Pada musim hujan, masyarakat dianjurkan memakai sepatu boots saat bepergian untuk mengurangi risiko gigitan atau kontak dengan urin dan kotoran tikus. Hindari makan di tempat yang tidak terjamin kebersihannya. Bila seseorang digigit atau dicakar tikus, luka harus segera dibersihkan dengan sabun dan air hangat. Pemeriksaan medis perlu dilakukan untuk mendapatkan perawatan guna mencegah risiko demam gigitan tikus. (Medical News Today/M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved