Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Studi 10.000 Autopsi Laut Ungkap Ambang Mematikan Plastik bagi Satwa Laut

Thalatie K Yani
18/11/2025 07:56
Studi 10.000 Autopsi Laut Ungkap Ambang Mematikan Plastik bagi Satwa Laut
Ilustrasi(RAPP Official)

PARA ilmuwan menganalisis 10.000 hasil autopsi satwa laut untuk memahami bagaimana plastik yang tertelan dapat menyebabkan kematian. Studi ini mengungkap ambang bahaya yang berbeda-beda pada kelompok hewan laut, sekaligus menyoroti betapa sedikitnya jumlah plastik yang diperlukan untuk memicu risiko fatal.

Hasil penelitian menunjukkan seabird berada pada tingkat bahaya tertinggi. Menelan sekitar 23 potongan plastik saja membuat mereka memiliki peluang 90% untuk mati. Pada mamalia laut, risiko serupa muncul setelah menelan sekitar 29 potongan, sementara penyu mencapai ambang mematikan pada sekitar 405 potongan plastik.

Para peneliti menyatakan mereka terkejut melihat betapa kecilnya jumlah plastik yang dapat berakibat fatal. Untuk mamalia laut seperti lumba-lumba, volume plastik yang tidak lebih besar dari sebuah bola sepak dapat mematikan. Bagi seabird, beberapa potongan karet seukuran kacang polong saja bisa berakibat fatal.

“Ini adalah pengingat yang sangat penting bahwa polusi plastik memang menimbulkan ancaman eksistensial terhadap satwa liar laut,” kata peneliti utama, Dr Erin Murphy dari Ocean Conservancy, organisasi lingkungan yang berbasis di Amerika Serikat.

Analisis ini menggunakan data autopsi dari seabird, penyu, dan mamalia laut seperti anjing laut, singa laut, serta lumba-lumba, yang dikumpulkan dari berbagai belahan dunia. Hampir separuh penyu, sepertiga seabird, dan satu dari sepuluh mamalia laut ditemukan telah menelan plastik.

Peneliti juga memperkirakan tingkat risiko kematian berdasarkan jenis plastik yang tertelan. Temuan menunjukkan jenis plastik berperan besar dalam tingkat bahaya, karet menjadi ancaman terbesar bagi seabird, plastik lunak dan puing-puing alat tangkap paling berbahaya bagi mamalia laut, sementara penyu terancam oleh plastik keras maupun lunak.

Penelitian ini hanya menilai plastik yang ditemukan dalam perut hewan, tanpa memasukkan dampak kimia atau risiko terlilit plastik. Dengan demikian, peneliti menyimpulkan skala sebenarnya dari ancaman plastik kemungkinan jauh lebih besar.

Ratusan spesies laut diketahui pernah ditemukan dengan plastik di tubuhnya. Burung laut kerap menelan potongan plastik kecil, sementara penyu sering salah mengira kantong plastik sebagai ubur-ubur. Namun hingga kini, belum ada data rinci mengenai seberapa banyak plastik yang mematikan bagi hewan dengan ukuran tubuh berbeda.

Dr Murphy menegaskan perlunya tindakan global untuk memutus rantai polusi plastik. “Untuk mengatasi polusi plastik secara efektif, sains sudah jelas. Kita perlu mengurangi jumlah plastik yang kita hasilkan, meningkatkan pengumpulan dan daur ulang, serta membersihkan apa yang sudah ada.,” ujarnya. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya