Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
WORKSHOP pasca-kursus “Promoting Inclusive Leadership in STEM” yang digelar pada 16-17 September 2025 di Jakarta menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem STEM di Indonesia. Kegiatan ini melanjutkan kursus intensif dua minggu di Australia yang diadakan oleh KONEKSI, Australia Awards Indonesia (AAI), dan University of Queensland.
Sebanyak 25 profesional dari berbagai sektor, seperti pemerintah, akademisi, swasta, dan organisasi non-profit, mengikuti program ini untuk memperdalam pemahaman tentang kepemimpinan inklusif, kebijakan, pemetaan pemangku kepentingan, dan systems thinking di bidang STEM.
Dalam sesi talkshow bertajuk “From Vision to Transformation: Advancing Inclusive Leadership in Indonesia’s STEM Ecosystem”, Dr. Stephanie Riady, Executive Director Pelita Harapan Group (PHG) sekaligus Presiden Universitas Pelita Harapan (UPH) dan inisiator Gerakan STEM Indonesia Cerdas 2025–2027, menjadi salah satu narasumber yang menekankan pentingnya transformasi pendidikan STEM melalui kolaborasi lintas sektor dan data.
Menurut Dr. Stephanie, kemitraan publik-swasta (PPP) serta kolaborasi internasional penting dilakukan untuk menjembatani kesenjangan STEM di Indonesia. Saat ini, hanya 14% siswa sekolah menengah yang mengambil program sains, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 22%. Selain itu, skor Programme for International Student Assessment (PISA) sains Indonesia (366) masih berada di posisi terendah di kawasan Asia Tenggara.
“Melalui kolaborasi dan kemitraan, sektor swasta dapat membawa teknologi, investasi, serta model pembelajaran berbasis industri yang relevan bagi siswa. Contoh nyatanya adalah Applied Science Academy di Sekolah Pelita Harapan, di mana siswa mampu menghasilkan 87 proyek riset orisinal, sebagian bahkan dipublikasikan di jurnal internasional,” jelas Dr. Stephanie.
Lebih jauh, kolaborasi internasional memungkinkan Indonesia belajar dari negara-negara seperti Singapura dan Vietnam yang berhasil meningkatkan ekosistem STEM melalui pendekatan multipemangku kepentingan.
Dr. Stephanie juga menyoroti perlunya pendekatan berbasis data dalam mengatasi ketimpangan. Pemotongan anggaran kualitas pengajaran dari IDR 12 triliun menjadi IDR 7 triliun, misalnya, harus dimetakan dampaknya secara spesifik terhadap STEM.
“Fakta bahwa hanya 55% guru sains yang memenuhi standar kompetensi minimum menunjukkan pentingnya basis data nasional. Dengan demikian, pengembangan profesional guru bisa lebih tepat sasaran,” tambahnya.
Menurut Dr. Stephanie, keberhasilan kolaborasi dalam STEM turut bergantung pada kerangka kebijakan yang jelas, transparansi, serta pemberdayaan guru. “Tanpa dukungan nyata untuk guru, kebijakan dan investasi tidak akan berjalan optimal. Guru adalah agen utama yang akan menerjemahkan visi ke dalam praktik pembelajaran,” tegasnya.
Namun, tantangannya selalu ada, diantaranya adalah ketimpangan antara fasilitas di sekolah yang ada di perkotaan dan pedesaan, kurikulum yang belum selaras dengan kebutuhan industri, hingga ketidakstabilan pendanaan.
Dr. Stephanie menekankan bahwa perubahan terbesar dalam lima tahun ke depan adalah revolusi kapasitas guru. Pelatihan berkelanjutan berbasis proyek, interdisipliner, dan digital perlu dilakukan guna memastikan inklusivitas serta kesiapan guru dalam membekali siswa-siswanya dengan keterampilan abad ke-21.
“Inovasi seperti makerspace dan STEM kits tidak boleh hanya dinikmati sekolah elit, tetapi juga harus menjangkau sekolah-sekolah di daerah. Di situlah kunci mempercepat diwujudkannya poin SDG nomor 4 dan membangun generasi yang siap menghadapi ekonomi berbasis pengetahuan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari PHG, UPH berperan aktif mendukung agenda STEM nasional. UPH menawarkan program studi yang berfokus pada teknologi dan inovasi, serta secara konsisten menghasilkan publikasi internasional di bidang rekayasa, teknologi industri 4.0, dan life sciences melalui LPPM. UPH juga memanfaatkan hibah penelitian nasional untuk menghasilkan karya yang relevan bagi masyarakat. Fasilitas seperti Smart Classroom dan Laboratorium Internet of Things mendukung pembelajaran hybrid dan berbasis proyek sesuai tuntutan era digital.
Dengan kekuatan akademik, riset, fasilitas, metode pendidikan transformasional, dan jejaring internasional, UPH berperan sebagai katalisator transformasi STEM di Indonesia. UPH berkomitmen mencetak pemimpin masa depan yang kompeten dan profesional. Setiap inovasi dan kolaborasi STEM yang diinisiasi UPH bertujuan memperluas akses dan membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berdampak nyata bagi bangsa. (RO/Z-10)
Mahasiswa berkolaborasi dan menunjukkan minat serta bakat yang Tuhan anugerahkan. Karenanya, mahasiswa diajak untuk bertumbuh melalui pendidikan yang holistis.
Inisiatif FK UPH ini selain untuk membuka akses yang lebih luas bagi pendidikan dokter spesialis, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu bagi masyarakat.
DUNIA perkuliahan bukan hanya soal menuntut ilmu, tetapi juga perjalanan penting dalam menemukan jati diri. Mahasiswa diajak untuk mencari kebenaran di tempat yang tepat.
Universitas Pelita Harapan (UPH) siap mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045 lewat 69 program studi unggulan, fakultas AI dan Kedokteran Gigi terbaru, serta jejaring global.
HIDUP kita perlu memiliki impian besar, tetapi jangan takut untuk memulai dari hal-hal kecil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved