Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebagai seorang ayah, menafkahi anak adalah kewajiban suci yang tidak bisa diabaikan. Namun, apa jadinya jika seorang ayah lalai dalam tanggung jawab ini?
Sindiran pedas tentang azab ayah yang tidak menafkahi anaknya menjadi pengingat keras akan konsekuensi dunia dan akhirat. Dalam Islam, kewajiban menafkahi anak diatur jelas dalam Al-Qur’an dan hadits.
Artikel ini akan membahasnya dengan bahasa sederhana dan dalil yang kuat.
Baca juga: Suara Ayam Berkokok Tengah Malam Arti dan Doa yang Dipanjatkan
Dalam Islam, ayah adalah penanggung jawab utama untuk memenuhi kebutuhan anak, termasuk sandang, pangan, dan pendidikan. Ini bukan sekadar tugas, tetapi amanah dari Allah SWT.
Seorang ayah yang mengabaikan kewajiban ini tidak hanya menyengsarakan anaknya, tetapi juga menarik murka Allah. Sindiran pedas azab ayah yang tidak menafkahi anaknya sering muncul untuk menyadarkan mereka yang lalai.
Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan kewajiban menafkahi keluarga, termasuk anak. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 233, Allah berfirman:
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Transliterasi: Wa ‘alaa al-mawluudi lahu rizquhunna wa kiswatuhunna bil-ma’ruuf
Artinya: Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. (QS. Al-Baqarah: 233)
Ayat ini menegaskan bahwa ayah wajib memberikan nafkah dengan cara yang baik. Mengabaikan kewajiban ini adalah dosa besar yang bisa mendatangkan azab.
Baca juga: Doa agar Suami Tunduk dan Nurut Perkataan Istri paling Mustajab
Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya menafkahi keluarga dalam sebuah hadits shahih:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
Transliterasi: Kafaa bil-mar’i itsman an yudhayyi’a man yaquut
Artinya: Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang wajib ia nafkahi. (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menjadi sindiran pedas bagi ayah yang tidak menafkahi anaknya. Menelantarkan anak bukan hanya dosa, tetapi juga tanda lemahnya iman.
Baca juga: Doa untuk Orang yang Menzalimi Kita Memohon Kebaikan dengan Hati Ikhlas
Ayah yang tidak menafkahi anaknya akan menghadapi konsekuensi di dunia dan akhirat. Di dunia, anak-anak yang terlantar bisa tumbuh dengan luka batin, kehilangan kepercayaan, dan kesulitan hidup. Ini adalah beban berat bagi sang ayah.
Di akhirat, azab yang lebih pedih menanti, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 10:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
Transliterasi: Innal-ladziina ya’kuluuna amwaalal yataamaa zhulman innamaa ya’kuluuna fii butuunihim naaraa, wa sayashlauna sa’iiraa
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka menelan api ke dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. (QS. An-Nisa: 10)
Meski ayat ini berbicara tentang harta anak yatim, prinsipnya juga berlaku untuk ayah yang sengaja tidak memberikan nafkah kepada anaknya. Ini adalah peringatan keras bahwa azab Allah tidak main-main.
Baca juga: Doa Setelah Mandi Wajib Pria Bacaan Arab, Latin, dan Terjemahan Lengkap
Seorang ayah yang tidak menafkahi anaknya sering kali merasa dirinya bebas dari tanggung jawab. Namun, sindiran pedas azab ayah yang tidak menafkahi anaknya mengingatkan bahwa Allah Maha Melihat.
Setiap tetes keringat anak yang kelaparan, setiap air mata anak yang terlantar, akan menjadi bukti di hadapan Allah. Bukankah lebih baik berusaha keras demi anak daripada menanggung malu di dunia dan azab di akhirat?
Baca juga: 20 Doa untuk Diri Sendiri Mohon Kebaikan Dunia dan Akhirat
Untuk menghindari azab, seorang ayah harus berusaha memenuhi kebutuhan anak dengan ikhlas. Berikut beberapa langkah sederhana:
Baca juga: Doa Mustajab Membakar dan Mengusir Jin Praktik Spiritual
Sindiran pedas azab ayah yang tidak menafkahi anaknya adalah pengingat bahwa tanggung jawab ayah bukanlah hal sepele. Al-Qur’an dan hadits dengan jelas menunjukkan betapa seriusnya kewajiban ini.
Jangan sampai kelalaian duniawi membawa azab abadi. Mari jadilah ayah yang bertanggung jawab, karena anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved