Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru dari University of California, San Francisco (UCSF) menunjukkan obat berbasis LSD bernama MM120 memberikan hasil signifikan dalam meredakan gejala generalized anxiety disorder (GAD) atau gangguan kecemasan umum. Obat ini dinilai lebih efektif dibanding terapi dan obat konvensional yang selama ini banyak digunakan.
Gangguan kecemasan umum memengaruhi sekitar satu dari 20 orang dewasa di Amerika Serikat. Penderita sering kali terjebak dalam lingkaran rasa takut, kewaspadaan berlebih, dan isolasi sosial yang membuat kehidupan sehari-hari terasa berat. Banyak di antara mereka kesulitan bekerja, berinteraksi, atau bahkan meninggalkan rumah.
Menurut Jennifer Mitchell, PhD, ahli saraf dari UCSF, pengobatan konvensional seperti Zoloft atau Paxil sering kali tidak memberikan perbaikan berarti. “Kami melihat terapi yang ada hanya mampu menurunkan gejala rata-rata sekitar 1,25 poin pada skala kecemasan, hasil yang tidak cukup signifikan bagi banyak pasien,” jelasnya.
Mitchell dan timnya meneliti MM120, bentuk farmasi dari LSD yang diformulasikan secara khusus. Obat ini bekerja dengan meningkatkan neuroplasticity atau kemampuan otak beradaptasi dan membentuk koneksi baru. “MM120 membantu mengubah pola pikir kaku yang sering menjadi dasar gangguan kecemasan,” ujar Mitchell.
Dalam uji klinis yang dipublikasikan di jurnal JAMA, sekitar 200 peserta dengan tingkat kecemasan sedang hingga berat menerima satu dosis MM120. Selama 12 minggu pemantauan, obat ini mampu mengurangi gejala sebesar lima hingga enam poin lebih banyak dibanding plasebo. “Hasil ini cukup signifikan dan dalam beberapa kasus mampu menurunkan klasifikasi kecemasan dari tingkat sedang menjadi ringan,” katanya.
Para peserta dipantau secara intensif setelah pemberian dosis. Efek samping yang muncul umumnya ringan hingga sedang, termasuk halusinasi, gangguan visual, mual, dan sakit kepala. “Efek tersebut lebih sering terjadi pada dosis tertinggi, namun kami tidak lagi menggunakannya karena tidak memberikan manfaat tambahan,” kata Mitchell.
Tim peneliti juga melakukan tindakan pencegahan, seperti memberi sarapan ringan dan obat anti-mual untuk mengurangi ketidaknyamanan.
Mitchell mengakui bahwa mencari peserta penelitian menjadi tantangan tersendiri. “Kami membutuhkan individu dengan gejala kecemasan sedang hingga berat, ironisnya, mereka yang paling membutuhkan justru paling sulit datang ke pusat penelitian,” ujarnya. Tim klinis berusaha membangun kepercayaan dan hubungan empatik agar peserta merasa aman dan terbuka selama proses penelitian.
Penemuan ini memberi harapan baru bagi jutaan penderita gangguan kecemasan yang selama ini tidak mendapatkan hasil optimal dari pengobatan konvensional. (Science Daily/Z-2)
Penelitian UC Davis menemukan kadar kolin otak 8% lebih rendah pada penderita gangguan kecemasan. Temuan ini membuka kemungkinan pendekatan nutrisi untuk membantu keseimbangan kimia otak.
Data Survei Kesehatan Nasional (SKI) tahun 2023 menunjukkan sekitar 2% penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami masalah kesehatan mental.
Penelitian University of Georgia ungkap pola asuh ayah dan ibu memengaruhi kecemasan sosial remaja.
Studi ungkap 1 dari 8 ibu alami kecemasan pascapersalinan (PPA). Kenali gejala, risikonya, dan pentingnya dukungan mental setelah melahirkan.
Uji klinis terbaru di JAMA menunjukkan satu dosis LSD 100 mikrogram mampu meredakan gangguan kecemasan hingga tiga bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved